Selama melakukan pengamatan terhadap personil polisi yang ternyata memiliki banyak sekali relasi hubungan dengan LUCA. Bahkan berkali-kali Hafa nyaris ketahuan. Membuat gadis itu benar-benar harus berwaspada.
“Bagaimana dengan penyelidikan, Fa?” tanya Lizian yang baru saja datang membawa beberapa berkas kasus di tangannya.
“Benar-benar enggak terduga, Zian. Gue lihat banyak banget relasi LUCA di sini, tapi gue lagi nyelidiki Pak Andri. Karena sampai hari ini gue belum mendapat perintah dari atasan buat nyelidiki berkas di ruangan Pak Andri,” jawab Hafa mengembuskan napasnya panjang.
“Jadi, selama ini lo hanya menyelidiki atasan aja karena mendapat tugas di sana?”
“Iya, Zian. Gue enggak bisa sebebas lo yang nyelidiki dengan mudah keluar masuk antar divisi. Karena gue terbatas ruangnya, kecuali bagian tatanan depan. Gue masih punya Nai di sana.”
Di saat keduanya asyik berbincang, tiba-tiba pintu ruangan diketuk pelan membuat Hafa langsung menjauhkan tubuhnya dari Lizian yang asyik berbincang. Kemudian, Lizian pun menoleh dan mendapati seorang lelaki datang dengan santai bersama seorang gadis di belakangnya.
“Siapa dia?” bisik Hafa saat melihat orang asing masuk ke dalam dengan wajah santai.
“Orang yang pernah gue ceritain waktu itu,” balas Lizian merendahkan suaranya.
Setelah menjawab pertanyaan Hafa, Lizian pun langsung bangkit dari tempat duduk dan menghampiri dua orang asing tersebut berdiri tepat di depan pintu.
“Apa yang kalian butuhkan datang ke sini?” tanya Lizian menatap keduanya satu per satu.
“Tenang saja, aku datang ke sini untuk meminta penjelasan mengenai hilangnya Rafif. Apakah kalian benar-benar bekerja dengan baik? Sampai hari ini belum menemukan kabarnya?” sinis Franky tersenyum miring.
“Kalau kamu memang mengetahuinya, maka silakan cari sendiri dan umumkan penemuannya. Jangan berbicara diri seolah kamu meremehkan tim yang ada di sini,” balas Lizian tidak kalah sinis.
“Baiklah, aku datang ke sini untuk memberi tahu bahwa kasus pencarian Rafif sudah dioper ke tim kami. Jadi, kamu tidak perlu bekerja keras dan selesaikan kasusmu sendiri.”
“Apa maksudmu?”
“Pak Andri memberikan ini padamu. Silakan dibaca sendiri,” ujar Franky memberikan berkas kepada Lizian, lalu melenggang santai keluar dari ruangan tersebut.
Sepeninggalnya Franky dan Veera untuk kembali ke ruangannya sendiri, kini hanya terdapat Lizian dan Hafa yang tampak mengernyit penasaran. Karena berkas yang ada di tangan Lizian benar-benar membuat penasaran.
“Apa yang dia bawa, Zian?”
“Aku tidak tahu, tetapi bisa jadi ini pengoperan kasus Rafif.”
Suasana kantor polisi memang tidak bisa dijadikan sebagai jaminan untuk tetap menegakkan keadilan. Sebab, tempat yang memberantas kejahatan membuat siapa pun akan percaya bahwa polisi bertugas untuk menjaga, bukan memanfaatkan posisi demi mendapatkan banyak uang.
Sementara itu, di sisi lain anggota Guardian yang berisikan tiga orang itu pun melakukan rapat kecil di ruang monitor dengan bersiap untuk membuka benda hasil pemberian dari Fairel. Mereka semua tampak saling berpandangan dengan di hadapannya terdapat sebuah berkas foto yang belum dibuka.
“Ketua Tim, apakah kita akan membuka ini?” tanya Zyrach penasaran.
“Ini file enkripsi membutuhkan kode cukup lama untuk membukanya,” jawab Beryl menatap penuh.
“Apakah aku yang akan membukanya?” sahut Grubby menaikkan alisnya.
“Tentu saja!” balas Zyrach cepat.
Setelah itu, Grubby pun mulai membuka file enkripsi tersebut dengan menggerakkan jemari di atas keyboard. Dengan begitu lincah sembari sesekali mengalihkan perhatiannya ke arah dua rekan kerja yang saling memandang satu sama lain.
“Siap?” tanya Grubby sesaat kode semua pemrograman telah ia buat dan hendak menekan tombol enter untuk menjalankan semua rakitan tersebut.
Beryl dan Zyrach mengangguk kompak.
Sesaat file enkripsi tersebut mulai dibuka dengan berbagai loading yang tergantikan sebuah video berdurasi singkat membuat Zyrach mengernyitkan keningnya bingung.
“Bukankah ini gedung kosong yang berada di dekat pusat kota?” tanya Zyrach memastikan.
“Iya, benar. Ini gedung yang sering kita lewati ketika hendak ke kantor polisi,” jawab Grubby mengangguk singkat.
Kemudian, Grubby pun mulai membuka file yang ada di sana membuat seluruh monitor di hadapan ketiganya menyala. Membuat Zyrach menegakkan tubuh untuk melihat layar paling besar menampilkan sebuah video dimulai dari pintu masuk.
Video tersebut menampilkan sebuah jalan masuk menuju pabrik makanan yang sama sekali tidak terlihat aneh. Semua karyawan tampak membungkus dan memastikan mutu produk agar tetap menjadi baik.
Namun, saat masuk lebih dalam terlihat sebuah meja kosong berisikan banyak sekali pengawal yang berdiri di sekelilingnya. Dapat dipastikan bahwa Rafif yang ternyata membawa kamera tersembunyi masuk ke dalam pabrik tersembunyi.
Tak lama kemudian, seorang lelaki terhormat masuk ke dalam dengan beberapa pengawal di belakang yang terlihat berdiri memagari lelaki tersebut. Theo tampak tersenyum ke arah Rafif, lalu menghampiri lelaki itu dengan menepuk pundak pelan.
“Pimpinan Vald, semua sudah siap!” ucap Rafif memberikan laporan pada lelaki yang ada di hadapannya.
“Bagus sekali, Rafif,” balas Theo tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Setelah itu, rekaman pun langsung berpindah pada sebuah ruangan berisikan banyak sekali obat-obatan illegal. Membuat Zyrach yang melihatnya benar-benar menganga tidak percaya. Ternyata dugaan pengiriman besar-besaran di dermaga adalah milik Theo yang mengangkut obat-obatan tersebut.
“Sial*n! Bisa-bisanya dia punya gudang obat-obatan di sini!” umpat Grubby tidak percaya.
“Gue rasa ini dugaan Rafif sama Lizian waktu selidiki keterkaitan Franky terhadap semua masalah LUCA,” ungkap Zyrach mengusap dagu mungilnya sembari mengangguk beberapa kali.
Selama meneliti setiap ruangan berisikan banyak sekali paket dari dermaga, Beryl yang sejak tadi diam pun mulai bersuara. “Apakah Rafif akan tetap aman? Gue takut kalau dia ketahuan.”
Sontak hal tersebut membuat Grubby dan Zyrach pun saling berpandangan. Nyatanya penemuan yang cukup menjatuhkan LUCA itu pun akan mengakibatkan salah satu dari mereka menjadi korban.
Tentu saja Beryl merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada anggota Guardian. Karena selama ini dirinya yang menjadi ketua untuk memastikan bahwa para bawahannya tetap aman dan tidak pernah terjadi sesuatu yang merugikan. Apalagi mengenai nyawa yang tidak dapat dihargai.
“Apakah dia tidak terjadi masalah?” tanya Beryl mendadak mengundang tatapan penuh arti dari Grubby dan Zyrach.
Sontak keterdiaman itu pun mengundang tatapan penasaran Xavier yang baru saja keluar dari ruangannya sembari menggenggam sebuah cangkir putih kosong. Lelaki paruh baya itu mengernyit bingung melihat anggota Guardian berkumpul di monitor.
Lelaki paruh baya itu pun melangkah mendekat membuat langkahnya terdengar berirama. Mengalihkan perhatian Zyrach yang tampak khawatir sekaligus cemas.
“Pimpinan Abd,” sapa Zyrach tersenyum tipis.
“Sedang apa kalian di sini?” tanya Xavier menatap satu per satu.