Sebuah mobil jeep berwarna putih yang dikendarai oleh Lizian pun membelah jalan padat merayap dengan beberapa di antaranya terlihat mobil terpakir sembarangan di bahu jalan. Membuat akses jalan raya tersebut semakin tersendat.
Pada layar yang ada di dalam mobil milik Lizian terlihat sebuah maps menuju salah satu tempat dengan tidak diketahui jelas. Membuat arah jalan tersebut tampak sesekali berpindah membuat Lizian langsung mematikan alat tersebut dan menggantikan dengan playlist dari salah satu penyanyi Barat, yaitu Charlie Puth dengan lagu terbarunya Cheating On You.
Selama lagu memutar dengan begitu indah, Lizian pun menghentikan laju di depan sebuah rumah sakit yang bisa dikatakan jarang sekali ditemui oleh siapa pun. Sebab, ini kali pertama dirinya menyadap ponsel Regina untuk mengetahui segala akses yang telah dilalui oleh Rafif.
Sanatorium di depannya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa dokter dan perawat yang terlihat berlalu-lalang dengan membawa catatan medis di tangannya.
Lizian melangkah dengan santai sembari membawa buah tangan berisikan buah dan beberapa makanan cemilan khas untuk wanita paruh baya. Lelaki itu sesekali tersenyum pada lansia yang kebetulan bertemu.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya seorang perawat berdiri dari tempat duduknya.
“Saya ingin mencari pasien bernama Ibu Moneta,” jawab Lizian tersenyum tipis.
“Baik, tunggu sebentar.” Perawat yang berjaga di bagian depan itu pun kembali mendudukkan diri untuk mencari pasien disebutkan tadi.
Sampai beberapa lama menunggu, Lizian pun sudah terlihat kebosanan. Akhirnya, pasien bernama Moneta pun ditemukan.
“Kalau boleh tahu kamu siapa, ya?” tanya perawat tersebut.
“Saya Lizian, sahabatnya Rafif.”
“Oh, sahabatnya Rafif. Saya mengenal dia. Kalau begitu, silakan Pak Lizian naik ke lantai 3 dengan nama Moneta sudah ada di depan pintu.”
“Baiklah. Terima kasih banyak.”
Setelah itu, Lizian pun melenggang santai menuju lantai yang disebutkan tadi. Ia memang sengaja datang untuk mengunjungi wanita paruh baya yang selama ini hanya dikunjungi oleh Regina. Karena beberapa kali riwayat perjalanan menuju ke sini.
Sesampainya di sebuah ruangan yang bertuliskan Moneta membuat Lizian mengembuskan napasnya panjang dan melenggang masuk sembari tersenyum lebar ketika mendapati seorang wanita paruh baya tengah duduk di meja makan.
“Bu Moneta,” panggil Lizian memastikan bahwa wanita paruh baya yang ada di hadapannya benar-benar bernama Moneta.
“Iya, kamu siapa?” tanya wanita paruh baya tersebut mengernyit bingung.
“Aku Lizian, sahabatnya Rafif,” jawab lelaki itu mendudukkan diri sembari memberikan buah tangan bawaannya di hadapan wanita paruh baya tersebut.
“Ke mana Rafif? Sudah lama sekali dia tidak datang?”
“Rafif sedang ada urusan, Bu. Jadi, aku yang menggantikannya ke sini.”
“Apakah pekerjaannya sebagai polisi melelahkan sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk berkunjung?”
“Bukan seperti itu, Bu. Rafif sedang memiliki kasus yang harus diselidikinya sendiri.”
Sejenak Moneta tampak menundukkan kepalanya sedih sembari meletakkan separuh pekerjaan merajutnya di atas meja. Hal tersebut membuat Lizian mengembuskan napasnya panjang, ia menjadi merasa bersalah telah mengingatkan wanita paruh baya tersebut dengan Rafif.
“Ibu, sedang membuat apa ini?” tanya Lizian mengalihkan pembicaraan sembari mengambil beberapa gelungan benang wol berwarna merah.
Moneta kembali mengangkat kepalanya, lalu tersenyum lebar. “Aku sedang membuat pakaian untuk Regina, karena beberapa hari ini dia datang mengeluh dingin padaku. Jadi, aku ingin membuatkannya satu pakaian tebal untuk dipakai.”
“Wah, Ibu bisa membuat pakaian rajut?”
“Tentu saja aku bisa merajutnya sendiri dengan hasil tanganku, tapi memang tidak sempurna.”
“Itu tidak akan menjadi masalah, Kak Regina pasti senang mendengarnya.”
“Apakah kamu mengenal Regina juga?” tanya Moneta menyadari lelaki muda di sampingnya begitu antusias.
“Iya, aku mengenal sejak Kak Regina sering datang mengunjungi Rafif di kantor,” jawab Lizian meringis pelan.
“Dari dulu Regina memang tidak pernah bisa melepaskan adiknya. Bahkan sampai sedewasa itu pun masih sering datang ke kantor.”
“Tidak apa-apa, Bu. Mereka berdua saling menjaga satu sama lain.”
“Iya, benar. Regina juga terakhir kali datang mengatakan bahwa adiknya semakin keras kepala dan susah untuk dilarang bekerja. Padahal Rafif bisa saja membuka perusahaannya kembali agar bisa bekerja sembari mengawasi keluarganya.”
Sejenak Lizian yang mendengar hal tersebut langsung tercenung. Ia tidak tahu bahwa Regina menyimpan rahasia akan hilangnya Rafif dari ibunya sendiri. Meskipun hal yang dilakukannya sudah benar, karena kesehatan Moneta akan terganggu jika mengetahui kebenaran tersebut.
“Masalah Rafif biar aku saja yang mengatakannya, Bu. Karena Rafif benar-benar gil* bekerja sampai tidak memedulikan waktu.”
Moneta mengangguk beberapa kali, lalu menghentikan kegiatan merajutnya. “Apakah kamu benar-benar sahabatnya Rafif?”
“Iya, aku bersahabat dengan Rafif sejak masuk Universitas Kepolisian Nasioal,” jawab Lizian mengangguk meyakinkan.
“Apakah selama ini Rafif ada melakukan hal yang mencurigakan?” tanya Moneta merendahkan suaranya sembari menatap Lizian penuh.
“Mencurigakan?” Lizian mengernyit bingung.
“Tolong kamu peringatkan dia untuk tidak pernah menyelidiki apa pun tentang masa lalu, Lizian. Karena semua yang berlalu tidak seperti dia pikirkan,” ucap Moneta secara gamblang.
“Maksud Ibu?” tanya Lizian mendadak penasaran.
“Tidak ada. Tolong kamu beri tahu dia seperti itu saja. Karena Rafif adalah lelaki keras kepala yang sulit sekali diberikan nasihat. Jadi, kamu sebagai sahabatnya untuk tetap memperingatkan dia. Agar selama Ibu memulihkan kesehatan dapat hidup dengan tenang.”
“Baik, Bu. Aku akan memperingatkan Rafif untuk tetap berada di jalan yang aman,” pungkas Lizian mengangguk mantap.
Setelah berbincang cukup lama dengan wanita paruh baya itu, Lizian pun melenggang pergi dari Sanatorium untuk segera turun dari Puncak. Karena hari mulai gelap membuat dirinya tidak memiliki waktu untuk berlama-lama. Sebab, jalan turun sudah dipastikan akan padat merayap membuat dirinya mengambil sirine yang berada di dashboard dan meletakkannya di atap mobil. Ia akan mempersingkat waktu menggunakan identitasnya sebagai polisi.
Namun, saat melakukan perjalanan dengan membelah jalanan lenggang dari balik arah, tiba-tiba ada polisi lalu lintas yang berusaha memotong perjalanan Lizian. Membuat lelaki yang berada di dalam mobil itu pun mengembuskan napasnya panjang. Tentu saja polisi lalu lintas itu hendak mempertanyakan identitasnya telah menggunakan sirine dengan mobil pribadi seperti ini.
Sesaat Lizian memperlambat laju mobilnya saat melihat salah satu personil polisi menggunakan motor dinas berada tepat di depannya, memblokir jalan. Membuat lelaki itu mau tidak mau berhenti, lalu membuka kaca jendela.
“Selamat sore! Bisa tunjukkan identitas dan surat-surat kendaraan,” ucap seorang polisi dengan bernada tegas membuat Lizian memutar bola matanya malas. Ia benar-benar merasa kesal telah diberhentikan seperi ini.