Penyelidikan pun berlangsung cukup lama, termasuk Rafif yang semakin sering datang mengunjungi apartemen Lizian. Tentu saja hal tersebut membuat kekhawatiran lelaki itu semakin besar. Ia takut jika ada seseorang yang mengikuti sahabatnya, lalu membocorkan semua masalah ini kepada Theo.
“Raf, lo kayaknya enggak harus datang ke sini setiap saat. Apa lo enggak takut kalau ada anak buahnya Pimpinan Vald yang mengetahui masalah ini?” celetuk Lizian mendudukkan diri tepat di samping sahabatnya.
Rafif menggeleng pelan sembari menyungging senyuman miring yang memikat para gadis ketika melihatnya. “Jangan khawatir, Zian. Theo enggak sependek pikiran yang lo kira selama ini. Dia berhati-hati dalam melakukan segala bisnisnya. Walaupun gue bekerja di bawah kepemimpinannya, ternyata selama ini enggak ada satu pekerjaan pun yang gue lakukan seorang diri. Karena gue pasti mempunyai rekan kerja, entah dikenal atau tidak.”
“Maksud lo, Theo enggak percaya gitu aja ketika lo datang waktu itu?” Lizian mengernyitkan keningnya bingung sekaligus tidak percaya bahwa Theo tidak mudah mempercayai orang lain, jika belum membuktikannya secara akurat. Seperti apa yang dilakukan oleh Ethan terhadap kakaknya sendiri.
“Selama gue bekerja bersama Vesenia, gue baru sadar kalau wanita itu ternyata sama sekali enggak mencintai Theo. Dia ada karena membutuhkan perlindungan, tapi sayang sekali gue belum bisa nyelidiki apa itu. Karena waktu dan tempat penyelidikan gue benar-benar terbatas. Bahkan di sana ada sebuah ruangan rahasia yang belum pernah gue masuki.”
“Ruangan apa, Raf?” tanya Lizian menatap penuh tanpa berkedip sama sekali.
“Gudang penyortiran,” jawab Rafif singkat sembari meneguk minuman soda yang berada di dalam kaleng hingga tandas.
Kemudian, lelaki tampan itu pun langsung bangkit dari tempat duduknya yang berada di bawah sofa sembari bersandar. Kegiatan tersebut membuat Lizian mengernyitkan keningnya penasaran.
“Gue pamit dulu. Malam ini Rainbow Night Club ada sebuah pesta perayaan ulang tahun Vesenia, jadi gue harus ada di sana sebelum acara dimulai agar tidak membuat kecurigaan,” ujar Rafif sembari mengenakan kembali mantel hitamnya yang berada di gantungan pakaian.
“Karyawan Valder Logistic diundang, Raf?”
Rafif terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan. “Enggak ada. Setahu gue ini acara privat, jadi enggak semua orang bisa datang. Mungkin dari kalangan penting aja. Karena gue lihat undangan yang dibuat agak sedikit berbeda daripada biasanya.”
“Kalau begitu, gue masih bisa bersantai di apartemen. Karena Kak Regina saja tidak mengikuti acara yang berhubungan dengan LUCA di luar,” balas Lizian mengembuskan napasnya lega dan menyandarkan kepalanya pada tempat duduk sofa. Sebab, sejak tadi keduanya memang duduk secara lesehan di atas karpet bulu milik Lizian.
“Oh ya, gue dengar di Valder Logistic sedang ada masalah. Lo tahu, Zian?” celetuk Rafif sebelum lelaki itu benar-benar melenggang keluar.
Sedangkan Lizian mengernyitkan keningnya bingung, lalu menegakkan tubuhnya kembali menatap Rafif penuh. “Masalah apa?”
“Uhm ... ini ada kaitannya dengan Ethan. Sepertinya lo harus membantu kakak gue menyelidiki permasalahan kali ini. Karena ada sangkut pautnya dengan kasus LUCA,” jawan Rafif tersenyum penuh makna, lalu melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Lizian yang tertegun sempurna.
Jelas saja ingatan Lizian langsung mengarah pada kejadian siang tadi saat dirinya berada di kafe bersama Hafa. Ia memang sempat melihat Regina yang bersungut kesal, tetapi sayang sekali tidak berani mempertanyakan semua masalah pada wanita tersebut. Sebab, kewenangannya memang tidak sampai dalam tahap ikut mencampuri kehidupan pribadi Regina yang terlihat lebih dekat bersama Jarvis dibandingkan dirinya.
Setelah itu, Rafif pun melenggang keluar dengan pandangan yang terlihat menegak santai sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. Kemudian, melenggang masuk ke dalam elevator kosong untuk turun ke basement.
Namun, di sela lelaki itu menuju ke tempat mobilnya terparkir, tiba-tiba ponsel Rafif berdering singkat. Menampilkan sebuah pesan dari seseorang yang membuat lelaki itu mengembuskan napasnya panjang.
Vesenia
Raf, lo di mana? Malam ini enggak akan lupa tentang pesta gue di Rainbow Night Club, ‘kan?
Rafif mengembuskan napasnya panjang, lalu mulai menggeser sebuah tombol yang berada di samping layar ponsel dan mulai menempelkan benda pipih tersebut ke telinga kanannya.
“Halo, Tuan Robert! Apakah semua mobil pengangkut paket sudah tiba di Valder Logistic?” tanya Rafif to the point tepat ketika panggilan tersambung.
“Sudah, Tuan Rafif. Silakan ke perusahaan karena di sana akan ada beberapa petugas gudang yang masih tersisa untuk merapikan paket,” jawab Tuan Robert yang menjadi langganan Theo ketika melakukan bisnis pengiriman.
“Baiklah. Saya ingin mengambil paket yang kebetulan dibawa secara bersamaan oleh Valder Logistic, jadi ingin segera ke sana kalau memang sudah sampai. Karena malam ini saya ada urusan lagi,” ujar Rafif diakhiri dengan panggilan tersebut diputus secara sepihak oleh dirinya.
Sejenak Rafif bisa bernapas lega bahwa semua paket yang ia pesan sudah tiba tepat ketika acara sebelum dimulai. Untung saja Valder Logistic selalu unggul dalam kecepatan pengiriman. Sehingga tidak perlu memakai waktu lama sudah datang dengan sesuai rencana.
Sesampainya di basement, Rafif langsung melangkah dengan santai menuju mobil sedan mewah yang terparkir sempurna tepat menghadap pintu keluar. Membuat lelaki tampan itu langsung bergerak masuk dan segera bergegas keluar agar acara malam hari ini tidak terhambat.
Selama perjalanan menuju Valder Logistic, Rafif sesekali melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Karena ia penasaran kali ini ada yang mengikutinya lagi atau tidak. dan ternyata, sudah tidak ada lagi mobil asing bergerak secara berirama tepat di belakangnya.
Akhirnya, Rafif pun bisa bergerak dengan santai menuju Valder Logistic yang tidak terlalu jauh dari apartemen milik Lizian. Sebab, lokasinya cukup strategis di tengah tempat industry perkantoran yang cukup ramai. Sehingga membutuhkan uang lebih untuk melakukan penyewaan ataupun membeli secara pribadi.
Namun, setiap anggota polisi yang bekerja di bawah kepolisian metropolitan itu pun mendapatkan apartemen gratis dari kantor sehingga tidak memerlukan uang lebih untuk melakukan pembiayaan sewa secara bulanan. Karena memang sudah menjadi tanggungan kantor.
“Tuan Rafif, kamu sudah datang? Tadi Tuan Robert mengatakan bahwa kamu hendak kemari untuk mengambil paket yang sengaja dikirim ke sini,” sapa seorang petugas gudang berpakaian biru muda.
“Iya, benar. Apakah sudah disortir? Karena saya masih ada urusan lagi,” tanya Rafif mengangguk singkat.
“Sudah, Tuan Rafif. Silakan diperiksa dulu,” jawab petugas tersebut memberikan tiga kotak berbungkus koran, plastik, dan kardus yang tidak terlalu besar.
“Baiklah. Terima kasih banyak.” Rafif mengangguk singkat dan langsung melenggang begitu saja meninggalkan petuigas gudang yang menatap kepergiannya dengan senyuman cerah. Akan tetapi, ia sama sekali tidak memperhatikannya, karena masih memiliki urusan yang tidak bisa dilambatkan jika ingin keberadaannya tetap aman.