“Selamat ulang tahun, Vesenia!!!”
Seruan menggembirakan itu pun membuat suasana klub semakin meriah dengan seorang wanita menghadap pada sebuah kue bertingkat dua. Sang wanita yang ditemani oleh tunangannya itu pun tampak tersenyum lebar.
Arah jarum jam tepat mengarah pada angka 12 membuat pergantian waktu terlihat begitu jelas menandakan pergantian hari telah berlalu dan acara pertambahan usia Vesenia telah berlalu selama satu hari.
“Selamat ulang tahun, sayang,” ucap Theo memeluk erat tubuh Vesenia dan mendaratkan kecupan ringan pada pelipis wanita tersebut.
Sontak tatapan penuh iri mengandung keromantisan itu pun terpancar pada orang-orang yang berada di pesta tersebut. Namun, lain halnya dengan Reni yang menatap datar tanpa ekspresi. Sedangkan Rafif yang berada tepat di samping Reni pun hanya merangkul bahu wanita itu dengan erat.
“Kalau begitu, silakan nikmati seluruh hidangan malam ini karena seluruh minuman akan aku gratiskan untuk kalian!” titah Theo tersenyum lebar.
Pekikkan penuh girangan itu pun terdengar dari seluruh pengunjung pesta, tetapi tidak dengan Reni yang memilih membubarkan diri bersama Rafif menuju salah satu meja kosong. Keduanya tampak memesan sebotol whisky dengan dua gelas cantik berisikan satu butir es kotak memenuhi gelas.
“Reni, apa kamu merasa senang dengan pesta ini?” tanya Rafif menuangkan gelasnya dengan whisky.
“Sejak kecil aku tidak pernah berada di pesta seperti ini, jadi aku tidak terlalu memedulikan sama sekali. Maka dari itu, orang tuaku tidak pernah mengajak diriku sama sekali keluar berpesta ataupun berkencan,” jawab Reni tersenyum paksa, lalu meneguk minuman beralkohol cukup tinggi sebesar 40% dengan sekali teguk.
“Kamu berbeda orang tua dengan Vesenia?” Rafif bertanya dengan alis bertaut bingung.
“Iya, aku memang berbeda. Karena hubunganku dengan Vesenia hanya sekedar kakak sepupu dari mamahku. Jadi, kita berdua tidak benar-benar sebagai kakak beradik.”
“Tapi, Mengapa kamu begitu dekat dengannya?”
“Itu karena aku memang sudah terbiasa dengannya. Bahkan ketika aku baru datang dari Amerika selepas melakukan studi terakhirku, Vesenia langsung mempromosikan diriku pada Valder Logistic. Hanya saja aku tidak betah dan bertahan selama satu tahun saja. Sampai akhirnya Pimpinan Vald memberikan padaku kesempatan untuk mengelola Rainbow Night Club.”
“Jadi, kamu memang tidak terlalu dekat dengannya? Tapi, Mengapa waktu aku ke sini tidak ada satu orang pun yang mengetahui identitasmu sebagai petinggi?”
“Sebenarnya aku memang sengaja menyembunyikan identitas agar tidak ada lagi yang mencari perhatian sekaligus berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan rasa simpati dari Pimpinan Vald.”
“Sudah lama kamu bekerja di sana?”
“Tidak terlalu lama. Kalau dihitung, mungkin pertemuan pertama kita itu adalah penyamaranku yang ketiga hari. Karena aku memang benar-benar baru saja mengundurkan dari Valder Logistic dan menetap di mansion selama satu bulan. Sebelum memutuskan untuk menyewa apartemen agar lebih dekat melalui pekerjaan.”
Rafif tersenyum senang. Rasanya begitu bahagia bisa berbincang dengan Reni tanpa merasa keberatan sama sekali. Walaupun ia tahu sebentar lagi akan ada pengganggu yang memisahkan dirinya dengan Reni. Hanya saja untuk sekarang Rafif benar-benar ingin bersama wanita yang dicintainya.
Dan benar saja, saat keduanya asyik berbincang terlihat beberapa pengawal mendekat membuat Rafif menoleh. Lelaki itu tampak tidak suka, lalu mengkode agar Reni terdiam. Karena mereka berdua kedatangan tamu yang tidak diundang.
“Rafif, kamu harus segera ke pabrik!” titah seorang lelaki tanpa meminta persetujuan sama sekali.
Sedangkan Reni yang mendengarnya langsung menoleh, lalu mengernyit tidak suka. “Pimpinan Vald, apa yang kamu lakukan dengan kekasihku? Mengapa berdekatan denganku saja sudah ingin kamu jauhi. Dasar menyebalkan!”
“Bukan seperti itu maksudku, Reni. Astaga, kamu salah paham saja. Justru aku mengirim Rafif ke sana agar kalian bisa berduaan. Lagi pula kalau di sini juga kalian tidak leluasa, bukan? Jadi, lebih baik mencari tempat yang bagus untuk memadu kasih. Jangan malu padaku, aku jelas lebih berpengalaman daripada kalian berdua,” balas Theo dengan penuh percaya diri sembari mengencangkan jasnya pongah.
Sedangkan Reni yang baru saja mengerti maksud kakak iparnya itu pun menatap dengan penuh binar cerita, lalu berkata, “Kamu memang terbaik, Pimpinan Vald. Tidak sia-sia aku memberikan restu untuk kalian berdua.”
“Sudah jangan berkata omong kosong lagi. Cepatlah pergi ke pabrik dan urus semua barang yang baru saja datang di sana,” pungkas Theo membuat Rafif dan Reni bangkit bersamaan.
Kemudian, keduanya bergegas menuju pabrik yang memproduksi makanan. Fairel yang mengemudikan mobil pun langsung bergegas meninggalkan parkiran Rainbow Night Club superpadat merayap. Bahkan membutuhkan beberapa waktu untuk mengeluarkan mobil dari parkiran luas yang berada di depan klub malam tersebut.
Selama melakukan perjalanan menuju pabrik makanan, Fairel dan Reni tampak saling melemparkan senyum bahagia. Kemudian, tangan besar nan hangat itu pun menggenggam tangan mungil milik Reni.
Sepanjang perjalanan keduanya saling menggenggam satu sama lain sembari sesekali Fairel mencium punggung tangan milik Reni menyalurkan rasa bahagia sekaligus bangga telah memiliki seorang wanita baik-baik seperti Reni, walaupun bisa dikatakan pergaulan wanita itu sangat bebas dan menganut pada ajaran negara kebaratan.
Sesampainya di pabrik, Fairel turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Perlakuan kecil nan manis itu benar-benar membuat Reni tersipu sekaligus merasa diistimewakan. Membuat Reni merasa beruntung telah memiliki seorang kekasih seperti Rafif.
“Tuan Rafif, kamu sudah datang?” sapa seorang pengawal yang menjadi rekan sekaligus bersikap ramah ketika lelaki itu datang untuk pertama kalinya.
“Sudah, Ell,” jawab Rafif tersenyum tipis.
Kedatangan Reni pun mengejutkan Ell yang tampak mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Membuat sang wanita yang menjadi pusat perhatian langsung mengembuskan napasnya panjang.
“Aku Reni, adik iparnya Pimpinan Vald,” ucap Reni memperkenalkan dirinya sendiri sembari memutar bol matanya malas.
Sontak hal tersebut membuat Ell melebarkan mata tidak percaya, lalu menoleh ke arah Rafif dan berbisik, “Apakah dia Reni yang sering kamu katakan itu, Rafif?”
Reni yang mendengar bisikan itu pun menyipit penuh selidiki. “Kamu sering membicarakanku?”
“Tidak, hanya beberapa kali saja,” elak Rafif menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu melayangkan tatapan kesal pada Ell begitu polos.
Ell yang merasa situasi cukup tegang pun langsung berkata memimpin suasana, “Karena kalian berdua sudah datang. Mengapa tidak langsung ke gudang mesin yang baru saja datang? Kebetulan di sana ada beberapa teknisi yang mengerjakan mesin pemasok makanan.”
“Ide bagus! Aku juga harus bergegas menuju mansion untuk melaporkan masalah ini,” balas Rafif cepat.
Sedangkan Reni yang tidak memiliki pekerjaan pun hanya mengikuti tanpa protes sama sekali. Sebab, kedatangannya ke sini memang hanya untuk melarikan diri dari pesta yang membosankan tersebut.