Tidak ada yang menyangka titik rendah kehidupan seseorang membuat siapa pun merasa tidak lagi berharga dalam hidupnya. Ia masih tetap tegar, tetapi tidak dengan hatinya yang menjerit tidak terima.
Hal ketidakadilan tersebut nyatanya dirasakan oleh salah satu wanita yang selama ini bekerja di balik layar segala kesusahan. Reni sama sekali tidak menyangka hidupnya akan hancur di tangan seseorang yang selama ini ia percayai lebih dari apa pun.
Akan tetapi, masalah hati memang tidak ada yang bisa menyangka. Nyatanya sampai hari ini Reni begitu bahagia mengetahui bahwa Rafif belum mengatakan apa pun masalah Vesenia yang mengungkapkan rasa sekaligus memintanya untuk segera memutuskan hubungan.
Reni benar-benar tidak menyangka bahwa kakaknya akan sekeji itu. Membuat seorang wanita memeluk tubuhnya sendiri di sudut kamar yang kosong. Ia memang tidak memberi kabar pada siapa pum mengenai keberadaan dirinya yang berada di tempat milik Theo, seorang diri.
Saat gadis itu mendengar suara pintu diketuk pun tidak langsung membukanya, melainkan melihat seseorang datang bersama paket di tangan. Hal tersebut membuat Reni mengembuskan napasnya panjang. Ia memang tidak berniat untuk memberikan izin masuk pada siapa pun, karena suasana hatinya benar-benar dalam keadaan terburuk.
“Nona Reni, ada paket untukmu,” ucap seorang kurir bertopi merah dengan jaket rompi berwarna kuning.
“Dari siapa?” tanya Reni mengernyitkan keningnya bingung, lalu meraih sebuah kotak yang tidak terlalu besar.
“Tuan Rafif,” jawab kurir tersebut menuliskan sesuatu di ponselnya dan tersenyum singkat pada Reni yang berdiri tak bergeming.
Kemudian, kurir yang sudah cukup mengenal Reni itu pun melenggang pergi dengan sebuah tas di tangannya cukup besar. Tentu saja sudah dapat ditebak bahwa tas tersebut berisikan paket dari unit apartemen lain yang belum sempat diantarkan.
Namun, nyatanya hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi tatapan Reni terhadap paket yang ada di tangannya. Jelas saja ia merasa penasaran terhadap paket yang dikirimkan oleh kekasih, ralat seseorang yang sekarang dekat dengan dirinya.
Sejenak Reni mendudukkan diri di ruang tengah apartemen sekaligus menjadi satu-satunya ruang terbesar yang ada di sana. Membuat seorang wanita berpakaian gaun dengan rok sedikit mekar berwarna putih itu pun mendudukkan diri sembari memegang sebuah cutter mini di tangan kanannya.
Secara perlahan dan pasti, paket tersebut akhirnya telah dihempaskan dengan pembungkus berwarna putih yang cukup menggemaskan. Hanya saja wanita itu terpaku pada sebuah kardus cukup lebar dengan isi yang semakin membuatnya penasaran.
Reni membuka paket tersebut dengan mata melebar tidak percaya. Di dalam kotak yang tidak terlalu besar itu pun terpampang sebuah gaun berwarna pink berpita di tali bagian kanan dengan begitu cantik.
Pandangan wanita itu terpaku pada secarik kertas yang berhiasi dengan pelangi bersamaan sepasang kekasih saling berciu*man. Hal tersebut membuat Reni tersenyum geli dan mengambil benda tersebut untuk segera membacanya.
Dear Reni ....
‘Sebelumnya perkenalkan namaku Rafif. Seorang polisi yang pernah menyamar sebagai pelanggang di Rainbow Night Club untuk menyelidiki berbagai bisnis yang bersembunyi di belakangnya. Cukup mengejutkan aku bisa bertemu dengan wanita seperti dirimu, Reni.
Jujur saja, aku telah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Hatiku berdebar sangat keras seiring dengan tatapanmu yang lembut dan menggoda. Aku benar-benar hampir dibuat gil* oleh getaran yang tidak pernah kurasakan selama ini.
Reni, aku menyukaimu. Mungkin ini akan menjadi kata yang sering aku ucapkan bersamamu. Tidak peduli seberapa kita jauh nanti, karena aku akan tetap menyayangimu. Tapi, maaf, rasa sukaku akan menjadi luka untukmu.
Apa kamu tahu? Vesenia mengungkapkan rasa padaku kemarin. Aku sudah menolaknya, tapi aku tidak yakin kalau dia akan menyerah begitu saja. Karena aku sangat paham akan karakter Vesenia yang tidak akan pernah mengalah ketika belum mencapai tujuannya.
Reni, aku minta padamu, apakah kamu bisa menungguku nanti? Aku akan segera menyelesaikan masalah ini agar kita bisa bahagia bersama. Aku tulus menyayangimu. Entah menjadi Reni korban piutang ataupun Reni si adik ipar bosku sendiri.
Oh ya, aku mengirimkan gaun untukmu. Apakah kamu menyukainya? Tolong pakai gaun itu ketika acara pesta di Rainbow Night Club. Aku yakin kamu akan sangat cantik di sana, jadi aku mohon untuk tetap menungguku sampai waktunya tiba.
Dari aku yang menyayangimu,
Rafif.
Garis lengkung menandakan kebahagiaan itu pun tertarik sempurna membentuk senyuman indah. Reni tanpa sadar mengambil gaun yang ada di dalam kotak tersebut, kemudian mulai menyamakan pada tubuhnya. Ia tidak percaya bahwa seorang lelaki seperti Rafif bisa memiliki selera yang begitu baik dalam hal memilih pakaian perempuan.
Reni benar-benar bahagia membuat wanita itu langsung membuka ponselnya dan mengabadikan momen pada secarik kertas yang sengaja ia bidik pada bagian pelangi saja. Setelah itu, mulai meng-upload ke salah satu sosial media yang dirinya punya.
“Do you know what it feel like to curl you lips tirelessly? That’s when I get happiness from you,” gumam Reni sembari mengetik pada ponselnya dengan gerakan lumayan cepat.
(Apa kamu tahu rasanya bibir melengkung tanpa lelah? Itu ketika aku mendapatkan kebahagiaan darimu.)
Setelah itu, Reni pun membawa kotak berisikan gaun menuju kamarnya. Ia hendak menaruh gaun yang sangat cantik itu di dalam lemarinya. Sebab, akan dipakai ketika pesta permintaam Rafif tadi.
Sementara di sisi lain, Rafif tengah menatap ponselnya yang menampilkan sebuah postingan media sosial dari salah satu wanita. Bibir lelaki itu tersungging senyuman kecil melihat sebuah gambar yang terlihat tidak asing.
Tentu saja kegiatan itu pun mengejutkan Lizian yang baru saja selesai membuatkan maka malam untuk sahabatnya. Jelas saja ia merasa lelah, karena tepat dirinya merebahkan tubuh setelah berkendara cukup lama untuk naik dari Pundak sekaligus kembali Jakarta.
“Raf, lo ngapain senyum-senyum gitu. Jadi horror,” celetuk Lizian mengernyit penasaran, lalu meletakkan semangkuk mie ayam kesukaan sahabatnya yang kuahnya telah dipanaskan kembali.
Sebab, Rafif sangat susah ketika lelaki itu meminum minuman panas. Karena harus dalam keadaan benar-benar mendidih. Karena baginya, air hangat saja tidaklah puas.
“Hari ini gue ngirim paket sama Reni,” balas Rafif mematikan layar ponselnya dan meletakkan di atas meja menyambut kedatangan mangkuk berisikan makan malam yang dibawa oleh Lizian.
“Ternyata lo serius sama Reni, Raf? Gue pikir cuma cinta monyet, setelah lo merasakan hati berbunga-bunga, lalu hilang dengan sendirinya.” Lizian berkata dengan mengendikkan bahunya acuh tak acuh.
“Enggaklah. Gue ‘kan udah bilang kalau gue cinta pandangan pertama sama dia. Awalnya memang karena merasa kasihan, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi rasa berbunga yang menjadi rindu,” gumam Rafif tersenyum kecil membuat Lizian yang berada di sampingnya langsung menggeleng tidak percaya.