Zelline menatap kedua pria dihadapannya, meletakkan kedua tangannya dipinggang, Zelline sudah hilang kesabaran bagaimana mungkin dua pria dihadapannya ini adalah ayah kandungnya, tidak...tidak mungkin bukan, bagaimana bisa ia mempunyai dua orang ayah. Sarah baru saja datang, ia terheran dengan ketiga orang yang sedang berdiri mematung diruang tengah
"ada apa ini?" tanya Sarah kemudian meletakkan beberapa papper bag yang dibawanya
"mommy jawab jujur...siapa diantara mereka yang ayah kandungku?" kali ini Zelline meletakkam tangannya didada dan menatap tajam kearah wanita yang dipanggil mommy itu, sementara wanita itu sudah duduk santai diatas sofa sambil mengecek papper bag nya.
"oh dear, kenapa akhir-akhir ini kau banyak bertanya" ucap si wanita acuh, masih mengecek papper bagnya kemudian mengeluarkan isinya dari salah satu papper bag dan menyerahkannya ke Zelline
"ini mommy beli ini buat kamu, lucu bukan ...menggemaskan" ucap siwanita tersenyum seraya menyerahkan dua buah bra berwarna ungu muda dengan hiasan renda-renda dan cd dengan warna yang senada
"oh god..mommy" Zelline teriak, mengambil bra dari tangan mommy nya
"iya...ini memang lucu ...thanks mommy" ucapnya seraya memeluk mommynya tapi sedetik kemudian Zelline melepaskan pelukannya dan molotot tepat didepan muka Sarah
"come on seriously mom...who is my dad?"
Sarah menunjuk kedua orang pria yang masih setia berdiri dan kedua pria tersebut langsung tersenyum.
***
Zelline ingat betul, saat kecil ia begitu bahagia, bila teman-temannya hanya mempunyai satu orang ayah tapi tidak dengannya, ia mempunyai dua orang ayah yang sangat sayang dan selalu ada untuknya. Dua orang pria hebat, menurut Zelline. Dua orang ayah yang tampan, pekerja keras dan sukses.
Saat kecil ketika dirinya menangis usai pulang sekolah, menceritakan teman-temannya yang meledeknya karena mempunyai dua orang ayah, mommynya akan berkata dengan lembut
"dear...kamu harus bersyukur karena ada dua orang hebat yang akan selalu menyayangimu, menjagamu dan membelamu, dua orang hebat itu is your daddies, daddy Ramon and daddy Adam"
Tapi sekarang, saat usianya menginjak delapan belas tahun, Zelline merasa ia perlu tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya, tidak mungkin kan ibunya menikah dengan dua pria sekaligus, lagipula ia tidak pernah melihat ibunya satu kamar dengan para ayahnya. Mereka mempunyai kamar pribadi masing-masing, meskipun kamar mereka saling bersebelahan tapi Zelline tak pernah melihat salah satu dari daddynya keluar dari kamar mamanya atau sebaliknya.
***
"ha.." Zelline membuang nafasnya kasar
"kalau dulu waktu kecil mommy bisa bodohi aku dengan bilang aku adalah orang yang beruntung dengan memiliki two daddies but not now mom! i'm big now! aku harus tahu siapa ayahku sebenarnya"
"ayo kita tes DNA!" ajak Zelline menatap kedua pria tersebut secara bergantian
"sayang, papa rasa kamu harus istirahat sekarang" ucap salah satu pria yang bernama Ramon seraya menghampiri Zelline yang duduk disamping Sarah, merangkul bahu Zelline lembut.
"no!" teriak Zelline seraya menepis tangan Ramon
Gantian Adam yang menghampiri Zelline, sedikit menarik Ramon yang menghalangi jalannya kemudian duduk tepat disamping Zelline
"sayang, sudahlah tak perlu dibahas, siapapun ayah kandungmu kami sangat sayang padamu"
Zelline menoleh
"benar kan! harusnya salah satu dari kalian adalah ayah kandungku bukan dua-duanya" ucap Zelline seraya mengarahkan jari telunjuknya kearah Ramon dan Adam bergantian
"kenapa kalian tidak mau tes DNA?" tanya Zelline untuk kedua kalinya
Sarah menaikan alisnya kemudian memijit keningnya sekarang, dia benar-benar dibuat pusing dengan tingkah Zelline.
Ya memang sekarang Zelline sudah besar, ia memang berhak untuk mengetahui siapa sebenarnya ayah kandungnya. Tapi Sarah belum siap, belum saatnya, hatinya masih merasa luka bila ingat itu semua.
"oh dear...please give me a time...okey!"
ujar Sarah kemudian berdiri dan membawa paper bag yang dibawanya tadi kedalam kamar.
"please explain" lagi-lagi Zelline melotot kearah kedua ayahnya
"sayang...kenapa kau menyebalkan sekali...persis ibumu" ucap Ramon, kemudian duduk dan meminum kopinya yang sudah mulai dingin.
Ramon sedang duduk santai diruang tengah, menikmati kudapan dan kopinya disela waktu liburnya, namun saat hendak menikmatinya Zelline datang menghampirinya dan bertanya terus sehingga membuat kopinya sekarang menjadi dingin.
***************************
Sarah sedang duduk santai ditaman belakang rumahnya, menikmati sore hari dengan secangkir teh camomile kesukaannya. Adam datang membawa sebuah buket bunga dan sebatang cokelat kesukaannya. Menepuk pelan bahu Sarah kemudian menyerahkan buket bunga dan cokelat tersebut kepada Sarah.
***
Sarah suka, selalu suka bahkan dengan perlakuan Adam kepadanya. Sikapnya selalu lembut dan perhatian. Sarah yakin diluar sana pasti banyak sekali wanita yang ingin menjadi kekasihnya, istrinya atau bahkan simpanannya sekalipun, karena Adam sangat tampan wajahnya yang blesteran, kulit putih, hidung mancung dan rambutnya yang coklat namun memiliki mata berwarna hitam pekat. Belum lagi jabatannya sebagai CEO disalah satu perusahaan yang paling bonafit, tentu menjadi incaran para wanita.
Namun Adam telah memilih Sarah, memilih untuk selalu menyayangi dan menjaganya. Adam teman kecil Sarah, selalu ada saat Sarah butuh bantuan bahkan rela melakukan apa saja demi Sarah. Bahkan rela meninggalkan pernikahannya yang tinggal menunggu hitungan menit itu demi Sarah. Adam mendapat kabar bahwa Sarah dilarikan kerumah sakit akibat pendarahan, tanpa fikir panjang lagi Adam langsung pergi meninggalkan Tania, calon istrinya, bahkan tak memerdulikan teriakan Tania memanggil namanya kencang.
****
" aku rasa sudah saatnya kita semua berterus terang" ujar Adam memecah kesunyian setelah beberapa saat mereka hanya saling terdiam.
"seharusnya kau tidak perlu bertindak sampai sejauh ini" ucap Sarah menatap pria yang ada disampingnya dengan wajah sendu
Adam menggeleng lemah
"kau tau aku selalu sayang kepadamu sampai kapanpun"
"maaf" ucap Sarah lirih
"untuk apa?"
"karena aku kau jadi gagal nikah"
"lupakan...aku tak pernah menyesal sedikitpun...kau bahkan tau seperti apa Tania...dia hanya mengincar hartaku saja...ku pikir aku merasa beruntung dengan tidak jadi menikahinya kala itu" Adam tersenyum
"ya dan kupikir juga sudah saatnya kau mencari seorang wanita untuk kau peristri, dan mempunyai anak untuk mewarisi semua hartamu, tidak mungkin kan kau memberikan semua hartamu kepadaku" ucap Sarah seraya tertawa ringan
"aku sudah punya anak Sarah...Zelline"
"no! Zelline anakku...hanya anakku, ingat itu!" ujar Sarah seraya menggelengkan kepalanya dan mengangkat jari telunjuknya keatas, kemudian mereka saling tertawa
Tanpa disadari didepan pintu taman yang tepat dibelakang Sarah dan Adam duduk ada seseorang yang sedang mendengar obrolan mereka.
"apakah bukan daddy Adam?" tanya Zelline dalam hati
Zelline kadang berfikir, orang-orang selalu menyebut kalau wajahnya mirip dengan Adam, berkulit putih, hidung mancung dan bola mata hitam pekatnya sangat mirip, namun ada pula yang bilang kalau dirinya sangat mirip dengan Ramon terlebih sikapnya yang tak sabaran, namun ada beberapa bagian diwajahnya yang memang terlihat mirip dengan Ramon yang berwajah tirus dan bibir yang tipis itu.
"hufft" Zelline menyandarkan tubuhnya ditembok sebelah pintu taman yang terbuka itu.