Saat Rafif dan Reni baru saja menyelesaikan kegiatan saling memuaskan itu pun kembali mengenakan pakaiannya. Namun, saat keduanya saling sibuk kegiatan masing-masing, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
Tentu saja pandangan terkejut langsung terpatri di wajah Rafif. Lelaki itu tampak panik sekaligus tidak enak melihat dirinya baru saja melakukan kegiatan panas bersama Reni. Jelas hal paling tidak sopan selama hidupnya.
“Di mana Reni?” tanya seorang wanita yang terdengar dekat.
Sedangkan wanita yang menjadi target pencarian pun langsung melebarkan mata tidak percaya. Kemudian, Reni memberi kode pada Rafif untuk tetap diam, sedangkan dirinya mulai mengintip pada seseorang yang bersuara tadi.
Dari sela pintu terlihat seorang wanita cantik dengan gaun mewahnya itu berdiri tepat di depan pintu sembari bertanya pada salah satu pengawal yang berdiri tegak.
Sedetik kemudian, Vesenia pun langsung melenggang santai menuju ke lantai lain untuk mencari Reni. Eksrepsi wanita itu terlihat sedikit kesal, lalu mengembuskan napasnya panjang.
“Raf, aku akan keluar lebih dulu. Kamu tetaplah di sini jangan sampai ke mana-mana. Oke?” ujar Reni memberikan pengarahan yang cukup jelas.
Rafif mengernyit bingung, lalu membalas, “Kenapa kita tidak berdua saja sekalian? Lagi pula kita sudah meresmikan hubungan, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.”
“Aku tahu kamu ingin mempublikasikan hubungan kita berdua. Untuk sekarang aku mohon jangan bertindak gegabah sampai tiba waktunya.” Reni mengangguk singkat, lalu memegang tangan Rafif dengan erat sembari menatap penuh kelembutan sampai lelaki itu tidak memiliki kekuatan untuk menyanggah perkataan kekasihnya.
Rafif mengangguk singkat, lalu melepaskan genggaman tangan gadis itu dan langsung merengkuhnya dengan erat. Kemudian, mengusap kepala Reni dengan lembut.
“Baiklah. Aku akan bersabar demi kamu,” pungkas Rafif tersenyum manis.
Tanpa sadar Reni ikut tersenyum bahagia. Ia benar-benar bersyukur telah menemukan lelaki terbaik seperti Rafif. Walaupun pada kenyataannya pertemuan mereka berdua tidak menguntungkan, yaitu sama-sama menyamar dengan baik untuk menutupi identitasnya.
Akhirnya, Reni pun bisa benapas lega meninggalkan Rafif yang menurut akan permintaan dirinya. Meski akan sedikit menyakitkan, Reni harus tetap bersabar sampai dirinya benar-benar bisa membuka diri pada Vesenia.
Bukan tidak munkin Vesenia akan menyukai dua pria yang berbeda dalam waktu bersamaan mengingat Rafif sangat tampan dan sifatnya hangat membuat siapa pun akan mudah terbuka dan merasa begitu diistimewakan.
“Kak, kamu mencariku?” celetuk Reni yang baru saja tiba dengan suara larian kecil terdengar cukup keras.
Hal tersebut membuat Vesenia yang hendak melangkah masuk lebih dalam langsung berbalik, lalu menatap penampilan Reni sedikit berbeda. Wanita itu melangkah mendekat dengan tatapan mata yang tajam nan menusuk.
“Dari mana saja? Mengapa kamu tidak hadir di pesta ulang tahunku sejak tadi?” tanya Vesenia dengan nada menginterogasi.
Reni tersenyum lebar dan memeluk lengan sang kakak erat. “Reni baru ganti gaun, Kak. Karena ada kecelakaan tidak terduga tadi.”
“Kecelakaan? Apa yang terjadi!?” seru Vesenia melebarkan matanya terkejut, lalu memutar-mutar tubuh Reni dengan pandangan penuh menelisik.
“Jangan cemas, Kak. Semuanya sudah baik-baik saja,” balas Reni tersenyum lega melihat sang kakak sepupunya tampak perhatian.
Vesenia mengembuskan napasnya lega, lalu menggeleng tidak percaya. “Kamu itu harus lebih berhati-hati lagi, Ren. Jangan sampai terjadi sesuatu karena itu akan menyulitkan diriku untuk menjenguk dirimu di rumah sakit.”
“Tenang saja, Kak. Aku baik-baik saja. Lagi pula kamu sudah melihatnya kalau aku tetap utuh, bukan?”
“Baiklah,” balas Vesenia mengangguk beberapa kali. “Oh ya, kamu melihat keberadaan Rafif? Aku mencarinya sejak tadi, tetapi lelaki itu sudah pergi tepat ketika memberikan kado untukku.”
Reni tersenyum kecut. Munafik rasanya kalau ia mengatakan tidak terganggu sama sekali. Karena pada kenyataannya ia benar-benar merasa seperti orang bo*doh di hadapan sang kakak yang menyukai kekasihnya sendiri, Rafif.
“Aku belum bertemu dengannya, Kak.” jawab Reni berusaha berbohong. Ia tidak akan mengalah pada siapa pun, termasuk melawan Vesenia secara terang-terangan.
Namun, Vesenia tidak mudah percaya. Wanita itu tersenyum miring dan melenggang santai menuju salah satu pintu kamar yang tidak tertutup rapat membuat Vesenia tersenyum miring dan langsung membuka pintu tersebut.
Akan tetapi, pandangan Vesenia terpaku pada seorang lelaki yang duduk bersama pengawal lainnya. Mereka tampak sibuk sekaligus tidak mendengarkan perkataan ribut dari luar.
Membuat Reni yang masih berada di dalam pun langsung tersenyum bahagia mengingat dirinya telah berhasil melakukan rencananya pada Rafif. Sehingga lelaki itu terlihat berbincang dengan beberapa pengawal yang berada tidak jauh dari kamar hendak dimasuki oleh Vesenia.
Sontak hal tersebut membuat wanita itu langsung melangkah mendekati Rafif, lalu mengernyit bingung saat mencium aroma parfum yang sangat familier. Kemudian, pandangan Vesenia jatuh pada Reni yang melipat kedua tangannya santai.
“Rafif, dari mana saja kamu?” tanya Vesenia penuh selidik.
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, Rafif pun menoleh. Ia mengernyitkan keningnya bingung melihat kehadiran Vesenia di atas, dan bukan pada pestanya sendiri.
“Aku sedang mengawasi Valder Logistic, tetapi semuanya sudah selesai. Jadi, aku langsung datang ke sini lagi. Karena aku dengar Pimpinan Vald datang ke sini,” jawab Rafif lugas.
Aura terkejutan tidak dapat ditutupi oleh Reni membuat wanita itu langsung berkata, “Benarkah? Pimpinan Vald datang ke sini?”
Rafif mengangguk singkat, lalu membalas, “Dari laporan tadi, sekiranya Pimpinan Vald sudah datang dan berada di ruang kerjanya.”
Sedangkan Vesenia yang awalnya curiga pun langsung melonggarkan rasa ingin menyelidikinya. Namun, saat wanita itu hendak pergi tiba-tiba ia mencium aroma parfum yang sama seperti milik Rafif dari tubuh Reni.
Sejenak Vesenia menatap aura sang adik yang terlihat berbeda daripada biasanya. Wanita itu tampak sedikit berseri-seri seakan baru saja terjadi sesuatu.
“Reni, apa kamu baru saja melakukan sesuatu tidak terduga?” tanya Vesenia mengundang banyak tatapan bingung, termasuk Rafif yang terlihat mengepalkan tangannya cemas.
“Sesuatu tidak terduga apa?” Reni berbalik tanya dengan berpura-pura tidak menahu.
“Seperti memasukkan dan mengeluarkan sesuatu,” jawab Vesenia gamblang. Kali ini tatapannya begitu dingin membuat Reni mengepalkan tangannya gelisah. Ia tahu bahwa aroma parfum Rafif sangat kuat sehingga mudah saja diketahui ketika menempel erat pada tubuhnya saat melakukan kegiatan panas tadi.
“Sayang, apa yang kamu lakukan di sana? Semua orang sudah mencari kita,” sahut seorang lelaki tampan begitu dihormati oleh semua orang yang ada di sana.
Sedangkan Reni yang hampir saja terjebak dalam situasi serba salah pun mengembuskan napasnya lega, lalu menatap ke arah Vesenia yang berbalik menghampiri sang tunangannya. Wanita itu terlihat manja sekaligus kesal menatap kedekatan Rafif dan Reni yang sulit sekali dipisahkan. Sehingga wanita itu harus menyembunyikannya terlebih dahulu sebelum memulai rencana yang tidak terduga.