Setelah mendapatkan banyak bukti mengenai kedatangan Theo yang ternyata memakai tidak hanya satu mobil, melainkan hampir puluhan mobil memenuhi jalanan ternyata hanya untuk mengecoh para polisi.
Tentu saja hal tersebut membuat Lizian semakin percaya bahwa selama ini Theo telah melakukan semua rencananya secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun. Namun, tidak ada yang menyangka ternyata lelaki itu telah memiliki rencana cukup besar dengan memenuhi jalanan hanya berisikan mobil pengikut LUCA.
Kejadian tidak masuk akal itu pun dirasakan oleh Rafif yang sama sekali tidak menduga bahwa Theo akan melakukan sesuatu di belakangnya. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa Theo masih berusaha mencari tangan kanan sekaligus paman dari Rafif yang sampai hari ini belum ditemukan.
“Raf, gue yakin akan ada sesuatu yang besar terjadi,” ucap Lizian mendudukkan diri sembari membawa empat botol minuman segar yang baru saja diambil dari lemari pendingin.
“Semalam gue enggak datang karena ada acara di Rainbow Night Club sekaligus seharian ini Reni benar-benar menempel sama gue, jadi waktu untuk mengunjungi lo agak berkurang. Bahkan malam ini gue ada niatan untuk mengajak Reni makan malam,” balas Rafif tersenyum senang membayangkan Reni begitu manja pada dirinya.
Akan tetapi, sayang sekali Rafif memiliki banyak pekerjaan sehingga tidak bisa meladeni sikap manja kekasihnya. Dan sekarang, untuk menebus semua kejadian siang tadi, Rafif berencana untuk memberikan kejutan tepat di hari jadian mereka.
“Lo serius sama Reni, Raf?” tanya Lizian menatap penuh.
“Jelas gue serius sama dia. Karena Reni berbeda daripada kakaknya dan Theo. Jadi, enggak ada alasan apa pun yang membuat gue harus menjauh dari dia,” jawab Rafif begitu percaya diri.
“Iya, gue paham kalau Reni benar-benar tulus menyukai lo. Tapi, Raf, semakin lo memperlihatkan rasa suka, maka akan ada orang-orang yang mungkin enggak suka sama sikap lo ini. Mungkin aja, sebab ini hanya persepsi gue agar lo bisa menahan diri dan tidak terlalu menggebu-gebu. Kasihan dengan Reni. Dia akan memiliki banyak tekanan semakin lo memperlihatkan hubungan dengan jelas,” tutur Lizian masuk akal.
Perkataan tersebut sukses membuat Rafif terdiam membisu. Ia tidak mengatakan apa pun, selain memikirkan semua omongan sahabatnya yang ternyata sedikit benar. Bahkan ia terlalu memikirkan senangnya jatuh cinta tanpa memedulikan banyak sekali rintangan yang mungkin akan keduanya hadapi, termasuk Vesenia.
“Kalau ada seorang wanita lain yang suka sama gue secara terang-terangan, gimana, Zian?” tanya Rafif meminta pendapat pada sahabatnya yang lumayan ahli dalam membaca perasaan seseorang.
“Jelas gue akan berusaha untuk menyingkirkan orang tersebut,” jawab Zian tersenyum miring. “Setelah gue cukup puas ketidakberadaan dia di sisi gue maupun lo, maka gue baru bisa bernapas tenang. Tapi, ada dua kemungkinan yang terjadi dalam menyingkirkan orang tersebut, yaitu melenyapkannya atau membuat dia pergi jauh-jauh dari hidup lo dengan cara cukup ekstrem.”
Rafif mengernyit bingung. “Ekstrem yang bagaimana?”
“Entahlah, gue cuma tahu enggak terlalu spesifik, tapi dari berbagai macam kejadian lo harus waspada. Apalagi Reni bekerja di dunia gelap yang bahaya akan datang kapan pun. Jadi, sebisa mungkin lo harus tetap mengawasi dia,” jawab Lizian meringis pelan.
Sebenarnya Lizian bukan tidak bisa memberi tahu semua yang telah menjadi ketakutannya selama ini. Sebab, ia hanya tidak ingin membuat Rafif merasa bahwa dirinya sendiri membawa petaka bagi Reni. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa wanita itu lambat laun akan mendapatkan masalah akibat kedekatannya bersama Rafif.
Sementara itu, di sisi lain seorang wanita tengah mematut dirinya sendiri di depan cermin cukup besar yang menampilkan wajah cantik dengan make up natural menghias manis. Reni tersenyum tipis melihat perbedaan yang ada pada dirinya ketika dekat dengan seorang lelaki seperti Rafif.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Reni sangat bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang Rafif yang begitu gentlemen dalam memperlakukan dirinya. Sehingga hal tersebut membuat Reni diam-diam tersenyum senang.
Malam ini akan menjadi malam yang begitu indah bagi Reni. Selain dirinya yang akan diajak makan malam, ternyata ia baru saja mendapat pemberitahuan bahwa klub malam kelolaannya akan mendapatkan konser dari salah satu DJ terkenal dari China.
Membuat seorang wanita cantik berpakaian gaun merah dipadukan dengan sepatu boot semata kaki dihiasi wedges pada bagian belakangnya agar tidak terlalu menyulitkan. Kemudian, Reni mengembuskan napasnya panjang menatap jam dinding yang ada di kamarnya.
Setelah melakukan penyemprotan parfum yang tidak terlalu banyak, Reni pun siap menuju salah satu restoran terkenal dan sudah diberi tahu Rafif bahwa lelaki tersebut sudah berada di sana menunggu dirinya dengan tenang.
Reni mengendarai mobil mewahnya menuju salah satu restoran yang belum lama ini ia ketahui. Hanya saja terkadang Reni melupakan dirinya sendiri sebagai wanita karir cemerlang yang menyukai seorang polisi berbakat.
Saat Reni hendak membelokkan kendaraannya sesuai dengan instruksi yang ada pada layar monitor tiba-tiba berubah secara mendadak, lalu meninggalkan halaman yang awalnya menjadi pusat perhatian.
“Halo, Kak! Ada apa?” sapa Reni sembari mengenakan sepasang earphone di telinganya, lalu kembali fokus menatap jalanan lurus.
“Lo di mana? Cepat datang ke klub. Ada sesuatu hal yang harus lo lihat secara langsung,” jawab Vesenia mengembuskan napasnya panjang.
Sontak hal tersebut membuat Reni mengernyit tidak percaya membuat wanita itu sejenak menepikan mobilnya agar tidak mengakibatkan kelalaian berkendara yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
“Apa yang terjadi, Kak?” tanya Reni bingung sekaligus tidak percaya. Pasalnya tepat Reni sebelum memutuskan untuk menyetujui ajakan Rafif, jelas ia sudah mengerjakan semua masalah klub agar tidak menganggu dirinya ketika sedang menikmati waktu seperti ini.
“Gue enggak tahu masalahnya apa, jadi lo harus segera ke sini sekarang!” jawab Vesenia penuh penekanan.
Sejenak Reni terdiam memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika sudah berjanji bertemu dengan Rafif, tetapi dirinya malah kembali lagi ke klub. Jelas perjalanan akan memakan banyak waktu ketika dirinya memutuskan untuk pergi pada dua tempat sekaligus.
“Gue ... gue ada janjian sama Rafif, Kak. Bagaimana kalau lo yang menggantikan gue dulu? Lagi pula klub itu juga milik lo, sedangkan gue hanya menjalankan ketika lo enggak ada. Jadi, sekarang karena lo ada, bisakah bantu gue sebentar aja,” tolak Reni meringis pelan. Ia hampir tidak pernah sekalipun memerintah Vesenia, tetapi kali ini dirinya benar-benar tidak bisa melakukan banyak hal, selain memprioritaskan seseorang yang penting bagi dirinya.