Sebuah klub mewah di kawasan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Senayan, Jakarta Selatan. Tepatnya di Rainbow Night Club, ramai tamu undanngan maupun pengunjung hingga menjelang tengah malam. Tampak deretan mobil mewah terparkir di tempat parkir yang cukup luas.
Terlihat sebagian besar pengunjung berdansa di dance floor yang diatasnya terdapat lampu remang-remang dengan cahaya gelap. Sebagian lainnya berada di meja-meja sudut ruangan, tengah berbincang dan b******u mesra.
Keadaan klub ditambah ramai akan pesta Vesenia yang mengundang banyak kolega bisnis maupun teman sosialitanya. Bahkan keadaan didominasi oleh seorang wanita berpakaian gaun yang bercorak mahal dan elegan.
Rafif yang baru saja masuk membawa satu kotak besar untuk mengundang cukup banyak perhatian hingga hampir seluruh pengunjung klub menatap ke arah seorang lelaki berpakaian mantel hitam besar.
“Selamat ulang tahu, Nona Ovt,” ucap Rafif singkat sembari mengulurkan kotak yang tidak terlalu besar.
Vesenia sedikit terkejut, lalu menerima kotak tersebut dengan senyuman lebar. “Terima kasih banyak, Tuan Rafif. Silakan nikmati pesta hari ini.”
Melihat kedatangan seorang lelaki tampan yang jauh lebih muda daripada Theo itu pun membuat beberapa teman Vesenia tampak berbisik. Tentu saja mereka mempertanyakan hubungan Rafif yang bisa dikatakan terlihat asing.
“Tidak perlu, saya masih ada urusan lagi,” tolak Rafif logis, lalu tersenyum singkat pada beberapa wanita yang sibuk menggosip.
Tentu saja mata para wanita itu langsung membulat sempurna melihat ketampanan yang dimiliki oleh seorang lelaki arogan di depannya. Kemudian, para wanita itu pun kompak menatap Vesenia yang tersenyum penuh makna menatap kepergian Rafif.
“Vesenia, kamu berutang cerita pada kami!” hardik salah satu wanita bergaun glamour dengan pandangan penuh menelisik.
Sementara itu, nyatanya Rafif tidak benar-benar keluar dari klub. Langkah lebar lelaki itu mengarah pada salah satu ruangan yang berada di lantai dua. Jelas saja pengunjung di sini tidak terlalu ramai dibandingkan berada di lantai yang berisikan bar, dance floor, lighting, dan disk jockey sekaligus striptease memperlihatkan kemolekkkan tubuhnya hanya terbaluti pakaian dalam.
Pemandangan yang menjadi santapan lapar bagi para lelaki itu tampak memanjakan mata. Hanya saja tidak berlaku bagi Rafif yang memang tidak pernah menyukai hal-hal berbagai sek* bebas. Sebab, ia masih memikirkan perasaan Regina jika mengetahui dirinya melakukan hubungan terlarang.
Jelas saja sebagai seorang kakak, Regina pasti akan sangat kecewa sekaligus tidak percaya bahwa adiknya akan berbuat semurahan dan sebajingan itu hanya untuk mendapatkan kepuasan tanpa memikirkan dampak ketika sudah dewasa nanti.
Memang tidak dapat dipungkiri berbagai penyakit kelamin akan lelaki itu rasakan jika hidup bebas. Apalagi bergonta-ganti pasangan yang tidak akan mengerti bagaimana kehidupan pasangan tersebut sehari-hari.
Rafif terhenti melihat punggung mungil yang terbaluti gaun tidak asing diingatannya. Membuat lelaki itu langsung tersenyum lebar dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
“Rafif, kamu sudah datang?” tanya seorang wanita mengalun lembut membuat Rafif tersenyum lebar dan mengendurkan pelukan tersebut, lalu memutar tubuh hingga menghadap tepat pada dirinya.
“Sudah menungguku, ya?” tebak Rafif setengah menggoda dengan menjawil gemas hidung mungil Reni yang tampak berdiri lancip nan tegak.
Reni memutar bola matanya malas. “Apa kamu lupa? Aku melihatmu datang tadi, tapi kamu menyempatkan diri ke Vesenia untuk memberikan sebuah kado. Isinya apa? Gaun seperti yang aku pakai juga?”
“Tentu saja tidak!” balas Rafif cepat. “Aku hanya memberikan paket dari Pimpinan Vald yang sengaja dikirim melalui diriku. Jadi, tidak ada istilah aku yang memberikannya. Karena di sana sudah tertera nama Pimpinan Vald.”
“Benarkah? Aku tidak menyangka bahwa Pimpinan Vald akan menjadi menis dalam memperhatikan keadaan sekitarnya. Bahkan bisa dikatakan beliau sangat senggang hingga menitipkan barang pada orang lain.”
“Itu memang benar-benar darinya, Reni. Kalau kamu tidak percaya lagi, aku akan menunjukkannya padamu bahwa itu memang benar-benar dari Pimpinan Vald.” Rafif berkata dengan lugas, lalu memperlihatkan riwayat chat dirinya bersama Pimpinan Vald selama tiga hari yang lalu.
Sontak hal tersebut membuat Reni yang membacanya mendadak malu, tetapi ia sebisa mungkin tetap bersikap dingin nan datar sembari sesekali mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
“Sudah percaya, bukan?” ucap Rafif tersenyum geli sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Tanpa mengatakan apa pun, Reni menarik pergelangan tangan Rafif dan membawanya masuk ke salah satu ruangan privat. Sebuah kamar bernuansa berani sekaligus sek*si berwarna merah terang menyambut pandangan mata Rafif dan Reni yang baru saja masuk.
Kemudian, wanita cantik berpakaian gaun selutut pembiarian Rafif pun mendudukkan diri di sofa panjang yang menampilkan sekitar empat penari striptease dengan berpasang-pasangan. Hal tersebut mengejutkan Rafif yang masih berdiri kaku di dekat sofa memandangi keberadaan mereka.
Reni yang menyadari hal tersebut pun langsung mengembuskan napas panjang, lalu berseru kesal, “Apa lagi yang kalian tunggu!? Cepat keluar!”
Mendengar hal tersebut keempat pengganggu yang masih berdiri di depan satu set sofa itu pun bergegas keluar meninggalkan Rafif dan Reni. Namun, keempatnya tampak memperhatikan Rafif dengan pandangan penuh minat sampai benar-benar keluar dari kamar.
Sepeninggalnya penari yang sama sekali tidak Rafif duga, ia pun mengembuskan napasnya panjang. Lalu, merebahkan tubuhnya dengan menjadikan kedua pah* Reni sebagai bantalan, meskipun diam-diam ia memperhatikan wajah cantik itu dari bawah.
Sedangkan Reni yang begitu senang akan kehadiran Rafif pun tampak sesekali tersenyum lebar sembari mengusap rambut milik lelaki itu dengan lembut.
“Reni, aku pikir kita berdua akan menyaksikan tarian e****s saat masuk mendapati empat orang setengah telan*jang berpose cukup mengejutkan,” celetuk Rafif mengembuskan napasnya berat.
Reni tertawa pelan dengan menunduk menatap sang kekasih penuh, lalu membalas, “Aku tidak akan sebodoh itu membiarkan kamu melihat wanita lain menari. Kalau kamu mau, aku bisa melakukannya sekarang.”
“Jangan,” potong Rafif cepat sembari memegang tangan Reni erat.
Tanpa sadar tatapan keduanya bertemu dengan begitu dalam membuat Reni mulai mendekatkan wajahnya pada Rafif yang tersenyum lebar, lalu mengangkat tangan kirinya untuk mendorong kepala bagian belakang Reni.
Bibir keduanya pun bertemu dengan saling memanggut satu sama lain. Menimbulkan suara decapan sekaligus gigitan manja yang terasa geli. Kemudian, secara perlahan Rafif pun bangkit dari pangkuan Reni dengan tetap menyatukan bibirnya.
Rafif benar-benar menjadi gil* mencium bibir Reni dengan begitu dalam membuat wanita itu mendes*h pelan seiring dengan nafsunya terbakar sempurna. Dengan keadaan menjadi sedikit panas saat Rafif mulai menggerayapi tubuh wanita itu dan terhenti di sebuah tempat hangat.