“Sebentar, aku haus!”
Seorang wanita yang baru saja datang dengan langkah tergesa-gesa itu pun tanpa pikir panjang mengambil gelas berisikan minuman tinggal setengah. Membuat wanita itu langsung menandaskannya dalam sekejap, lalu menaruh gelas tersebut dengan benturan sedikit keras.
Kemudian, wanita yang terlihat kesal sekaligus kehausan itu pun mendudukkan diri sembari meletakkan seluruh barang bawaannya di bangku kosong di sampingnya. Ia tersenyum paksa dan mengembuskan napasnya kasar.
“Apa yang sedang mengganggu perasaanmu, Nona Owl?” tanya Perwira Jarvis dengan alis bertaut bingung.
“Astaga, aku benar-benar kesal dengan masalah kantor!” jawab Regina memutar bola matanya malas sembari mengeluarkan ponsel yang terus bergetar, lalu menunjukkannya ke arah Jarvis yang terlihat melebarkan mata.
“Itu bukankah ....”
“Iya, benar!” potong Regina cepat. “Dia rekan kerjaku di perusahaan.”
“Apa yang terjadi, Nona Owl? Tidak biasanya kamu kesal seperti ini?”
Regina mengembuskan napasnya kasar, lalu mulai menuturkan semua kekesalannya, “Jadi begini, Pimpinan Vald ternyata pergi ke Slovenia untuk mengembangkan bisnisnya sendiri. Sedangkan perusahaan dia tinggalin begitu aja. Semua pekerjaan benar-benar dilimpahin padaku. Astaga, entah apa yang dia pikirkan sampai melakukan hal ini! Apalagi ditambah perusahaan baru bergerak pulih setelah penutupan paksa kemarin. Rasanya kepalaku benar-benar pecah.”
“Bagaimana dengan tangan kanannya? Bukankah dia sering melakukan bisnis bersama Pimpinan Vald?” tanya Jarvis mengernyit bingung.
“Itulah yang tidak aku tahu!” jawab Regina menjentikkan jemarinya cepat. “Aku dengar dia mendadak menghilang saat melakukan bisnis. Aku tidak tahu bisnis apa yang dijalankan Pimpinan Vald. Karena dia benar-benar tidak bisa ditebak, termasuk mendirikan klub malam yang cukup terkenal, Rainbow Night Club.”
Jarvis mengangguk beberapa kali. Ia memang mendengar banyak hal tentang Theo selama berada di Indonesia. Padahal lelaki itu datang hanya untuk memperluas wilayah bisnis yang ternyata datang hanya dengan niat menghancurkan negara masih dalam tahap perkembangan.
Jelas saja hal tersebut membuat Regina semakin kesal. Apalagi jabatannya sebagai manajer keuangan tidak mungkin ikut campur dalam hal pimpinan eksekutif perusahaan. Sehingga Regina memilih untuk kabur dan tidak akan datanng ke rapat apa pun, selain bersama Theo.
“Oh ya, aku dengar ketentaraan sedang melakukan kerja sama dengan pihak kepolisian untuk meringkas kasus hilangnya Rafif lebih lanjut,” celetuk Regina sesudah memesan menu, termasuk menggantikan minuman milik Jarvis yang sudah dihabiskan ketika baru saja datang.
“Iya, pihak petinggi ketentaraan mulai melakukan eksekusi terhadap kasus LUCA yang ternyata mulai melebar,” jawab Jarvis mengangguk singkat.
“Aku harap masalah ini akan segera selesai. Karena aku sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana keadaan Rafif selama tidak dalam pengawasanku. Apakah dia makan dengan baik? Atau sudahkan dia tidur 8 jam sehari? Aku benar-benar mengkhawatirkannya.” Regina berkata sembari tersenyum kecut memandang kosong ke sembarang arah.
Namun, tanpa keduanya sadari ternyata ada sepasang mata yang mengawasi sejak tadi. Karena tepat jarak dua meja dari sebelah kanan terdapat seorang lelaki berpakaian serba hitam sedang mendudukkan diri sembari menikmati cappuccino coffe yang menyisakan setengah.
Sedangkan tepat di hadapan lelaki itu terlihat seorang gadis cantik yang asyik menatap ponselnya sembari sesekali memakan potongan roti cokelat bakar secara perlahan. Akan tetapi, pandangan wanita itu langsung terhenti melihat rekan kerjanya sesekali menoleh ke arah lain.
“Zian, lo lagi lihatin apa, sih? Gue kok ngerasa lo sedikit-sedikit ngelirik ke sana?” tanya Hafa menatap ke arah pandangan rekan kerjanya yang mengarah pada dua orang berbeda jenis kelamin sedang bercengkrama.
Sejenak Hafa mengangkat alis kanannya sembari memperhatikan keanehan yang terjadi pada Lizian tepat ketika wanita tersebut memasuki kafe dan sempat terdengar membicarakan hal tidak terlalu serius.
“Dia ... pacar lo?” tanya Hafa berhati-hati sembari merendahkan suaranya agar tidak terdengar orang lain.
Lizian menggeleng sembari tersenyum kecut. “Bukan. Dia kakaknya Rafif, Regina.”
“Benarkah?” Hafa melebarkan matanya tidak percaya dan kembali menatap wanita cantik yang terlihat sedikit berbeda. “Dia kelihatan jauh lebih muda daripada yang dulu. Gue pikir Kak Regina merasa kehilangan akibat mengetahui adiknya belum ditemukan.”
“Sebenarnya awal-awal dia juga sedih, tapi mau bagaimana lagi pekerjaan menuntut dia agar selalu tampil segar. Jadi, mau enggak mau dia berubah seperti tanpa beban sekarang,” balas Lizian mengangkat bahunya acuh tak acuh.
“Astaga, Kak Regina masih bekerja di Valder Logistic?” Hafa melebarkan matanya terkejut, lalu menatap tidak percaya pada seorang wanita yang terlihat asyik bercengkrama bersama seorang lelaki tampak tidak asing.
“Fa, lo akan paham ketika bekerja di perusahaan orang lain. Walaupun itu milik Pimpinan Vald, tapi hubungan di dalamnya benar-benar rumit. Hanya orang yang benar-benar memiliki relasi hubungan dengan orang kantor. Jadi, kalau memang bukan berasal dari sana, maka lo akan tersesat,” tutur Lizian diakhiri dengan senyuman tipis sembari menandaskan minumannya, lalu bangkit dari tempat duduk.
Sontak hal tersebut membuat Hafa ikut bangkit dan mengenakan hoodie merahnya kembali. Namun, sebelum itu ia menyempatkan diri menatap ke arah seorang wanita yang tampak tertawa tanpa beban, meskipun Hafa bisa menebaknya bahwa Regina hanya berusaha menyembunyikan kesedihannya dari orang lain.
Setelah itu, Hafa pun menyusul langkah Lizian yang keluar dari kafe melalui pintu samping. Sebab, ketika mereka berdua datang memang melalui pintu samping yang langsung menjurus pada area parkir kafe tidak terlalu besar.
Keduanya meninggalkan kafe yang sempat dijadikan untuk bersantai sekaligus membicarakan masalah kasus menuju kepolisian metropolitan. Lizian kali ini mengendarai mobil jeep miliknya yang sama persis dengan milik Rafif, tetapi pembedanya pada bagian warna dan beberapa modikasi yang telah dilakukan oleh Lizian.
“Fa, cepat selidiki semua bukti yang sudah kamu temukan tadi, termasuk foto jajaran petinggi dari bukti pemberian seseorang,” titah Lizian tepat ketika ia melajukan mobilnya secara perlahan untuk keluar dari pekarangan kafe yang tidak terlalu besar.
Hafa yang mendengar hal tersebut langsung meraih sebuah tas di jok penumpang, lalu membukanya dengan mengetikkan sesuatu di atas keyboard dengan sangat lincah. Menampilkan layar hitam bertuliskan hijau dengan kode pemrograman mulai terpampang jelas.
“Nanti hasilnya gue kasih ke lo atau membicarakan di kantor?” tanya Hafa sembari melihat-lihat biodata dari masing-masing orang yang berada dalam foto tersebut.
“Kirim ke gue, nanti kita di kantor jangan membicarakan apa pun. Karena ini termasuk penyelidikan pribadi. Gue enggak mau ambil risiko kalau lo terkena sesuatu, jadi sebisa mungkin lo jangan terlibat lebih jauh, Fa,” jawab Lizian tersenyum tipis.
Sedangkan gadis cantik berperilaku cukup tomboi itu pun mengembuskan napasnya berat. Ia tidak mengatakan apa pun, selain membiarkan Lizian pada pendiriannya. Karena menjadi seorang pemimpin tidak mudah.