Kedatangan Rafif untuk melakukan pekerjaannya di pabrik pun membuat Reni memutuskan naik menuju ruangan kerja sang kekasih. Ia penasaran melihat keseharian lelaki itu berada di pabrik, meskipun tidak dapat dipungkiri dirinya merasa cemas akan keberadaan Vesenia yang sama-sama menyukai Rafif. Namun, sayangnya lelaki itu tetap setia pada Reni, sang kekasih.
Sejenak Reni menatap keadaan ruang kerja Rafif yang terlihat rapi dan simple. Lelaki itu benar-benar memberikan perhatian penuh pada ruangannya sendiri membuat Reni tanpa sadar mengetahui bahwa Rafif tipikal lelaki yang tidak terlalu menyukai keramaian. Sama seperti karakternya yang lugas dan sederhana.
Kemudian, wanita cantik mengenakan gaun simple itu pun mendudukkan diri di kursi kebesaran Rafif dengan berputar-putar pelan sembari menatap semua map yang ada di meja lelaki tersebut.
Tak lama kemudian, Reni yang tampak mengantuk pun merebahkan kepalanya pada meja milik Rafif. Sampai akhirnya, kedua mata cantik Reni mulai menutup sempurna.
Sementara itu di sisi lain, Rafif yang terlihat sibuk dengan pekerjaan pun tampak kelelahan. Membuat lelaki itu mengitari sekeliling pabrik dengan alis bertaut bingung.
“Di mana Reni?” tanya Rafif pada Ell yang terlihat mencatat sesuatu di sampingnya.
“Nona cantik tadi? Dia tidak mengatakan apa pun, tapi sepertinya melangkah menuju lantai kantor. Kemungkinan besar dia berada di kantor milikmu, Rafif,” jawab Ell menoleh sesaat.
“Kalau begitu, aku temui Reni dulu. Kamu tetaplah di sini dan kabari aku jika terjadi sesuatu pada mesinnya,” pungkas Rafif mengembuskan napasnya singkat.
Setelah mendapat anggukan persetujuan dari Ell, akhirnya Rafif pun memutuskan untuk melangkah menghampiri sang kekasih. Ia menjadi tidak enak meninggalkan Reni sendirian di pabrik ketika menyadari dirinya sibuk dan tidak sempat memperhatikan wanita itu.
Awalnya ia mengira pekerjaan di sini tidak terlalu sibuk, tetapi siapa sangka kalau mesin yang baru saja dibeli ternyata mengalami kerusakan cukup parah akibat kesalahan pengoperasian pada teknisi pabrik. Membuat Rafif mau tidak mau turun tangan untuk menyelesaikannya. Sehingga ia benar-benar sibuk.
Tujuan Rafif mengarah pada ruangannya yang berada di ujung lantai. Ia tampak percaya diri bahwa Reni berada di sana, karena wanita itu jelas tidak akan pergi ke mana, selain mengarah pada ruangannya sendiri.
Sesampainya di dalam, Rafif melihat seorang wanita tampak tertidur di meja kerjanya. Membuat Rafif tanpa sadar tersenyum geli memperhatikan Reni yang ternyata kelelahan sekaligus bosan sampai tertidur dalam keadaan seperti ini.
Sejenak Rafif membuka mantel hitamnya untuk menyelimuti bahu polos Reni yang tidak tertutupi oleh kain apa pun membuat lelaki itu menyelimuti dengan rapat. Melepaskan mantel yang sejak tadi dipakai membuat tubuh kekar nan berotot milik Rafif tercetak jelas.
Setelah itu, Rafif pun menatap ke arah arloji yang ada di tangannya yang menunjukkan pukul 1.30 am menandakan sudah larut malam. Tentu saja Reni tertidur pulas karena wanita itu sama sekali tidak tertidur ketika seharian bekerja di Rainbow Night Club.
Sebab, wanita itu tidak hanya menjalankan sebuah klub di malam hari, melainkan tempat karaoke dan seperti hiburan lainnya pun menjadi tempat tujuan Reni menyibukkan diri. Karena wanita itu benar-benar berbakat dengan bisnis yang dijalankannya.
Rafif mengelus kepala sang kekasih dengan lembut, lalu mendaratkan sebuah kecupan kasih sayang di pucuk kepalanya. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Karena Rafif hendak menyelesaikan dengan segera pekerjaan malam ini agar dirinya bisa kembali tanpa merasa cemas sama sekali.
Tak lama kemudian, Rafif pun mengembuskan napasnya lega sembari menyandarkan tubuh pada sofa panjang yang berada di ruangannya. Pekerjaan malam ini benar-benar lelah hingga menghabiskan waktu hingga dua jam penuh membuat Rafif baru menyelesaikan pekerjaan pukul 3.30 am.
Reni yang merasakan sesuatu menyelimuti tubuhnya pun langsung bergerak tersadar, kemudian pandangannya mengarah pada seorang lelaki tampan memejamkan mata. Membuat wanita itu bangkit dengan senyuman tipis terpatri.
Saat hendak menyelimuti tubuh sang kekasih menggunakan mantel tadi, tiba-tiba Reni merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang membuat wanita itu sukses terjatuh sempurna di pangkuan Rafif dengan melingkari kedua tangannya pada leher beroto nan tegas tersebut.
Tanpa diduga sama sekali Rafif membuka matanya dan terpaku pada tatapan lembut nan sayu milik Reni. Membuat lelaki itu melingkari kedua tangannya pada pinggang mungil dan ramping tersebut untuk merapatkan pada tubuhnya.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Reni tersenyum manis menatap wajah lelah sang kekasih yang sepertinya baru saja menyelesaikan pekerjaan. Bahkan peluh lelaki itu masih terlihat cukup banyak, tetapi tidak menghilangkan ketampanannya. Malah terlihat jauh lebih tampan.
“Baru saja selesai,” jawab Rafif tersenyum senang. Rasanya begitu bahagia bekerja ditemani sang kekasih seperti ini. “Apakah kamu merasa bosan di sini? Aku bisa mengajakmu pulang. Lagi pula semua pekerjaanku di sini sudah selesai dan waktunya kembali.”
“Heeem ...,” tolak Reni menggeleng pelan, lalu kembali berkata, “aku tidak ingin dikatakan sebagai kekasih yang posesif melarang kamu untuk bekerja. Kalau memang sudah selesai, kita bisa berduaan di sini. Aku juga tidak merasa keberatan.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Reni memeluk tubuh Rafif dengan erat sembari meletakkan kepalanya pada bahu milik kokoh milik sang kekasih. Ia benar-benar tidak menuntut apa pun pada lelaki itu, hanya saja dirinya ingin sekali berduaan tanpa melakukan apa pun. Mengingat mereka berdua sama-sama sibuk dan tidak memiliki waktu luang.
“Baiklah kita akan berada di sini,” putus Rafif mengusap punggung sang kekasih dengan lembut, lalu sesekali menatap Reni yang tersenyum senang sembari memejamkan mata.
Sebenarnya Rafif mengantuk sekali, tetapi ia sebisa mungkin untuk terjaga. Karena bersama Reni merupakan hal yang paling bahagia dalam hidupnya. Sebab, ia bisa melupakan semua masalahnya dalam sejenak.
Sedangkan di sisi lain Ell yang menyadari Rafif tidak kembali dari atas pun mengembuskan napasnya panjang. Ia tahu bahwa lelaki itu sudah sangat lelah mengerjakan semua mesin dalam semalaman tanpa tertidur.
Akhirnya, Ell pun melaporkan semua permasalahan yang ada di pabrik pada Theo. Agar lelaki itu memberikan keringanan pada Rafif. Walau bagaimanapun juga lelaki itu sampai membawa kekasihnya datang yang ternyata adik ipar dari Theo.
“Halo, Pimpinan Vald! Ini aku Ell dari pabrik,” ucap seorang lelaki berpakaian pengawal yang selalu mengikuti Rafif sekaligus rekan kerjanya.
“Ada apa?” tanya Theo dengan suara dingin nan datar membuat Ell yang berada di seberang tampak gelisah. Jelas saja Ell tidak pernah menelepon Theo sebelumnya tanpa mempunyai urusan penting.
“Pimpinan Vald, aku mewakili Tuan Rafif untuk meminta izin libur selama satu hari. Karena malam ini Tuan Rafif sudah tidak tidur akibat mesin rusak oleh teknisi, jadi semalaman suntuk Nona Reni berada di pabrik menunggu Tuan Rafif. Jadi, izinkan mereka berdua menikmati waktu bersama, Pimpinan Vald.”