Lizian mengembuskan napasnya panjang sembari menatap personil polisi asing yang ada di hadapannya. Membuat lelaki itu langsung membuka dashboard mengambil surat-surat resmi yang diminta oleh personil polisi lalu lintas di hadapannya.
Kemudian, lelaki itu pun menyerahkan SIM, STNK, dan kartu identitasnya sebagai polisi kriminal membuat personil polisi lalu lintas di hadapannya melebarkan mata terkejut. Membuat personil polisi lainnya yang di samping ikut tidak percaya.
“Maafkan kami, Petugas Lizian!” sesal dua polisi lalu lintas tersebut dengan tegas.
“Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugasmu untuk mengamankan lalu lintas,” balas Lizian tersenyum tipis dan mengambil surat-surat resmi miliknya dan kembali menaruh di dalam dashboard.
“Selamat bertugas kembali, Petugas Lizian. Maafkan kami sudah lancang terhadapmu,” ucap keduanya bersamaan.
Hal tersebut membuat Lizian kembali melajukan mobilnya turun dari Puncak dengan suara sirine membelah jalan raya. Tentu saja di belakang mobil lelaki itu terdapat beberapa mobil pribadi lainnya yang mengikuti.
Tentu saja perbuatan curang itu membuat Lizian menggeleng tidak percaya. Terkadang ia merasa bingung terhadap orang-orang yang tidak ingin mengambil risiko dengan membayar polisi untuk membuka jalan demi naik Puncak secara instan.
Perbuatan curang yang memanfaatkan dirinya sebagai polisi itu pun membuat Rafif berbelok ke salah satu restoran. Hal tersebut membuat sekitar empat mobil di belakangnya ikut terhenti kebingungan.
Saat berbelok masuk ke restoran, Lizian tersenyum lebar menatap mobil pribadi yang terlihat kebingungan ingin melanjutkan perjalanan sekaligus memaksa masuk dalam barisan agar tidak mengganggu perjalanan.
Sejenak Lizian melenggang masuk ke restoran bergaya sunda yang memiliki beberapa pengunjung. Lelaki itu melangkah dengan santai menduduki salah satu meja kosong membuat pelayan mendekat sembari membawa menu di tangannya.
“Ingin pesan apa, Kang?” tanya pelayan berwajah manis tersebut dengan ramah.
“Makan siang paket lengkap. Dad* ayam kremes, sambal ijo, parung sapi, dan abon sapi. Kemudian, minumnya es teh manis panas dua gelas, tetapi satunya diantar terakhir,” jawab Lizian memberikan menu tersebut.
“Kuahnya ingin sop atau sayur asam, Kang?” Pelayan tersebut bertanya dengan mencatat menu di catatan kecil.
“Sop dengan banyakin wortel.”
Setelah itu, pelayan berwajah manis yang telah menyelesaikan pencatatan menu itu pun melenggang pergi. Meninggalkan Lizian yang terlihat asyik memainkan ponsel sembari menunggu pesanan datang.
Saat lelaki tampan dengan identitas sebagai polisi mengenakan pakaian bebas itu menunggu, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk. Membuat Lizian mengernyitkan keningnya bingung.
Ternyata sebuah foto salah satu perusahaan teknologi terbesar di Jakarta itu pun membuat Lizian penasaran dan langsung menghubungi pihak pengirim.
“Ada apa dengan foto ini, Fa?” tanya Lizian tepat ketika panggilan tersambung.
“Gue dapat dari Nailaraa. Katanya, itu salah satu bukti dari kasus LUCA yang datang hari ini. Setelah gue cari di situs BIN, ternyata milik salah satu mantan agen yang pensiun dan mendirikan salah satu perusahaan teknologi,” jawab Hafa mengembuskan napasnya panjang.
“Baiklah, berikan kabar semua pada gue.” Lizian mengembuskan napasnya panjang sembari menatap pesanannya sudah datang.
“Lo lagi di mana, Zian? Kok gue dengar suara piring?” tanya Hafa penasaran.
“Gue lagi makan malam di restoran,” jawab Lizian jujur.
“Oh, kalau begitu gue tutup dulu. Nanti ada perkembangan lebih lanjut, baru gue kabari,” ucap Hafa memutuskan panggilan tersebut.
Sedangkan Lizian tampak mengangkat bahunya acuh tak acuh. Kemudian, menatap ke arah dua pelayan yang datang membawa pesanan.
“Terima kasih,” ucap Lizian tersenyum singkat membuat dua pelayan di depannya mengangguk ramah.
Setelah itu, Lizian pun mulai menyantap makan malamnya menggunakan tangan. Karena restoran sunda memang tidak menyediakan sendok, dengan mengangkat tema unsur kebudayaan. Sehingga disediakan air kobokan yang terdapat dalam mangkuk kecil.
Beberapa lama menyantap makan malam, Lizian pun menyelesaikan kegiatannya dengan menyisakan beberapa lauk yang sengaja ditinggalkan. Lelaki itu tampak mengambil ponselnya yang bergetar tanpa henti.
“Halo, Kak Regina!” sapa Lizian menyandari wanita cantik yang selama ini menjadi amanah untuk dititipkan pada dirinya.
“Zian, lo ada di mana?” tanya wanita itu terdengar penasaran.
“Ada masalah, Kak?”
“Enggak. Tadi gue dapat laporan katanya lo datang berkunjung ke Sanatorium.”
“Oh, iya tadi gue memang sempat ke sana. Untuk menunaikan perintah dari Rafif sebelum dia dikatakan hilang.”
“Terima kasih, ya. Mamah gue jadi enggak terlalu sedih lagi. Karena sempat curiga kalau Rafif terjadi sesuatu. Sampai lo datang, dokter mengatakan bahwa Mamah mulai rutin menjalani pengobatan.”
“Jangan terlalu sungkan, Kak. Gue senang membantu Rafif.”
“Kalau begitu, gue tutup dulu. Ada beberapa pekerjaan kantor yang perlu gue lakuin.”
“Apa itu, Kak?”
“Perusahaan Valder Logistic ingin melakukan makan malam bersama petinggi Samson Tech di salah satu restoran yang gue juga belum tahu persisnya. Karena orang-orang kantor belum bilang apa pun.”
Sejenak Lizian mengingat foto yang dikirimkan oleh Hafa membuat lelaki itu melebarkan matanya terkejut. “Maksud lo perusahaan teknologi, Kak?”
“Iya, benar. Samson Tech bergerak dibidang teknologi,” jawab Regina terdengar ringan.
Sontak perkataan itu pun membuat Lizian melebarkan matanya terkejut. Ia tidak percaya akan ada kebetulan seperti ini. Apalagi perjalanan menuju Jakarta cukup jauh.
“Jam berapa lo makan malam, Kak?” tanya Lizian terdengar serius.
“Sekitar jam 8.00 pm,” jawab Regina mendadak ragu. “Apa ada sesuatu yang salah, Zian? Sepertinya lo menemukan sesuatu yang baru.”
“Iya, Kak. Gue baru aja dapat bukti kalau pengikut LUCA termasuk Samson Tech, jadi lo harus berhati-hati saat makan malam nanti, Kak.”
“Tenang aja, Zian. Gue datang ke sana mewakilkan Valder Logistic. Enggak akan terjadi sesuatu.”
“Baiklah. Gue akan mengutus beberapa personil polisi untuk menjaga tempat makan malam itu agar bisa lebih dikendalikan dengan baik.”
Regina mengembuskan napasnya panjang. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Lizian pasti akan terjadi, karena lelaki itu menekuni kasus LUCA cukup lama. Bahkan segala perkembangnan yang dilakukan sudah dilaporkan dengan baik. Hanya saja sampai hari ini masalah Rafif belum diketahui membuat wanita itu merasa sedikit kecewa.
“Terima kasih, Lizian. Lo udah bekerja keras menangani masalah ini,” ucap Regina dengan tulus.
Setelah itu, panggilan pun terputus dengan Lizian mulai memijat kepalanya lelah. Ia tidak percaya akan ada kebetulan seperti ini. Namun, sebisa mungkin lelaki itu tidak memperlihatkan kekhawatirannya yang berlebihan.
Dirasa cukup tenang, Lizian pun langsung mengirimkan pesan pada personil polisi untuk mengamankan tempat yang mungkin akan menjadi tempat makan malam bagi perusahaan Valder Logistic dan Samson Tech.
“Halo Nai, tolong turunkan polisi untuk mengamankan Regina yang ingin makan malam bersama Samson Tech,” ucap Lizian tepat saat panggilan tersambung,
“Baik, Petugas Lizian!” balas Nailaraa mantap.
Kemudian, panggilan itu pun terputus dengan Lizian menyandarkan tubuhnya lelah. Ia tidak percaya ditinggalkan kasus oleh Rafif akan menjadi seberat ini.