Sebuah ruangan bernuansa gelap itu pun terlihat empat petinggi kepolisian saling berkumpul untuk membicarakan masalah kasus terbuka Lizian yang mengumumkan secara gamblang di hadapan banyak media membuat goncangan terbesar bagi kepolisian metropolitan.
“Apa yang harus kita lakukan? Lizian pasti sedang memburu banyak polisi. Bahkan saya mendengar hari ini dia sudah menurunkan dua petinggi kepolisian antar divisi,” celetuk seorang polisis berwajah penuh wibawa yang terlihat sedikit ketakutan.
“Tenang saja, Pak Pramono. Saya juga tidak bisa menjamin bahwa Lizian tidak akan menyentuh orang-orang yang ada di sini. Karena saya harus memastikan semua jalan rahasia itu mengalihkan banyak relasi kepolisian terhadap LUCA,” jawab seorang petinggi berkepala plontos dengan raut wajah keriput mengelilingnya.
“Saya juga tidak akan pernah bisa bersantai selama Lizian masih ada di sini, karena dia sebuah ancaman,” balas Pak Zarco dengan helaan napas panjang menyiratkan dendam begitu mendalam.
Empat petinggi eksekutif kepolisian itu pun masih tidak terima akibat tindakan Lizian begitu berani mengumumkan hal tanpa disangka sama sekali. Bahkan beberapa orang tampak tidak percaya bahwa lelaki itu benar-benar berkata di depan Pimpinan kepolisian seakan ingin memberi tahu bahwa personil polisi tidak selamanya orang.
“Tenang para petinggi kepolisian, saya akan membujuk Pak Andri untuk bergabung pada LUCA,” sahut Pak Pramono yang gemar sekali mengajak banyak orang untuk bergabung mengambil keuntungan bersama.
Namun, saat keempatnya asyik berbincang mengenai masalah Lizian yang berani di depan awak media, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan dari luar membuat salah satu dari mereka langsung menoleh dan masuklah dua pelayan pembawa kereta makanan.
“Permisi, Pak Zarco. Ini makanan pesanan yang sudah siap,” ucap salah satu dari dua pelayan yang masuk sembari membungkuk hormat.
Sejenak ketiganya terdiam membiarkan pelayan tersebut menaruh satu per satu makanan di atas meja sekaligus minumannya yang terlihat nikmat. Namun, tanpa sepengetahuan ketiganya, ternyata salah satu pelayan tersebut adalah Hafa yang bersembunyi di balik masker sembari mengoper makanan tersebut.
Memang pelayan di ruangan kepolisian tingkat eksekutif memiliki ketentuan untuk memakai masker agar tidak diketahui oleh banyak orang agar identitasnya tetap terjaga, dan tentunya terhadap penyusup agar lebih sulit diketahui.
Setelah selesai menaruh makanan dan minuman tersebut, dua pelayan tadi pun memundurkan diri. Akan tetapi, Hafa dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan secara diam-diam memfoto ketiga petinggi kepolisian tersebut untuk mengirimkannya kepada Lizian.
Sementara itu, di sisi lain, Lizian yang baru saja menyelesaikan kasus kekerasan terhadap anak pun menyandarkan tubuh. Ia tampak lelah dengan guratan kening yang tercetak begitu dalam.
Sejenak Lizian merasakan betapa nyamannya berada di ruangan tanpa ada suara apa pun, karena seluruh rekan kerjanya sedang mendapatkan pekerjaa dengan berbagai kasus. Sehingga mereka bertugas secara terpisah.
Saat sedang melakukan pengistirahatan terhadap diri sendiri, ponsel milik Lizian yang berada di atas meja pun bergetar singkat. Membuat lelaki yang menjadi pemiliknya itu pun menoleh, lalu mengernyitkan kening.
Kemudian, dengan cepat lelaki itu langsung membukan pesan singkat yang berisikan foto dari Hafa. Sebuah pertemuan rahasia dengan ruangan sedikit asing.
Baru saja Lizian hendak menghubungi Hafa, tiba-tiba di layar ponselnya sudah terpampang jelas nama gadis tersebut. Membuat Lizian langsung menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga.
“Halo, Fa. Apa yang terjadi?”
“Lo udah buka foto yang gue Kirim?” tanya Hafa berusaha melangkah menjauhi dapur yang menjadi tempat penyamarannya sembari mengenakan pakaian kepolisian lagi, dengan name tag bergantung indah di lehernya.
“Udah, itu tiga petinggi yang ada pas gue umum kasus terbuka, ‘kan?” balas Lizian mendadak tidak mengerti.
Langkah Hafa pun terhenti, lalu memperhatikan sekitar yang tidak ada siapa pun membuat gadis itu berbalik menghadap jendela lumayan besar menampilkan sisi gedung kepolisian. Tentu saja ia masih berada di lantai yang sama seperti Lizian. Hanya saja ruangan tersembunyi itu tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang.
“Zian, ini benar-benar mengejutkan. Gue baru aja nemu ruangan tersembunyi yang ada di lantai 3,” bisik Hafa membuat lelaki yang ada di seberang mengernyit bingung.
“Maksud lo apa, Fa?”
“Lo ingat kalau gue punya beberapa kenalan pelayan kantor? Ternyata pas gue nyelidiki di sana, gue menemukan ruangan yang hanya bisa diakses oleh pelayan berlisensi resmi. Untungnya gue sempat menemukan kartu aneh ketika berganti pakaian.”
“Apa yang mereka katakan?”
“Gue enggak tahu jelasnya, tapi mereka seperti merencanakan sesuatu. Karena ini menyangkut kasus terbuka yang lo umumkan itu. Sepertinya banyak pengikut LUCA yang merasa terancam sekaligus tidak terima.”
“Apa lagi yang lo temukan, Fa?”
“Belum ada. Gue masih dalam perjalanan kembali, karena kebetulan kenalan gue ini udah habis masa kerjanya. Jadi, gue harus segera keluar dari sini sebelum ketahuan oleh petinggi polisi itu.”
“Oke, hati-hati, Fa. Jangan sampai ketahuan.”
“Tenang aja. Gue pasti berhati-hati, karena kalau gue tertangkap. Lo enggak akan ada siapa pun lagi yang bisa membantu.”
Mendengar candaan itu, Lizian pun hanya tersenyum geli. Kemudian, memutuskan panggilannya dengan kembali menatap foto yang dikirimkan oleh Hafa. Entah kenapa ia merasa sesuatu yang besar akan terjadi, ini sudah beberapa kali perasaannya mengatakan hal yang sama.
Setelah berpikir cukup lama, Lizian bangkit dari tempat duduk dan meraih jaketnya yang disampirkan pada sandaran kursi. Lelaki itu melangkah dengan lebar keluar dari ruangan, dan bertepatan dengan salah satu personil polisi hendak masuk.
“Bang Zian, baru gue mau masuk,” celetuk salah satu polisi muda membawa berkas di tangannya.
“Ada apa?” tanya Lizian memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
“Ini berkas yang lo minta tentang kasus Keluarga Osm. Udah lama banget enggak ada yang nanyain ini, jadi gue lumayan susah nyarinya. Karena beberapa kasus sudah dimusnahkan,” jawab polisi muda itu memberikan sebuah amplop bewarna hitam polos.
Lizian menatap benda tersebut dengan anggukan pelan. “Terima kasih.”
“Oh ya, Bang, gue mau bilang kalau tadi pas gue nyari berkas ini ada beberapa orang datang mencari berkas yang sama. Untungnya udah gue amankan lebih dulu, dan langsung gue bawa ke lo.”
“Siapa?” Lizian tampak penasaran sekaligus serius mendengar perkataan personil polisi yang bertugas di bagian teknisi sekaligus arsip barang bukti. Salah satu pekerjaan bagi polisi yang baru saja masuk dan lulus tes.
“Kurang tahu juga, tapi mereka kelihatan bukan dari kepolisian. Jadi, gue enggak terlalu mengurus. Karena lo udah bilang kalau berkas ini harus disampaikan secara langsung tanpa melalui perantara,
“Bagus! Lo udah bertindak dengan benar,” pungkas Lizian melenggang pergi dengan senyuman tipis di wajahnya.