Zelline mengikat tali sepatunya, bersiap untuk pergi kesekolah. Melihat penampilannya didepan cermin besar yang terletak disamping meja belajarnya, merapihkan rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan tergerai, lalu beralih merapikan seragamnya.
Zelline turun kelantai bawah, mendapati sudah ada mommy dan para daddy yang menunggunya untuk sarapan.
"sayang kau sudah rapi, ayo kita makan" ujar Sarah ketika melihat Zelline turun dari tangga kemudian menghampiri nya begitu telah sampai ditangga bawah dan merangkul Zelline, membimbingnya kekursi yang biasa ditempatinya. Dengan sigap Ramon menarik kursi Zelline mempersilahkannya duduk.
Namun Zelline terdiam didepan kursinya, dirinya masih menunggu penjelasan dari ketiga orang yang ada dihadapannya namun ia yakin tak kan mudah membuka ketiga mulut mereka. Zelline memajukan bibirnya, dirinya masih menyimpan rasa marah dan kecewa tapi Zelline masih mampu menahan diri.
Disatu sisi Zelline merasa kalau dirinya tak pantas marah ataupun bahkan kecewa terhadap mereka, pasalnya merekalah yang selalu ada, selalu memberi kasih sayang dan kehangatan, memenuhi segala kebutuhannya, ya sudah sepantasnya Zelline merasa bersyukur atas semua itu.
"sayang duduklah, kita sarapan sama-sam" ajak Adam
dengan berat hati Zelline menurut, ia duduk dikursi yang telah ditarik Ramon, kemudian dengan sigap Sarah mengambil piring Zelline dan menuangkan nasi goreng sosis kesukaan Zelline tak lupa telor mata sapi. Ramon menuangkan segelas air putih untuk Zelline, yang langsung diminumnya. Ramon selalu tahu kebiasaan Zelline, sebelum sarapan ia pasti meminum air putih terlebih dahulu.
Lagi-lagi Zelline harus bersyukur karena itu. Diluaran sana dengan orangtua yang utuh, dengan seorang ayah dan seorang ibu saja belum tentu mendapatkan perlakuan yang seistimewa dirinya.
Usai sarapan, seperti biasa Adam dan Ramon akan memawarkan Zelline untuk berangkat bareng, namun seperti biasa pula Zelline menolaknya. Bila dulu saat dirinya masih menginjak bangku sekolah dasar, dirinya akan senang diantar oleh kedua daddynya,, dengan bangga dirinya akan memamerkan kedua daddynya itu kepada teman-temannya, namun setelah duduk dibangku SMP dirinya sudah jarang minta diantar oleh kedua daddynya, apalagi sekarang.
"Zelline berangkat sendiri aja"
Zelline berlalu meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk dimeja makan setelah menyalami mereka satu persatu. Berjalan kepintu depan, begitu membuka pintu sudah ada mang Ujang yang sedang membersihkan mobil Adam, setelah lebih dulu membersihkan mobil Ramon, karena Ramon selalu marah bila mobilnya belum selesai dibersihkan, berbeda dengan Adam yang bahkan terkadang tak masalah bila mobilnya tak dibersihkan, Adam bisa menyuruh orang kantornya untuk membawa mobilnya ke car wash, begitu pikir Adam.
"mang"
Mang Ujang menghentikan aktifitasnya, menghampiri majikannya dengan setengah berlari
"iya non Zelline"
" mang Ujang tolong keluarin mobil aku dari garasi ya, Zelline mo sekolah"
"tapi non, maaf mobil non Zelline belum mamang bersihin"
"duhh gimana si mang, ya udah deh gapapa nanti aku mampir bentar ke car wash depan"
Mang Ujang langsung mengangguk kemudian berlari kearah garasi.
Zelline menghentikan mobilnya tepat didepan car wash langganannya, namun sial ternyata belum buka. Zelline melihat kearah tempat car wash tersebut dari balik jendela kaca mobilnya, dilihat ada seorang pria disana yang sednag membuka paksa pintu masuk keruang para pekerja. Pria dengan tubuh tinggi dan sedikit kekar dengan tato dilengannya membuat Zelline berfikir bahwa pria tersebut tentu bukan orang baik, Zelline tahi betul siapa pemilik car wash tersebut, Ronald, teman Ramon. Tentu Zelline tak ingin bila ada orang yang hendak berbuat jahat kepada siapapun, apalagi itu terjadi dihadapannya.
Zelline memencet klakson mobilnya berulang kali, berharap pria tersebut akan takut dan pergi dari situ, namun pria tersebut tak bergeming, sama sekali tak menghiraukan bunyi klakson dari mobil Zelline.
"ck..tuh cowok ngapain si?mo maling tapi gue klaskson tetep ja maksa buka tu pintu, aduhhh gimana ini" Zelline berbicara sendiri sambil menggigit bibir bawahnya.
Akhirnya dengan keberanian yang entah darimana, Zelline turun dari mobilnya dengan membawa sebotol parfum ditangannya, menghampiri pria tersebut
"heh mo maling lo ya?"
si pria menengok kearah sumber suara yang berada tak jauh dari belakangnya, umtuk sepersekian detik hingga akhirnya kembali mengutak atik kembali pintu yang ada dihadapannya
"gila ni cowok...sinting.. bener-bener mang mo maling" umpat Zelline dalam hati
Zelline mengumpulkan keberaniannya menepuk bahu pria tersebut keras kemudian menyemprotkan parfum kearah wajah si pria.
Pria tersebut kaget begitu tiba-tiba saja wajahnya disemprot dengan cairan yang membuat matanya terasa sangat perih.
"woi...sableng lo, mo bikin mata gue buta lo ya?" si pria marah-marah sambil memegang matanya yang terasa sangat perih.
"rasain lo...mampus..biar tahu rasa...makanya jangan suka maling"
"b******k lo...siapa yang maling bego?" umpat si pria kesal
"lo maling, gak mo ngaku lagi lo..mo gue semprot lagi ha?" ancam Zelline
"stop" si pria menutup wajahnya dengan satu tangannya berjaga-jaga agar wajahnya tidak lagi disemprot.
"shit...perih bego!" ucap si pria tersebut dengan kesal dan masih memegang kedua matanya.
Zelline masih memegang botol berisi parfum ditangannya, bersiap-siap apabila si pria yang ada dihadapannya akan menyerang dirinya.
Pria tersebut memukul pintu dengan tangannya, tampak dari raut wajahnya yang masih menahan perih itu terlihat sangat kesal.
Zelline merogoh ponselnya dari dalam saku seragamnya, memencet tombol dengan sangat hati-hati, sambil sesekali melirik kearah pria tadi, takut dia berbuat macam-macan saat dirinya lengah.
Setelah memencet nomor yang dimaksud dan berbicara untuk segera datang. Zelline kembali mengarahkan botol berisi parfum kehadaan si pria.
"telpon siapa lo barusan?" kata si pria dengan nada marah dan masih memegang matanya
"gue telpon polisi, gue bakal bikin lo nyesel karena udah mo rampok disini"
"cih...bacot lo...cewek aneh"
"what..."
"Zelline"
tiba-tiba ada yang memanggil nama Zelline sebelum ia sempat melanjutkan ucapannya kepada pria tersebut
"bagus om udah datang, ini om...ini orangnya yang mau rampok car wash om" ucap Zelline antusias kepada pria yang baru datamg tersebut yang tak lain adalah Ronald
"loh om kenapa gak bawa polisi sekalian om, kan Zelline udah bilang om ...orang ini bahaya ...untung Zelline bawa ini" ujarnya seraya menunjukkan botol parfumnya
"apa ini Zelline?" tanya Ronald seraya meraih botol parfum Zelline
"oh no Zelline jangan bilang sama om kalo kamu udah semprotin ini ke wajah ponakan om?"
Zelline membulatkan matanya
"ponakan?" kemudian menoleh kearah pria yang dia anggap sebagai perampok itu, dan menunjuknya tepat diwajahnya
"dia...pria ini ...ponakan om Ronald?" tanyanya sekali lagi dengan wajah tak percaya
"om jangan bohong deh" cecar Zelline
Ronald berjalan kearah si pria yang dibilang ponakannya itu, berdiri tepat disebelahnya dan memegang bahunya
"iya ...ini Andra..ponakan om" Ronald memperkenalkan ponakannya sementara Zelline masih sulit percaya
"tapi om...dia ingin merusak pintu om...lihat" Zelline mengarahkan tangannya kearah pintu yang tadi sedsng diutak atik Andra, dan Ronald malah tertawa
"hahaha...ya Zelline, dari kemarin pintu om rusak, om suruh Andra untuk membenarkannya"