Kecurigaan Lizian terhadap keterlibatan anggota polisi terhadap organisasi gelap LUCA pun menguat dengan banyaknya surat yang mulai berdatangan. Memberikan banyak bukti berupa foto, surat saksi, dan rekaman kamera pengawas menggunakan disket.
Tentu saja hal tersebut membuat lelaki yang baru saja menyelesaikan makan malamnya itu pun mulai mengerjakan bukti-bukti tersebut untuk memastikan valid dan bukan hanya editan saja. Sebab, masalah ini harus benar-benar diperhatikan dengan baik.
Saat lelaki itu terlihat asyik memastikan semua foto kiriman tersebut valid, tiba-tiba bel pintu apartemen milik Lizian berdenting pelan membuat sang pemilik mengalihkan perhatian dengan kernyitan bingung.
“Siapa!?” teriak Lizian dari dalam, tetapi ia merasa bod*h. Sebab, orang yang berada di luar jelas tidak akan mendengar suaranya. Membuat lelaki itu mengembuskan napasnya kasar dan bangkit dari tempat duduk.
Sejenak Lizian memastikan penampilannya acak-acakan agar terlihat seperti bangun tidur. Mengingat jam dinding di apartemennya menunjukkan pukul 1.00 am. Sehingga siapa pun percaya bahwa dirinya sudah beristirahat.
Saat lelaki itu membuka pintu apartemen dengan kecil, ternyata tepat di depannya terdapat seorang lelaki berpakaian serba hitam tengah menunduk menutup separuh wajahnya. Membuat Lizian mengernyit bingung.
“Cari siapa?” tanya Lizian.
“Gue Rafif,” jawab lelaki itu setengah berbisik sembari menunjukkan wajahnya yang sempat tertutupi oleh tudung mantel cukup besar.
Lizian melebarkan mata tidak percaya, lalu membuka pintu mempersilakan sahabat satu-satunya masuk ke dalam. Kemudian, memastikan tidak ada siapa pun yang mengikuti lelaki tersebut.
Sesaat Lizian menatap Rafif yang melepaskan mantel, lalu menaruhnya pada sandaran kursi tepat di depan pintu. Kemudian, Rafif pun mendudukkan diri di dekat pekerjaan Lizian yang semakin menggunung.
“Bagaimana kabar lo, Raf? Benar-benar nekat datang ke sini,” tanya Lizian mendekat sembari membawa dua gelas berisikan kopi.
“Theo lagi melakukan perjalanan bisnis, jadi gue bisa leluasan datang. Karena memang enggak ada yang bisa memantau gue,” jawab Rafif tersenyum lebar sembari menerima minuman dari sahabatnya.
“Kenapa enggak ngabarin gue kalau mau datang?” Lizian kembali menekuni semua pekerjaannya sembari sesekali menatap Rafif yang sedikit berbeda. Lelaki itu tampak segar dengan wajah yang tidak terawatt, akibatnya kumis-kumis manja mulai tumbuh.
“Gue baru dari Rainbow Night Club. Kebetulan ponsel gue juga ketinggalan di mansion, jadi enggak ngasih tahu siapa pun keberadaan gue.”
“Oh ya, lo enggak nemuin cewek yang ada di tempat itu?”
Mendengar hal tersebut, Rafif terdiam sesaat. “Lizian, gue mau cerita banyak hal, tapi lo harus janji jangan bilang siapa pun. Apalagi sampai masuk laporan kasus lo.”
Sejenak Lizian merasa sesuatu hal tidak enak terjadi pada sahabatnya membuat lelaki itu terlihat sedikit lebih berbeda. Akhirnya, mengalirlah sebuah cerita dari awal Rafif datang sampai ia memutuskan bekerja di sana bersama Vesenia. Bahkan penjelasan mengenai wanita yang ditemuinya di night club tidak tertinggal.
Tentu saja ekspresi keterkejutan Lizian benar-benar membuat Rafif merasa bersalah sekaligus tidak menyangka. Memang tidak ada yang mengetahui hal ini, selain sahabatnya dan dirinya sendiri.
“Astaga, serius lo!? Jadi, cewek itu datang dan nemuin lo di sana? Terus, gimana tanggapan dia?” tanya Lizian beruntut.
“Iya, datang. Dan yang seperti gue cerita tadi kalau dia terkejut, tapi dia udah percaya gue datang ke sana bukan niat tertentu. Karena ternyata dia adiknya Vesenia. Jelas aja dia ngerasa enggak terima dimasa depan nanti memendam kekecewaan,” jawab Rafif mengembuskan napasnya panjang sembari menyeruput kopi.
“Tapi, Vesenia juga naksir sama lo, Raf! Ini rumit asli. Gue enggak tahu harus ngomong apa,” gumam Lizian menggeleng tidak percaya.
Sedangkan Rafif yang menjadi objek pembicaraan pun tampak biasa saja. Karena memang sudah menjadi keseharian dirinya diperebutkan banyak orang. Hanya saja kali ini sediki berbeda, dirinya menyukai seorang wanita dari salah satu keduanya. Membuat keadaan semakin rumit. Apalagi Vesenia bukanlah tipe wanita yang mengalah demi kebahagiaan adiknya.
“Gue juga masih bingung menghadapi situasi ini, jadi gue hanya bisa diam-diam mengunjungi dia di Rainbow Night Club yang sekarang jadi pegangannya sekaligus bos menggantikan Theo.”
“Tapi, lo enggak ngapa-ngapain ‘kan di sana?”
“Jelas enggak. Gue masih tahu diri tentang masalah keluarga gue belum menemukan titik terang. Jadi, selama masalah kasus itu belum selesai, gue enggak akan melewati batas.”
“Bagus! Gue juga lagi berjuang untuk lo, Raf. Jadi, jangan sia-siakan waktu berharga gue untuk lo enak-enakan pacaran.”
Rafif tersenyum geli, lalu berkata, “Gimana kabar Kak Regi? Udah lama banget gue enggak ketemu dia lagi. Baik-baik aja, ‘kan?”
“Tenang, Raf. Sekarang kakak lo baik-baik aja. Tapi, gue dengar beberapa hari yang lalu sempat terlibat situasi menegangkan sama Theo. Akibat pengiriman di dermaga yang mengatasnamakan perusahaan, tapi tidak boleh ditangani oleh dia.”
“Lantas, apa yang terjadi?”
“Semua dikendalikan baik. Theo datang tepat kakak lo yang minta. Entah memang bertanggung jawab atau ada sesuatu yang diinginkan, lo harus berhati-hati jangan membuat kesalahan. Karena yang rugi bukan cuma lo, tapi Kak Regina akan mendapat perhatiannya juga.”
“Iya gue juga lagi berhati-hati dalam bertindak. Sekarang gue datang ke sini buat ngasih ini.” Rafif memberikan sebuah benda di tangan Lizian membuat lelaki itu mengernyit bingung.
“Apa ini?”
“Semua yang ada di sini bisa jadi petunjuk lo nemuin polisi kotor bekerja sama dengan LUCA.”
“Gue enggak mau terima!” tolak Lizian keras.
“Enggak apa-apa, Zian,” bantah Rafif berusaha meyakinkan sahabatnya.
“Ini terlalu berisiko untuk lo, Raf. Gima kalau sampai Theo tahu kalau ternyata lo masuk ke sana cuma buat nyelidikin aja? Yang ada hidup Keluarga Owl bisa terancam akibat ulah lo ini.”
“Tenang saja. Saat gue melakukan penandatanganan perjanjian, enggak ada huruf apa pun yang mengatakan bahwa Keluarga Owl akan terancam. Hanya saja nyawa gue jadi taruhannya.”
“Tuh kan! Enggak bisa, Raf. Lebik baik melakukan penyelidikan lebih lama dibanding harus mengorbankan nyawa orang lain. Itu hal yang mustahil.”
“Sekarang turuti apa kata gue, Zian. Karena setelah ini lo akan bekerja lebih keras. Untuk sekarang hanya anggota Guardian yang gue beri petunjuk untuk melakukan pemusnahan pengikut LUCA secara perlahan, dan nantinya lo akan dapat sesi penurunan jabatan terhadap polisi kotor yang bermain belakang. Jadi, persiapkan diri lo agar bisa bertarung di arena nanti. Karena pertarungan ini cukup kuat mengingat siapa pemenangnya.”
Lizian yang mendengar hal tersebut hanya menggeleng tidak percaya, lalu mengembuskan napasnya panjang. Ia menatap wajah sahabatnya yang menyiratkan keseriusan, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa batinnya cukup bersyukur memiliki Rafif yang berani mengambil risiko lebih jauh.
“Gue akan tetap berada di belakang lo, Raf. Percayakan semuanya sama gue, dan tetap jaga diri lo baik-baik sampai tiba kita berdua bertemu dalam rencana yang sama,” ucap Lizian menyiratkan keseriusan mendalam.