Sebuah restoran bergaya Italia dengan seorang chef berdiri di tengah-tengah meja mempersiapkan makan malam dalam keadaan panas. Beberapa lelaki berpakaian jas formal dengan di antaranya terdapat Regina yang menjadi satu-satunya seorang wanita.
Meja berbentuk setengah lingkaran yang dipimpin oleh salah satu petinggi dengan jabatan sangat terpemimpin itu pun tampak sesekali tertawa dan meminum bersama. Namun, Regina terlihat tidak melakukan apa pun, selain sesekali melemparkan senyuman ramah agar tidak dianggap sebagai karyawan sombong yang berasal dari Valder Logistic.
“Nona Owl, apakah benar Pimpinan Vald sedang menjalankan bisnis besar-besaran dalam waktu dekat ini?” celetuk salah satu pria bermata duitan.
“Apa maksudmu, Direktur He?” tanya Regina dengan bahasa Mandarin yang lancar, karena ternyata semua tamunya berasal dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
“Tidak apa-apa, Nona Owl. Mungkin kamu juga belum mengetahuinya. Jadi, beberapa hari yang lalu Pimpinan Vald datang ke Samson Tech untuk meminta merger pabrik pinggiran kota. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, tetapi belakangan ini aku melihat banyak sekali karyawan Valder Logistic yang melakukan penggerakan di sana,” jawab Pak Samson yang menjadi bos dari pemilik acara makan malam hari ini.
Jawaban tidak terduga itu pun sukses membuat Regina melebarkan matanya terkejut. Wanita yang sama sekali tidak mengetahui masalah ini menjadi curiga, karena seluruh kantor tidak ada yang membicarakan masalah ini. Entah memang dirahasiakan, atau hanya dirinya saja yang tidak mengetahui hal tersebut.
Akhirnya, Regina pun tidak menanggapi perkataan tersebut. Ia hanya tersenyum sungkan menghindari tatapan penasaran dari beberapa kolega asing di sana, lalu kembali melanjutkan makan malam dengan menu yang berbeda, yaitu steak panggang dengan saus bolognese terasa unik.
Tak lama kemudian, acara makan malan pun selesai dengan Regina yang sudah merasa gerah sekaligus tidak tahan. Meskipun niat awalnya hanya untuk menghormati mereka sebagai kolega, tetapi lama-kelamaan ia merasa bahwa para lelaki itu hanya memanfaatkan semua informasi dari dirinya.
Jelas saja Regina tidak mudah dibohongi. Wanita itu tetap berpegang teguh terhadap pendiriannya yang tidak akan pernah membocorkan masalah perusahaan, walaupun pada saat itu juga posisinya akan segera berakhir sebagai Manager Keuangan.
Selepas mengantar para kolega tersebut keluar dari restoran, kini hanya ada Pak Samson dan Regina yang masih tersisa. Keduanya mengembuskan napas panjang sembari menatap kepergian mobil sewaan menuju salah satu hotel mewah yang terdekat.
Pak Samson menoleh ke arah wanita cantik yang ada di sampingnya, lalu berkata, “Nona Owl, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam Valder Logistic, tetapi makan malam penyambutan tadi benar-benar saya beri apresiasi besar,” ucap Pak Samson tersenyum tulus sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan berwarna biru dongker.
Seorang wanita berpakaian kemeja putih yang dipadu dengan rok selutut berwarna abu-abu itu pun mengangguk pelan, lalu membalas, “Terima kasih atas ketenggangan rasa yang Pak Samson berikan. Tapi, saya memang tidak tahu-menahu masalah merger dan akusisi. Karena tugas saya hanya sebagai Manager Keuangan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah ini.”
“Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu, saya pamit pulang dan Nona Regina pastikan keselamatan dengan baik. Karena menyetir malam-malam seperti ini butuh ketelitian.”
Setelah mengetakan hal tersebut, Pak Samson pun melenggang pergi bersama mobil Mercedes mewah yang berwarna putih. Meninggalkan Regina yang tersenyum kecut mendengar perkataan lelaki itu.
Kemudian, Regina pun melangkah dengan gontai menuju mobilnya terparkir. Ia benar-benar lelah sampai rasanya tidak bisa melakukan apa pun, selain tertidur di kamar layaknya orang malas. Meskipun pada kenyataannya ia sudah bekerja dan benar-benar bekerja keras.
Sebuah mobil sedan mungil nan unyu berwarna biru terang itu pun terhenti pada sebuah rumah cukup besar yang hanya ditinggali oleh sepasang kakak beradik, meskipun pada kenyataannya mereka berdua sudah lama berpisah. Akan tetapi, Regina sama sekali tidak ingin mengganti rumah karena ia takut jika pada saat berpindah tempat, ternyata adiknya ditemukan dan tersesat akibat tidak tahu harus pergi ke mana dan bersama siapa.
Saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobil pribadinya, tiba-tiba tatapan Regina terpaku pada beberapa penjaga restoran yang tampak berbeda. Ia merasa tidak asing pada wajah-wajah yang ada di sana membuat wanita itu melebarkan matanya sembari menggeleng tidak percaya. Ternyata Lizian benar-benar memerintahkan personil polisi untuk mengamankan keadaannya.
Sebenarnya lelaki itu tidak hanya sekedar mengamankan restoran saja, melainkan mencari informasi mengenai keberadaan Theo yang sudah lama sekali tidak terdeteksi. Sebab, lelaki itu melakukan perjalanan rahasia dengan bersama beberapa pengawal melalui perjalanan udara yang membayar mahal agar keberadaannya bisa dihambat selama beberapa hari saja.
“Zian, lo yang naruh semua polisi di depan restoran, ya?” tebak Regina tertawa pelan sembari mengendarai kendaraan beroda empat itu membelah jalanan ibukota yang tidak terlalu ramai.
“Iya, Kak. Gue bukannya udah bilang sama lo?” balas Lizian terdengar santai sembari mengembuskan napasnya panjang.
“Gue pikir personil polisi itu sibuk, tapi ternyata benar-benar mengejutkan. Bahkan mereka tidka melakukan apa pun, selain mengawasi sekitar.” Regina berkata sembari sesekali menoleh ke arah kaca spion yang menampilkan deretan kendaraan berbaris di belakangnya dengan beberapa memutar balik untuk mencapai tempat yang ingin dikunjungi.
“Bukan begitu, Kak. Gue cuma melakukan apa yang harus gue lakukan. Karena masalah ini juga menyangkut dengan kepolisian kalau ternyata lo dalam keadaan bahagia. Tentu tindakan gue tadi untuk pencegahan sekaligus perlindungan bagi saksi dari segala kemungkinan akan terjadi di sekitarnya,” ujar Lizian berkata dengan penuh tanggung jawab.
“Makasih, Zian. Gue takut lo enggak akan seperti mereka. Jadi, gue benar-benar tulus berterima kasih sama lo udah nyelidiki masalah ini sampai melawan atasan lo sendiri,” ucap Regina mendadak kaku membuat Lizian meringis pelan.
“Jangan berbicara seperti itu, Kak. Gue benar-benar mendapat perintah dari Rafif dan rasanya gue bersalah banget kalau enggak menunaikannya. Jadi, merasa sungkan sama gue lagi.”
Setelah itu, panggilan pun terputus dengan Regina mengembuskan napasnya panjang sembari memegangi roda kemudi yang mulai digerakkan sesuai dengan irama jalan. Yang berkelok dan lurus tanpa celah.
Sedangkan Lizian yang baru saja menyelesaikan panggilan pun meraup wajahnya sembari mengembuskan napas kasar. Lelaki itu nyatanya tengah bersama Rafif yang baru saja datang membawa bukti-bukti lain di tangannya.
“Regina sering menelepon lo seperti ini, Zian?” tanya Rafif menatap penuh membuat Lizian terdiam tak berkutik.