"begitupun dengan saya jadi saya harap kamu jaga perilaku kamu" ancam Andra
"seharusnya bapak yang jaga perilaku bapak, permisi" imbuh Devan tak mau kalah kemudian pergi meninggalkan Andra yang masih menatapnya tajam.
×***********×
"kau sudah pulang Zell?" tanya Sarah begitu melihat Zelline memasuki pintu rumah
Zelline hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata-kata
"Zell" panggil Sarah saat melihat Zelline berlalu begitu saja
"ya?"
"kesini sebentar" panggil Sarah seraya menepuk nepuk sofa sebagai tanda menyuruh Zelline agar duduk disampingnya
Zelline menurut melangkahkan kakinya kearah sofa dan kemudian meletakkan pantatnya disana
"kau tahu Zell...terkadang kita harus menerima hal apapun itu meski kita tidak menyukainya karena apapun itu bisa jadi itu yang terbaik buat kita"
"ha?what?maksudnya mom?"
"ya...hidup memang soal pilihan tapi yakinlah apapun nanti kedepannya kita harus bisa menerima segala konsekuensinya"
"ya pilihan...well i hope...semoga aku selalu menjadi anak kecil yang tak pernah ingin tahu urusan orang dewasa"
"oh..Zell don't be like that...bersikaplah dewasa maka kau akan memahami semuanya"
"itu yang aku tak suka...kenapa menjadi dewasa itu mengharuskan kita untuk memahami segala sesuatu yang bahkan kita tidak suka?"
"saat kau mampu memahami semuanya dan menerimanya dengan lapang hatimu akan terasa damai"
"begitukah? so why you don't tell me the truth?"
"who's my real dad?" tambah Zelline
"Zell...it's.....just give me a more time" pinta Sarah
"time?? how long?" ujar Zelline seraya berdiri dari duduknya kemudian menarik nafasnya panjang dan pergi meninggalkan Sarah sendiri
"Zell....Zellineee"
Zelline tak menghiraukan panggilan Sarah, dirinya terus berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya
brukkk..
Zelline menutup pintu kamarnya kasar membanting tasnya keatas kasur dan merebahkan tubuhnya disana
"why?? why???" ucap Zelline lirih dan tanpa sadar air matanya mengalir.
'sesulit itukah sebuah kejujuran?apa lagi?apa lagi yang harus ditunggu?sampai kapan?oh God' batin Zelline ditengah isak tangisnya.
***********
"hei.. " sapa Ramon begitu melihat Sarah yang sedang duduk termenung dibangku taman
"oh..hai...kau mengagetkan ku"
"aku memanggilmu berkali-kali tapi kau diam saja....apa yang sedang kau pikirkan" tanya Ramon penasaran
"ah..tidak ada" ucap Sarah kemudian meminum teh camomile-nya
"lier ....just tell me"
"ah ayolah Ramon aku tak apa-apa....lihat sudah jam berapa ini kau akan telat kekantor"
"i'm a bos....siapa yang perduli bila aku telat?"
"ah ya bos" ledek Sarah
"jujur...kau kenapa?"
"sudahlah Ramon kenapa kau bertingkah seperti Adam?"
"Adam? kurasa kau sedang merindukannya" ucap Ramon menggoda Sarah
"ah ya terserah"
"hahahaha"
"sudahlah kau pergi saja...beri contoh yang baik buat pegawaimu"
"hahahaha....."
Disela tawanya Ramon terus menatap Sarah mencoba mencari tahu dari raut wajahnya walaupun hasilnya nihil
"Sarah...kau tahu...kau bisa kapan saja cerita kepadaku...mengenai apapun...kau tahu aku selalu ada untukmu"
"see...kau makin terlihat seperti Adam"
"come on Sarah...apa ini soal Zelline?" tanya Ramon menatap wajah Sarah yang hanya tertunduk menatap cangkir teh yang berada dipangkuannya
"Ramon..." Sarah meletakkan cangkir teh diatas meja
"apa aku salah merahasiakan semuanya?" tanya Sarah
"itu hak kamu tapi ya..Zelline juga berhak tahu kebenarannya"
Sarah terdiam mendengar ucapan Ramon
"aku tahu ini berat...cobalah berdamai dengan hatimu dulu" ucap Ramon seraya berdiri kemudian mengusap bahu Sarah lembut
"aku berangkat...sepertinya kau benar aku harus memberi contoh yang baik buat para pegawaiku" ucap Ramon seraya tertawa kecil dan mengecup pucuk kepala Sarah
"ya..kau benar Ramon..aku memang belum bisa berdamai dengan hatiku ini terlalu sakit" ucap Sarah pelan
'aku akan menunggu Zelline pulang dan berbicara dari hati ke hati dengannya' batin Sarah.
Sarah bangkit dari kursi dan memutuskan untuk merangkai bunga diruang tengah sambil menunggu Zelline pulang
'sudah jam segini...ah...itu suara mobil Zelline' batin Sarah
"kau sudah pulang Zell?" tanya Sarah begitu melihat Zelline memasuki pintu rumah
Zelline hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata-kata
"Zell" panggil Sarah saat melihat Zelline berlalu begitu saja
"ya?"
"kesini sebentar" panggil Sarah seraya menepuk nepuk sofa sebagai tanda menyuruh Zelline agar duduk disampingnya
Zelline menurut melangkahkan kakinya kearah sofa dan kemudian meletakkan pantatnya disana
"kau tahu Zell...terkadang kita harus menerima hal apapun itu meski kita tidak menyukainya karena apapun itu bisa jadi itu yang terbaik buat kita"
"ha?what?maksudnya mom?"
"ya...hidup memang soal pilihan tapi yakinlah apapun nanti kedepannya kita harus bisa menerima segala konsekuensinya"
"ya pilihan...well i hope...semoga aku selalu menjadi anak kecil yang tak pernah ingin tahu urusan orang dewasa"
"oh..Zell don't be like that...bersikaplah dewasa maka kau akan memahami semuanya"
"itu yang aku tak suka...kenapa menjadi dewasa itu mengharuskan kita untuk memahami segala sesuatu yang bahkan kita tidak suka?"
"saat kau mampu memahami semuanya dan menerimanya dengan lapang hatimu akan terasa damai"
"begitukah? so why you don't tell me the truth?"
"who's my real dad?" tambah Zelline
"Zell...it's.....just give me a more time" pinta Sarah
"time?? how long?" ujar Zelline seraya berdiri dari duduknya kemudian menarik nafasnya panjang dan pergi meninggalkan Sarah sendiri
"Zell....Zellineee"
Zelline tak menghiraukan panggilan Sarah, dirinya terus berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya
'oh Zell kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasan mommy?' batin Sarah sedih
'ini semua juga berat buat mommy...sorry...just forgive me Zell' batin Sarah lagi seraya menghapus air mata yang menetes dipipinya
****************************
"Zell...pulang nanti tunggu gue diparkiran" ucap Andra saat berpapasan dengan Zelline dilorong sekolah
"ngapain?" tanya Zelline bingung
"Rafael belom nelpon lo?"
"gak" ucap Zelline singkat seraya mengernyitkan keningnya
"Rafael pasti lupa...yaudah ntar kita ketempat Rafael bareng ada pemotretan" ucap Andra kemudian pergi menuju ruang guru
"ihhh kok mendadak gini sih" keluh Zelline
tampak dari jauh Devan melihat Zelline yang tadi berbicara dengan Andra dirinya terlihat kesal
"Zell lo ngapain lagi barusan sama dia?"
tanya Devan
"dia?maksud lo kak..eh Pak Andra?"
"hah?kak? iya Pak Andra"
"gak ngapa-ngapain...kenapa si lo kepo banget?"
"lo tuh ada hubungan apa si?lo pacaran sama dia?"
"apaan si?ngaco lo!" ucap Zelline kesal kemudian pergi meninggalkan Devan namun dengan cepat Devan menarik lengan Zelline
"Zell...please donk lo dengerin gue...dia tuh bukan orang baik"
"maksud lo apa ngomong kek gitu?"
"ya...dia emang bukan orang baik Zell"
"lo kenal sama dia?kok bisa-bisanya lo ngomong kek gitu?dia itu guru lo guru kita wali kelas kita kok bisa si lo ngejelek-jelekin kek gitu" ucap Zelline yang tak terima
"iya dia emang guru kita tapi liat donk masa ngajakin muridnya jalan bareng?apa emang bener lo ada apa-apa kan sama dia!"
"jangan asal nuduh ya Dev, lo gak tau apa-apa gak usah deh ngarang-ngarang yang gak penting" kesal Zelline dan pergi meninggalkan Devan