Tepat selesai makan siang, Lizian dan Hafa kembali ke ruangan untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Gadis itu tampak memandangi buku tamu dengan ekspresi datar sekaligus penuh tanpa terusik sama sekali akan pergerakan menyebalkan dari Lizian yang beberapa kali menjatuhkan semua barang di atas meja.
Lama-kelamaan pergerakan itu pun membuat Hafa mengembuskan napasnya kasar, lalu mendelik tajam pada Lizian yang meringis pelan sembari membersihkan seluruh mejanya dari berkas tidak terpakai.
“Zian, lo benar-benar enggak bisa diam, ya. Gue terganggu dengan semua barang-barang lo itu. Kalau bisa, lebih baik lo di bawah ataupun ruang pertemuan untuk mengumpulkan semua bukti agar lebi cepat. Karena percuma aja lo di atas meja, tapi kecampur lagi sama yang berkas penting,” usul Hafa tersenyum paksa sembari menyatukan seluruh berkasnya, lalu berpindah tempat pada sofa yang berada di ruangan tersebut.
Sedangkan Lizian yang mendengar usulan tersebut pun hanya mengembuskan napasnya panjang dan memunguti satu per satu berkas tersebut. Ia sedikit merutuki dirinya sendiri yang begitu ceroboh sampai tercampur kembali pada berkas pilihannya sendiri.
“Fa, kalau lo enggak sibuk coba ke ruang pemantau lalu lintas. Coba selidiki mobil yang dipakai Theo. Karena gue curiga dia ngerubah semua yang berhubungan dengan LUCA. Karena ada beberapa bukti penemuan yang membuat gue curiga,” ucap Lizian menyembulkan kepalanya menatap seorang gadis yang duduk di sofa dengan meluruskan kedua kakinya pada sandaran sofa.
Mendengar hal tersebut, Hafa mengernyitkan keningnya bingung dan bertanya, “Kenapa lo mendadak curiga, Zian? Bukannya jauh lebih mudah kalau dia mendadak memutuskan hubungan karena dengan begitu kita bisa menyelidiki LUCA tanpa khawatir akan dilacak kembali oleh Theo.”
“Maka dari itu, gue tahu masalah ini dengan begitu paham, jadi gue pengen nyelidiki dari hal-hal yang mungkin sama sekali enggak terpikirkan sama sekali,” balas Lizian masuk akal.
Seketika Hafa menegakkan tubuhnya, lalu menatap Lizian dengan mata yang melebar sempurna. Kemudian, gadis itu pun menaruh kembali berkas yang ada di tangannya dan melenggang pergi tanpa mengatakan apa pun.
Sementara itu, Lizian yang melihat semangat Hafa untuk menyelidiki kasus LUCA pun menggeleng tidak percaya. Terkadang gadis itu benar-benar tidak ditebak sama sekali, mungkin karena alasan tersebut yang membuat Hafa menjadi satu-satunya personil polisi wajib diperhatikan lebih. Sebab, diam-diam gadis itu bisa bertindak di luar dugaan.
Akan tetapi, semua dugaan tersebut belum menghampiri Lizian membuat lelaki itu sedikit merasa lega. Karena Hafa masih mendengarkan semua instruksinya tanpa memutuskan secara sepihak. Membuat gadis itu terkadang meminta persetujuan Lizian untuk melakukan banyak hal.
Memang tidak banyak Hafa lakukan, sebab gadis itu akan terlibat dengan sekelompok kriminal yang kejahatannya tidak bisa dianggap sebagai permaianan. Benar-benar berbahaya dan tidak ada polisi mana pun berani menentangnya, selain Lizian.
Tentu saja para polisi yang tidak berani menentang tersebut sudah disuap dengan banyak kekuasaan membuat mereka semua berada di bawah kendali LUCA dan tidak bisa berbuat banyak hal, selain menuruti semua permintaan Theo. Tanpa membantahnya sama sekali.
Langkah kaki Hafa bergerak dengan seirama menuju salah satu ruangan yang tidak terlalu banyak orang, karena ruangan pemantau jelas tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Harus benar-benar orang dalam dan pernah bekerja di sana.
“Lho, Hafa, tumben mampir ke sini!” sapa seorang lelaki tampan yang membawa beberapa cemilan di tangannya dari luar.
Hafa menoleh dan tersenyum paksa, lalu membalas, “Iya, Bang. Mau minta bantuan.”
“Bantuan apa?” sahut lelaki berkacamata hitam yang duduk di pojok ruangan sembari menikmati cemilannya.
“Bisa minta tolong buat cari mobil dengan nomor seri ini,” pinta Hafa menatap polos pada beberapa lelaki yang saling berpandangan.
Namun, saat Hafa hendak menyerah tiba-tiba seorang lelaki datang menyambut nomor yang telah dituliskan oleh Hafa. Gadis yang biasanya terlihat santai itu pun mengubah cara ekspresi agar tidak diliat terlalu terkejut akan kehadiran lelaki tersebut.
“Biar gue aja, kalian semuanya lanjut bekerja lagi karena sore ini akan ada pelaporan semua kasus jadi jangan harap kita bisa bersantai walaupun seorang diri di dalam segala keberhasilannya dalam melakukan banyak hal,” sahut seorang lelaki tampan yang terlihat dekat dengan Hafa sampai gadis itu tidak lagi canggung.
“Iya enggak apa-apa juga, Bang. Gue juga paham masalah ini tidak sebenarnya menarik banyak hal sampai Theo sedikit mencemaskan identitasnya sendiri yang tidak memiliki sistem pengoperasiannya memakan waktu lama,” balas Hafa meringis identitasnya yang terlalu sedikit saat mencoba menyelidikinya sendiri.
Setelah itu, Hafa dan seorang lelaki tampan masuk ke sebuah ruangan yang terlihat rapi dan tersusun begitu indah. Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu tampak empat monitor cukup besar tersusun secara rapi, dua atas dan dua lagi di bawah membentuk sebuah kotak yang hanya berisikan monitor.
“Lo nyelidikin Pimpinan Vald untuk apa, Fa?” tanya Rafandi melepaskan rompi polisi lalu lintas. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang memantau jalan raya agar tetap berada di bawah kendali dan tidak terjadi kecelakaan lalu lintas.
Hafa sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Rafandi. Keduanya memang saling mengenal karena lulus dari SMA yang sama, tetapi setelah lulus baik Hafa maupun Rafandi tidak pernah bertegur sapa. Keduanya memang saling mengenal, dan memilih untuk berjauhan. Mengingat pekerjaan mereka berdua yang berbeda sekaligus menjaga rahasia departemen satu sama lain.
“Lo tahu sendiri, ‘kan? Kalau gue dipindahtugaskan ke bagian Departemen Penyelidikan dan Kriminal, jadi mau enggak mau gue langsung berkaitan dengan masalah ini,” jawab Hafa mengembuskan napasnya panjang sembari menduduki tepi meja kosong tak berpenghuni, hanya berisikan beberapa berkas yang terlihat tidak penting.
“Oh, gue tahu! Lo yang jadi penggantinya Bang Rafif?” Rafandi mengangguk beberapa kali sembari memulai komputer miliknya yang mati akibat tidak terpakai membuat lelaki itu menunggu sesaat sampai semua sistem bekerja dengan baik tanpa menyebabkan sedikit masalah apa pun.
“Iya, benar. Sampai hari ini Bang Rafif belum ditemukan sampai gue curiga kalau dia sebenarnya udah ketemu, tapi sengaja menyembunyikan diri dari khalayak umum untuk mencapai tujuannya sendiri,” timpal Hafa mengangguk beberapa kali, lalu mulai memperhatikan jemari Rafandi yang mulai menari-nari di atas keyboard.
Dua polisi berbeda yang sempat berjauhan itu pun mulai dekat kembali. Keduanya sudah tidak lagi canggung dengan beberapa kali Hafa tampak memerintah Rafandi untuk menggerakkan gambar sesuai instruksi dari dirinya.
Tentu saja Rafandi tidak memberikan bentuk protesan apa pun. Lelaki itu tetap tenang dengan segala kemampuannya dalam mengoperasikan sistem komputer yang menunjukkan layar perjalanan nomor seri dari kertas milik Hafa.
“Pimpinan Vald benar-benar cerdik,” puji Rafandi menggeleng tidak percaya sembari menatap Hafa yang berada di sampingnya.