Keberanian Ell memang patut diacungi jempol. Nyatanya lelaki itu benar-benar memberanikan diri dalam meminta izin atas nama Rafif membuat Ell benar-benar membuat Rafif bisa bersantai sehari penuh.
Namun, Rafif yang tidak ingin dianggap sebagai rekan kerja memiliki kesombongan penuh. Lelaki itu tetap saja berada di pabrik, meski tidak melakukan banyak hal. Karena di ruangannya masih ada Reni yang tetap setia menunggu.
Entah kenapa Rafif merasa sedikit aneh dengan sikap Reni sejak semalam. Atau mungkin hanya perasaannya saja yang terlalu rindu sekaligus menyesuaikan diri sudah memiliki sang kekasih.
“Reni, apa kamu yakin tidak ingin kembali ke aparteen?” tanya Rafif memeluk tubuh sang kekasih dari belakang saat mendapati Reni tengah menatap jendela ruang kerjanya yang memperlihatkan sisi pabrik dipenuhi oleh hamparan tanah lapang dengan bertumbuhkan alang-alang liar dan rerumputan cukup besar.
“Tidak, sayang. Aku ingin berada di sini bersamamu. Lagi pula kamu memang tidak bekerja, ‘kan? Berterima kasihlah pada Ell yang memberanikan diri mengatakan hal seperti ini pada Pimpinan Vald,” jawab Reni tertawa pelan sembari mengusap tangan sang kekasih dengan lembut yang berada tepat di depan perut rata miliknya.
“Iya, iya. Aku sangat berterima kasih pada dia yang begitu bekerja keras semalam.” Rafif mengangguk beberapa kali, lalu memutar tubuh sang kekasih hingga menghadap pada dirinya. “Sekarang kamu harus kembali ke apartemen, Reni. Nanti malam aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jadi, jangan membuat diriku merasa bersalah akan kelelahanmu hari ini.”
Sejenak Reni memegang pundak sang kekasih dengan penuh, lalu tersenyum senang. “Ke mana? Aku tidak tahu kamu merencanakan sesuatu.”
“Rahasia,” jawab Rafif mencuri ciuman singkat dari bibir sang kekasih.
Reni menyipitkan matanya penuh selidiki, lalu membalas, “Jangan menggodaku, Tuan Rafif. Harap jaga sikap kepada atasanmu. Walau bagaimanapun juga aku adalah adik ipar Pimpinan Vald.”
Alis tebal nan memikat itu pun terangkat menarik sembari menyunggingkan senyuman miring yang nyatanya terlihat tampan. Rafif sama sekali tidak menduga dirinya akan menyukai seorang wanita dari musuh bebuyutannya sendiri. Namun, asal wanita itu tidak ada kaitannya dengan p*********n Keluarga Osm, jelas Rafif bisa membedakan dengan pasti.
Setelah itu, Reni yang menurut untuk segera kembali ke apartemen pun mulai melenggang pergi. Hanya saja saat Rafif hendak mengantar tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan Theo. Lelaki tampan itu memang datang tepat ketika acara pesta selesai pada pukul 4.00 am.
“Reni, kamu ingin ke mana?” tanya Theo mengernyit bingung mendapati seorang wanita cantik keluar dari ruangan kerja Rafif.
“Oh, Pimpinan Vald! Aku ingin kembali ke apartemen,” jawab Reni menghentikan langkahnya, lalu tersenyum tipis mendapati sang kakak ipar masih berada di pabrik.
“Kalau begitu, bersama denganku saja. Lagi pula aku juga ingin kembali ke mansion,” ajak Theo sesekali menatap ke arah Rafif yang berada di belakang Reni.
Reni terdiam sesaat. “Sepertinya aku ingin ke apartemen saja, Pimpinan Vald.”
Jawaban tersebut sukses membuat Rafif mengernyit bingung menatap sang kekasih yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Akan tetapi, ia memilih untuk tidak bertanya dan membiarkan Reni menceritakan dengan sendirinya. Karena Rafif jelas mengerti akan pribadi Reni yang tidak ingin orang lain ikut serta dalam masalahnya.
“Kalau begitu, aku akan mengantarkannya. Lagi pula kita berdua satu arah, Reni. Jangan terlalu sungkan padaku di depan Rafif. Dia tidak akan cemburu,” balas Theo tertawa pelan membuat Rafif melemparkan tawa renyah.
Hal tersebut membuat Reni tersenyum tipis dan mengangguk singkat menyetujui ajakan kakak iparnya yang terdengar sedikit menyenangkan. Karena ia juga tidak memiliki kendaraan untuk datang ke sini dan kekasihnya pun masih terlihat sibuk, walaupun berusaha sekuat tenaga tidak memperlihatkan kesibukannya.
Kemudian, keduanya pun meninggalkan Rafif yang menatap kepergian Theo dan Reni dengan senyum hampa. Sebab, Rafif menyadari perubahan ekspresi Reni saat membicarakan masalah menuju mansion. Seakan ada sesuatu hal yang ditutupi oleh wanita tersebut.
Namun, Rafif hanya mengangkat bahunya sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku dan melangkah menuju ruang mesin yang sedang dalam tahap uji coba untuk melakukan produksi sesuai dengan pengerjaan. Bahkan di ruangan tersebut terdapat beberapa teknisi yang lalai dalam pekerjaannya mendapat hukuman dari Theo.
Sedangkan di sisi lain Lizian tengah berkutat dengan semua pekerjaan yang mulai menggunung akibat kedatangan Rafif setiap malam membawa banyak bukti dan petunjuk untuk dirinya mulai melakukan penyelidikan.
Memang tidak dapat dipungkiri kepala Lizian terasa ingin pecah menatap banyak sekali berkas yang berceceran sesuai dengan pengerjaannya. Bahkan beberapa personil polisi yang berada satu ruangan dengan Lizian pun dengan terpaksa mengungsi dulu. Karena pekerjaan lelaki itu benar-benar menyeramkan, ketika mendengar seseorang berbicara saja sudah hampir ditembak mati oleh pistol latihan. Jelas bukan berisikan peluru, tetapi cukup nyeri ketika ditembak secara langsung.
“Zian, ini daftar hadir yang lo minta dari Rainbow Night Club semalam. Tapi, anehnya enggak ada Theo di sana. Padahal jelas-jelas ada orang yang ngirim foto itu secara asli tanpa editan sama sekali,” ucap Hafa melangkah dengan hati-hati masuk ke ruangan Lizian yang berkas penting masih berserakan.
“Dia masuk terakhir tepat pesta berlangsung selama tengah malam, jadi wajar saja jika daftar tamunya sudah tidak ada,” balas Lizian memperlihatkan hasil percakapan lelaki itu pada seorang informan yang selama ini masih ditutup rapat. Bahkan Hafa pun tidak mengetahui bahwa Rafif masih hidup.
“Maksud lo, dia bermain cantik? Bukannya dia lagi ada perjalanan bisnis?” tanya Hafa penasaran sekaligus tidak mengerti.
“Itulah yang mau gue selidiki sekarang, tapi sepertinya makan siang jauh lebih memikat. Jadi, lo udah makan belum? Gue mau ke kantin dulu,” jawab Lizian bangkit dari tempat duduknya dan mengenakan tanda pengenal, lalu melangkah dengan santai meninggalkan Hafa yang terlihat kesusahan.
“Astaga, Zian! Lo kalau ngajak gue makan itu pakai niat dong!” protes Hafa kesal dan berlari kecil menghampiri rekan kerjanya yang melangkah bagaikan mengenakan egrang, sebab benar-benar lebar dan cepat sampai Hafa tidak bisa menyembangi langkah kakinya.
Namun, Lizian terlihat acuh tak acuh dan membiarkan Hafa menyeimbangi langkahnya. Karena memang gadis itu bisa menyeimbangi langkah kaki, karena tipikal seorang gadis yang setengah lelaki.
Tidak munaf*k bahwa Hafa bisa menjadi gadis maskulin yang begitu memikat banyak gadis hingga melupakan gender aslinya.