Zelline masuk kedalam kamar, merebahkan tubuhnya diatas kasur
"aaa...sialan..awas ja lo Devan gue bales besok" kesal Zelline kemudian menutup wajahnya dengan bantal. Hari ini membutnya sangat lelah.
*****************
"Zell..kau sudah bangun?...ayo sini makan"
Sapa Adam, Zelline yang merasa lapar karena dari siang ia belum makan akhirnya menurut, menarik kursi untuknya dan ikut makan bersama Adam
"kau baru makan Dad? Mana mommy and daddy Ramon?" tanya Zelline heran karena tak mendapati Sarah dan Ramon dimeja makan
"ini sudah malam" Adam melihat kearah jam yang terpampang ditembok
Zelline menoleh ikut melihat jam didinding, ternyata sudah jam sembilan, gumam Zelline
"daddy Ramon belum pulang, sepertinya masih ada pekerjaan, dan mommy sedang istirahat, kurang enak badan sepertinya" jelas Adam membuat Zelline menganggukkan kepalanya kemudian menyuap sesendok nasi kemulutnya
"apa hari ini juga kau kurang sehat? Kau tak makan dari pulang sekolah" selidik Adam
"darimana kau tau dad?"
"bi Murni...dia mengetok kamarmu tapi tak ada jawaban....sudah lima kali balik..apa kau baik-baik saja?"
Zelline menggeleng pelan
"hanya sedikit lelah"
"Zelline...kau tahu...kami sangat menyayangimu...kami tak ingin terjadi sesuatu apapun padamu"
"i know dad...and thanks for that"
Adam tersenyum
"dan kuharap kau bisa bersabar...suatu saat kau akan tau kebenarannya"
"apa salah satu dari kalian ayah kandungku? Atau ada yang lainnya?"
Adam menarik nafas panjang, kemudian bangkit dari kursinya
"kau putriku..aku menyayangimu.. Sampai kapanpun kau akan selalu jadi putriku" ucap Adam sebelum akhirnya pergi meninggalkan Zelline sendiri diruang makan
Zelline memajukan bibirnya, ingin rasanya ia berteriak tapi ditahannya.
Sedetik kemudian air mengalir membasahi pipinya, Zelline terisak. Ia sayang kedua daddynya, ia ingin menjadi anak kecil kembali yang tak perduli dengan hidupnya yang tak seperti keluarga normal lainnya, ia bahagia diperlakukan bak putri raja oleh kedua daddy-nya dan sekarang tiba-tiba ia takut menerima kenyataan bagaimana kalau ternyata bukan salah satu dari mereka berdua yang menjadi ayah kandungnya.
***
Adam beranjak dari ruang makan, berjalan kearah tangga dan mendapati Sarah yang sedang duduk dibawah anak tangga menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya. Adam berjongkok didepannya memeluk tubuh Sarah yang bergetar
"sudahlah...kau wanita tangguh...jangan bersedih, ayo kuantar kekamar"
Adam membawa Sarah dalam pelukannya menaiki tangga dengan merangkul bahu Sarah yang masih sesekali sesegukan. Adam tahu betul bagaimana perasaan Sarah saat ini, pasti masih terasa berat untuknya.
"suatu saat..ya suatu saat Sarah kau pasti bisa ikhlaskan semua..dan saat itu kuharap kau akan memilihku untuk selalu berada disampingmu sampai hembusan nafas terakhirku" batin Adam menatap wajah Sarah yang kini terlihat sembab.
******************************************
Zelline keluar dari mobil sportnya, hari ini ia datang lebih awal. Dirinya sudah menyusun rencana untuk membalas perbuatan Devan kemarin.
"awas lo Devan" gumam Zelline pelan, kemudian melangkahkan kakinya kearah kelas.
Zelline menghampiri bangku Devan yang berada disamping kanannya mengeluarkan lem perekat dari dalam tas yang sudah ia siapkan semalam.
Tersenyum smirk saat dirinya telah menuangkan lem keatas bangku Devan, kemudian berjalan keluar kelas dan membuang bungkusan lem ketong sampah yang berada dikebun belakang sekolah, sebagai antisipasi biar dirinya tidak dicurigai.
Bugh...
Tubuh Zelline menabrak sesuatu untung saja tidak sampai tersungkur seperti kemarin. Zelline yang berjalan sembari celingak celinguk karena takut ada orang yang melihatnya membuang lem perekat membuatnya menjadi menabrak sesuatu.
"huft"
terdengar suara hembusan nafas kasar seseorang membuat Zelline mendongakkan wajahnya kedepan kemudian membelalakkan matanya saat mengetahui siapa orang yang ditabraknya.
"ternyata selain suka menuduh orang sembarangan anda juga suka menabrak orang sepertinya"
Ucapan orang tersebut membuat Zelline kesal, kedua tangannya sudah mengepal nafasnya memburu menahan emosi. Zelline berlalu tak memperhiraukan ucapan orang tersebut, ia menjulurkan lidahnya kearah orang tersebut sebelum akhirnya meninggalkan orang tersebut yang sedang menggelengkan kepala melihat tingkah Zelline.
"huuhh...kenapa si musti dia lagi dia lagi...dunia tu sempit banget coba" kesal Zelline berbicara sendiri didepan kelas
"hei"
Bahu Zelline ditepuk Rere
"ngomong sama siapa si bun?"
"iya nih pagi-pagi udah ngedumel aja" sambut Riska yang juga datang bareng Rere
"gak penting si"
Rere dan Riska saling pandang kemudian mengangkat kedua bahunya.
"masuk yuk bentar lagi bel" ajak Rere
Ketiganya masuk kedalam kelas dan duduk dibangku masing-masing
"udah bel tapi si Devan kaga nongol gaswat nih" batin Zelline menggigit bibir bawahnya sambil sesekali melirik kearah bangku Devan
"pagi semua"
Pak Hendro sudah berdiri didepan kelas dengan seseorang yang Zelline kenal, dan reflek membuat Zelline membulatkan matanya melihat pria tersebut berada didepan kelasnya.
"pagiii pakk" kompak murid sekelas menjawab sapaan Pak Hendro
"anak-anak semua saya kenalkan guru baru kalian sekaligus wali kelas kalian mengingat Bu Dewi harus cuti untuk sementara waktu jadi bapak harap kalian semua bisa menyesuaikan diri"
"ya Karin? Ada pertanyaan" tanya Pak Hendro yang melihat Karin mengangkat tangannya
"Maaf pak kalau boleh tahu usianya berapa ya pak?kok masih muda banget, jomblo gak pak?"
"huuu" kompak seisi kelas bersorak kepada Karin
"ya kan nanya boleh donk..ya kan pak?..atau saya panggilnya kakak aja biar lebih dekat"
Rere yang duduk dibelakang Karin langsung menoyor kepala Karin
"ganjen lo" ucap Gea temen sebangku Karin sambil cengengesan
"Kar sama aa Vito ja ya" ledek Vito sambil mengedipkan matanya sebelah membuat Karin bergidik
"ikh...malesin"
"sudah-sudah cukup" potong Pak Hendro
"beliau memang usianya tidak jauh dari kalian tapi bapak harap kalian menghormatinya sebagaimana mestinya dan perlu kalian ketahui usianya memang muda tapi beliau lulusan c*m laud di USA, beliau merupakan salah satu guru muda yang memiliki banyak prestasi bapak harap kalian bisa menjadikannya contoh dan teladan"
Zelline melotot tak percaya orang yang berdiri dihadapannya ternyata adalah guru sekaligus wali kelasnya.
Kedua mata dengan manik coklat itu menatap Zelline kemudian tersenyum membuat Zelline memajukan bibirnya dan langsung berpaling tak ingin berlama-lama beradu tatap dengan orang tersebut
"baiklah cukup sekian dari bapak, selamat belajar...silahkan Pak Andra saya tinggal dulu"
"Pagi semua..kenalkan nama saya Andra" ucap orang tersebut seraya menatap Zelline dan tersenyum seolah ingin memakannya
Lagi-lagi Zelline langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut
Zelline membuang nafas kasar, baru kali ini ia tak semangat belajar apalagi ini adalah pelajaran favoritnya, biologi. Mungkin karena guru yang ada dihadapannya adalah orang yang sejak kemarin membuatnya naik darah. Pikirannya diingatkan kembali kejadian kemarin, awal pertemuanya yang membuat jadi tak enak hati tapi kemudian pertemuan-pertemuan selanjutnya justru malah membuatnya kesal bukan main.
Andra bangkit dari kursinya, melihat Zelline yang terlihat seperti tidak konsentrasi membuatnya ingin menghampiri Zelline.
Menarik kursi kosong yang ada disebelah Zelline, menduduki bangku tersebut kemudian menggebrak meja Zelline pelan
"kau...apa yang sedang kau lamunkan?pacar?" pertanyaan Andra sontak membuat tawa murid-murid yang lain
"lagi galau pak pacarnya gak masuk" celetuk Bimo yang kembali disambut tawa seluruh kelas
Zelline melotot dan manyun mendengar ledekan temannya itu tapi tak lama d**a Zelline langsung berdegup kencang kemudian menengok kearah Andra yang sedang duduk dibangku Devan
"oh no...sial...kenapa musti ni cowok yang duduk si" batin Zelline
"kenapa diam dan memasang wajah seperti melihat hantu?" tanya Andra
"iya lo hantunya" gumam Zelline pelan namun masih bisa didengar Andra
"apa? Coba kamu ulangi? Kamu bilang saya hantu?"
Pertanyaan Andra membuat Zelline sadar
"bodoh...Zell dia itu guru lo..come on ini sekolah Zell...sabar" umpat Zelline dalam hati kemudian menarik nafasnya
"maaf pak maksud saya...bukan seperti itu"
"hari ini saya maafkan"
"eh.." Andra memcoba bangkit dari duduknya namun tak bisa sepertinya celananya menempel dengan sangat erat membuatnya tak bisa bangun. Andra mengerutkan keningnya berfikir dalam siapa yang sudah mengerjai dirinya, kemudian menatap Zelline dengan tatapan tajam sementara Zelline langsung membuang mukanya pura-pura tidak tahu dan tak ingin dicurigai
"siapa yang sudah menempelkan lem di kursi ini?" tanya Andra dengan lantang
Semua murid yang ada dikelas saling pandang dan berbisik
"jawab pertanyaan saya!" kali ini nadanya terdengar lebih keras
"apa ini perbuatan kamu?" tanya Andra menatap Zelline
Zelline menoleh kemudian menggelengkan kepalanya
"Gak papalah bukan Devan yang kena tapi seenggaknya rasa kesel gue ke tuh cowok nyebelin sedikit berkurang...upss. sorry ya pak" gumam Zelline dalam hati ketika Pak Andra akhirnya berjalan dengan bangku yang masih menempel dipantatnya, tentu dibantu dengan Irvan dan Wisnu yang membantu memegang kursi
"Zell siapa ya kira-kira yang iseng" tanya Rere yang dibalas dengan kedua bahu terangkat oleh Zelline
"gila si ini mah nyari mati" ujar Bimo