Devan berlari ketika melihat wajah Zelline yang marah kepadanya. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang terjatuh, menatap kelorong yang menghubungkan arah kelas - parkiran. Disana Zelline terjatuh tersungkur kelantai, melihatnya dibantu seseorang dan mengobrol layaknya orang yang sudah saling kenal.
Entah mengapa melihat Zelline dengan pria tersebut Devan kesal, ia melangkahkan kakinya kembali kearah parkiran. Awalnya ia akan menunggu Zelline diparkiran, tapi sekarang niat itu dibatalkannya, ia lebih memilih untuk segera pergi dari sekolah. Masuk kedalam mobilnya kemudian melajukannnya kencang.
***
Zelline sudah sampai dirumahnya, memarkirkan mobilnya dihalaman rumahnya.
"mang Ujang"
Mang Ujang yang sedang menikmati kopinya di pos satpam langsung meletakkan kopinya kembali keatas meja begitu mendengar panggilan dari majikannya, setengah berlari menghampiri Zelline
"iya non ada apa?" tanyanya
"tolong bersihin mobil aku, terus langsung masukin garasi" perintah Zelline kemudian langsung meninggalkan Mang Ujang yang mengangguk
"huu...katanya tadi mo ke car wash ehh..saya juga yang nyuci" ndumel mang Ujang namun langsung mengambil peralatan untuk membersihkan mobil majikannya, tentu dirinya tak ingin dipecat.
****
Sarah sedang merangkai bunga diruang tengah, memotong batang tangkai bunga yang panjang dan menatanya disebuah vas putih.
"kau tidak keluar hari ini Sarah?" ucap seorang pria mengagetkan Sarah yang tengah fokus merangkai bunga, hampir saja jarinya tertusuk duri dari batang yang dipotongnya.
"Ramon kau mengagetkanku hampir saja jariku terluka"
"maafkan aku Sarah, apa jarimu terluka biar aku lihat" ucap Ramon yang langsung duduk disamping Sarah
Ramon memang tidak seromantis Adam, tapi dia sangat perhatian meskipun sifatnya yang mudah emosi tetapi dia sangat penyayang.
"tidak...tidak apa-apa Ramon...hampir..tidak terluka sama sekali" ucap Sarah kemudian menarik jemarinya yang tadi sempat dipegang Ramon kemudian tersenyum
"apa ada sesuatu yang tertinggal?ini belum saatnya kau pulang" tanya Sarah heran
"ada berkasku yang tertinggal dan harus aku bawa untuk meeting nanti sore"
"kau bisa menyuruh orang mengambilnya"
"ya...aku pikir kau tak ada dirumah lagipula sekalian aku keluar makan siang tadi"
"hmmm" Sarah hanya berdehem
"kau belum menjawab pertanyaanku Sarah"
"apa? ...oh ya...aku sedang tak ingin keluar...kepalaku sedikit pusing"
"apa kau perlu ku temani kedokter?"
Sarah menggeleng
"tidak...terimakasih...aku hanya perlu istirahat"
Ramon melirik jam rolex yang melingkar dilengannya
"Zelline belum pulang?"
"belum"
"apa kau pusing memikirkan Zelline?"
Sarah menghentikan aktifitasnya meletakkan tangkai bunga yang dipegangnya keatas meja kemudian menoleh kearah Ramon
Sarah mengangkat kedua bahunya
"entahlah Ramon...dia sudah dewasa sekarang...aku tidak bisa lagi membodohinya"
"ya kau benar...mungkin saatnya kita berterus terang"
"oh Ramon ...ucapanmu seperti Adam"
Ramon mengangkat kedua bahu dan tangannya tak mengerti dengan ucapan Sarah
"ya..dia juga menyuruhlu untuk berterus terang"
"kau tahu..seperti apa perasaanku kan?bagaimana terluka dan sakitnya hatiku...aku belum siap Ramon ...tidak untuk saat ini" ujar Sarah kemudian kembali menata bunga-bunga kedalam vas.
Ramon menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan
"ya...aku mengerti...sangat mengerti"
"maaf" ucap Sarah memandang Ramon dengan penyesalan yang amat dalam
"apa kau tidak ada kerjaan selain meminta maaf terus menerus?"
"aku sungguh-sungguh minta maaf"
"kau tak salah tak pernah salah...untuk apa kau meminta maaf" tanya Ramon
"kau berhak bahagia" ujar Sarah dengan tatapan sendu
"kau tahu...aku selalu berharap memilikimu secara utuh...tapi aku tak pernah memaksa...tak akan...buatku menyayangimu dan melindungimu serta Zelline sudah cukup untukku"
"terimakasih untuk itu" ucap Sarah dengan tulus
"wanita yang ada disampingmu kelak pastilah sangat bahagia mempunyai pria sepertimu"
Ramon mengangkat bahunya dan tersenyum
"jangan berlagak seperti casanova...aku tahu kau mempunyai banyak wanita diluaran sana" ledek Sarah seraya tertawa
"aku menyerah.. kurasa aku harus kembali kekantor...aku akan mengambil berkasku dulu dikamar" Ramon bangkit dari duduknya, sedikit membungkuk dan mengecup kepala Sarah lembut. Kemudian melangkahkan kakinya menaiki setapak demi setapak tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua.
***
Setelah berbicara dengan Mang Ujang, Zelline langsung berlalu menuju kedalam rumahnya, namun sebelumnya ia menatap sekilas mobil yang terparkir tak jauh didepan dari mobilnya, mengangkat kedua bahunya kemudian melanjutkan langkahnya kedepan pintu utama.
Samar-samar ia mendengar percakapan seorang wanita dan seorang pria yang dikenalnya dari arah ruang tengah.
Zelline melihat dari perbatasan antara ruang tamu dan ruang tengah, berhenti sejenak kemudian menyembunyikan tubuhnya ditembok pembatas tersebut. Mendengarkan percakapan antara mommy Sarah dan daddy Ramon. Lagi-lagi Zelline kecewa, merasa bahwa Ramon juga bukanlah ayah kandungnya.
Untuk sepersekian detik Zelline menutup matanya, mencoba menenangkan hatinya. Hari ini ia sudah lelah dengan tingkah Devan, ia enggan membahas mengenai ayah kandungnya yang sudah pasti akan berujung pertengkaran tanpa menghasilkan apapun.
"Lebih baik aku mencari tahu nanti" gumam Zelline pelan
***
Sarah menengok ketika mendengar suara langkah kaki.
"Zelline kau sudah pulang?"
"yes Mom" Zelline menampakkan senyumnya dengan terpaksa
"what's wrong dear?"
"nothing, i'm just tired" ujar Zelline kemudian berlalu menaiki tangga menuju kamarnya
Saat tiba dilantai dua Zelline bertemu dengan Ramon yang baru saja keluar dari kamarnya
"hai Zell, kau sudah balik"
"ya dad"
"kau terlihat murung, kenapa?"
"tidak apa-apa...oh iya dad tolong sampaikan permintaan maafku sekali lagi pada om Ronald, aku sungguh-sungguh telah salah sangka"
Ramon mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Zelline. Zelline pikir lebih baik ia mengatakan kepada daddy Ramon sebelum om Ronald memberitahu daddy-nya soal kejadian tadi pagi.
"ada apa kau dengan Ronald?"
"hanya salah paham dad, kumohon untuk tidak bertanya terus aku capek mo istirahat" kemudian berlalu meninggalkan Ramon yang masih diam menatapnya hingga masuk kedalam kamarnya.
***
Ramon baru saja keluar dari kamarnya begitu Zelline sampai didepan kamarnya. Menatap heran kepada Zelline yang terlihat murung.
Namun sepertinya Zelline enggan mengatakan apa yang telah terjadi dengan dirinya, terlebih dia meminta maaf kepada Ronal, sungguh membuat Ramon bingung dan bertanya-tanya.
"baiklah aku akan bertanya sendiri kepada Ronald nanti" batin Ramon seraya menatap punggung Zelline hingga masuk kedalam kamarnya.
"apa Zelline berbicara sesuatu kepadamu Sarah?" tanya Ramon begitu sampai di ruang tengah.
Sarah menoleh kearah Ramon kemudian menggelengkan kepalanya pelan
"tidak...apa ada sesuatu yang terjadi?"
"dia tak bilang apa-apa hanya memintaku untuk menyampaikan maafnya kepada Ronald"
"minta maaf pada Ronald?"
Ramon mengangguk
"untuk apa?"
"hmm...entahlah...tapi aku akan mencari tahu nanti" ucapnya kemudian melihat pergelangan tangannya
"jam istirahatku hampir habis...kita bicara lagi nanti...jadwalku sangat padat" ucap Ramon seraya menghela nafasnya kasar dan Sarah mengangguk seraya tertawa pelan kemudian melambaikan tangannya kepada Ramon
Setelah kepergian Ramon, Sarah mengambil ponsel yang terletak disamping vas, membuks layarnya dan melihat foto seseorang disana, foto yang dulu sangat ia cintai namun telah memggoreskan luka yang amat dalam hingga yang tersisa hanyalah kebencian. Sarah tak pernah mendendam, ia bahkan bersyukur telah dihadirkan dua pria yang rela menjaga dirinya dan Zelline serta menyayangi mereka dengan tulus.