“Rafif, sepertinya ... aku mencintaimu,” ungkap Vesenia sedikit gugup.
Sedangkan Rafif tampak terkejut sekaligus menghentikan remas*an pada lengan wanita itu. Ia menatap tanpa ekspresi tepat ketika mendengar pernyataan cukup sakral dan tidak semua orang bisa mengungkapkannya begitu saja.
“Mengapa kamu bisa mengatakan seperti itu? Kita baru saja saling mengenal, dan kamu juga tahu kalau aku menyukai Reni,” balas Rafif tanpa melepaskan rengkuhan yang ada di pinggang Vesenia.
“Aku tidak tahu, Rafif. Semua terjadi begitu cepat,” jawab Vesenia menggeleng pelan.
Perkataan itu pun sukses membuat rengkuhan yang ada di pinggang Vesenia mengendur. Menyisakan ruang hampa bagi wanita yang menatap seorang lelaki tampan mulai menjauh menghindari dirinya.
“Aku tidak bisa mengatakan apa pun, karena kita baru mengenal. Dan rasaya mustahil kami bisa mencintaiku, Vesenia. Lagi pula kamu sendiri juga tahu kalau aku menyukai Reni, dan aku benar-benar mencintai dia,” ujar Rafif menggeleng antara kecewa, bingung sekaligus tidak percaya.
Memang tidak dapat dipungkiri ini memang sudah dapat Rafif duga sebelum dirinya memutuskan mencintai wanita itu. Akan tetapi, tetap saja ia tidak bisa menerima dengan mudah. Karena Vesenia benar-benar orang lain bagi dirinya.
“Kenapa kamu harus menyukai Reni? Bahkan aku bisa lebih daripada dia?” tanya Vesenia dengan lantang terdengar tidak suka.
“Kita harus menjauh, aku tidak bisa mengkhianati bosku sendiri,” pungkas Rafif hendak melenggang keluar, tetapi sebelum hal tersebut terjadi dengan cepat Vesenia langsung mengunci pintu ruangan menggunakan resmore pengontrol.
Sontak penguncian itu pun membuat langkah Rafif terhenti, lalu membaikkan tubuhnya tidak percaya menatap seorang wanita dengan wajah yang terlihat kesal.
“Jangan mencoba menjadikan Theo sebagai alasanmu untuk menolak diriku, Rafif!” sinis Vesenia melangkah secara perlahan mendekati seorang lelaki yang memundurkan tubuhnya hingga terpentuk ke dinding ruangan.
Vesenia tersenyum miring sembari mengukung pundak Rafif dengan menyanggah tepat di atas bahu lelaki tampan itu. Bisa dikatakan tubuhnya lumayan tinggi membuat wanita itu tidak sulit menjangkau tinggi badan Rafif.
“Apa ... apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Rafif mendadak gugup dengan sedekat ini, tetapi ia lebih tidak percaya bahwa Vesenia benar-benar berani sampai melupakan keberadaannya di kantor.
Wanita cantik dengan make up sedikit tebal itu pun mendekatkan wajahnya ke arah Rafif, lalu menjawab, “Bukankah sudah kubilang kalau aku menyukaimu?”
“Lantas, kalau kamu menyukaiku apa yang aku dapatkan?” balas Rafif membalikkan keadaan dengan Vesenia berada dalam kurungannya membuat tubuh wanita itu menegang, lalu mendongak tidak percaya melihat betapa beraninya Rafif.
Vesenia mengembuskan napasnya panjang, lalu mendorong pelan da*da Rafif untuk menjauh dari dirinya. Sebab, ia merasa sedikit gugup dengan detakan jantung yang kembali membuat ulah.
Sedangkan Rafif yang menyadari kegugupan dari wanita di dalam kurungannya itu pun mendekatkan wajahnya, lalu berkata, “Aku bisa bertindak lebih jauh tidak peduli di mana keberadaan kita. Tapi, aku tidak bisa berselingkuh dengan kekasih bosku sendiri, Nona Ovt.”
“Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menjadi kekasihmu?” tanya Vesenia mendongak dengan menantang.
“Kamu tidak perlu membuktikan dalam hal apa pun, Nona Ovt. Karena aku sudah mengingatkan padamu untuk tidak menggangguku ketika bekerja,” jawab Rafif tersenyum miring, lalu mencium bibir wanita itu dengan sedikit menuntut sampai memojokkannya ke dinding ruangan.
Tak lupa lelaki itu menyanggah belakang kepala Vesenia agar tidak berbenturan langsung Ciuman kali ini sedikit agresif dengan Rafif beberapa kali memeras dan memainkan bok*ng Vesenia yang begitu padat dan menggoda.
Sedangkan wanita itu tersenyum kemenangan dan terus menyanggah tubuhnya dengan melingkari kedua tangannya ke arah sekeliling leher tegak nan berotot milik Rafif yang begitu gentle. Sampai rasanya menyenangkan dan begitu pas ketika berada di posisi seperti ini.
Saat tangan Vesenia menyusup ke sela-sela pakaian Rafif, lelaki itu langsung menahannya dan mengunci di atas membuat wanita itu terlihat begitu pasrah dengan kedua tangannya di atas kepala sembari menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Rafif.
Rafif benar-benar kehilangan akal sampai mencium bibir Vesenia dengan begitu dalam dan tidak mngizinkan wanita itu mengambil napas barang sedetik saja. Membuat wanita itu langsung memberontak pelan membuat Rafif diam-diam tersenyum miring.
“Rafif, kamu benar-benar tidak waras!” umpat Vesenia menggeleng tidak percaya, lalu melepaskan diri untuk mengambil cermin yang berada di atas meja. Ia menatap pada wajahnya sendiri yang terlihat sedikit berbeda, yaitu bibirnya membengkak akibat ulah Rafif.
Sang pembuat masalah itu pun tampak diam tanpa mengatakan apa pun. Lelaki itu terlihat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan santai.
“Astaga, Rafif, kamu benar-benar tidak terduga sampai membuat bibirku bengkak seperti ini,” keluh Vesenia meletakkan cermin tersebut dengan sedikit keras, lalu mengembuskan napasnya panjang.
“Bukankah kamu sendiri yang menginginkannya sejak tadi?” balas Rafif mendekatkan diri pada wanita yang terlihat kesal, lalu menyelipkan sejumput anak rambut yang menghalangi pemandangan indah di depannya.
“Iya, aku tahu. Tapi, tidak akan sampai seperti ini, bukan?” Vesenia mengembuskan napasnya panjang.
Melihat wanita yang ada di depannya begitu khawatir dengan penampilan menarik perhatian, akhirnya Rafif pun mencium bibir wanita itu kembali. Kali ini lebih lembut membuat Rafif yang memegang rahang mungil milik Vesenia itu pun memperdalam setiap kec*pannya.
Setelah beberapa saat, Rafif pun kembali melepaskan panggutannya. Kemudian, menatap ekspresi Vesenia yang terlihat malu-malu.
“Kenapa kamu seperti itu?” tanya Rafif mengernyit penasaran.
Vesenia menggeleng pelan, lalu menoleh cepat ke arah pintu ruangan yang terbuka sempurna. Untung saja mereka berdua sudah tidak lagi bercumnbu mesr*. Sehingga sampai hari ini belum ada ada yang mengetahui bahwa keduanya telah melakukan banyak perselingkungan,
“Nona Ovt, Tuan Rafif, maaf mengganggu waktunya. Akan tetapi, di luar ada seorang audit yang sudah datang meminta untuk Nona Ovt temui,” celetuk kepala pengawal.
Perkataan itu pun sukses membuat Vesenia melebarkan mata tidak percaya sembari membuka berkas yang baru saja wanita itu bawa dari mansion dan bercampur pada hasil kerja Rafif. Semua pekerjaan lelaki itu benar-benar memuaskan.
Sedangkan Rafif yang tidak memiliki pekerjaan pun langsung melenggang keluar. Ia tidak akan mengatakan Sejujurnya pada orang-orang terdekat. Karena di sini berisiko membuat lelaki itu lebih baik menghindari daripada terus menerus berada di sana.
Sejenak langkah kaki Rafif pergi menyusuri banyak ruang yang berpenghuni dengan berbagai karyawan baik itu karyawan pabrik, maupun kantor yang terlihat berlalu-lalang sembari berbicara dengan lumayan kaku.
“Tuan Rafif, ayo ikuti aku!”
Sebuah ajakan tersebut sukses membuat Rafif yang awalnya terlihat melangkah dengan santai pun mendadak tersandung-sandung menyamai langkah.