jangan asal nuduh ya Dev, lo gak tau apa-apa gak usah deh ngarang-ngarang yang gak penting" kesal Zelline dan pergi meninggalkan Devan
"Zell ..tunggu gue belom selesai.... Zell.... Akhhh" teriak Devan sementara Zelline terus saja berjalan tanpa menghiraukannya sedikitpun.
"gue rasa lo harus bisa bersikap lebih gentle...Devan Syahputra"
Devan membalikkan badannya saat mendengar namanya disebut oleh seseorang yang suaranya tak asing dan benar saja Andra telah berdiri dibelakang Devan dan memandang sinis kepada Devan.
"bukannya gue udah pernah bilang untuk tidak ikut campur!" ancam Andra seraya menepuk-nepuk pelan bahu Devan sementara Devan langsung menyingkirkan tangan Andra dengan kasar
"hmm liat aja gue bakal bongkar orang seperti apa anda" ancam Devan tak mau kalah kemudian berlalu meninggalkan Andra yang tersenyum memandang kepergian Devan.
"ya Tuhannnnnnn menyebalkannnn" teriak Zelline saat duduk dikursinya
"kenapa lo?" tanya Tiara
"nyebelin banget si Devan sumpah" gerutu Zelline
"awas dari sebal bisa jadi cinta nanti" canda Tiara
"ikhh apaan si lo" ucap Zelline seraya menoyor kepala Tiara
"awww" teriak Tiara memegang kepalanya
"Tir..." panggil Zelline
"hmm" Tiara mendongakkan wajahnya
"bukannya waktu itu lo janji mo cerita ke gue soal masalah lo" ucap Zelline saat teringat ucapan Tiara saat dikantin
===============
"lo mang kemana aja si Tir gak masuk masuk mana susah banget hubungin lo"
"oh itu...iya hp gue rusak jadi gak bisa dihubungin deh"
"tumbenan kenapa sama hp lo?"
Tiara tak langsung menjawab pertanyaan Zelline wajahnya terlihat sendu
"Tir...are you okey?" tanya Zelline yang melihat perubahan raut wajah Tiara
"ya...gak apa-apa kok Zell....itu....hp gue kebanting"
"kebanting?kok bisa?"
Belum juga Tiara menjawab tiba-tiba Bimo datang menghampiri
"Zell dipanggil Pak Andra"
"huftt...kenapa lagi si tuh orang" gerutu Zelline
"yaudah gue keruangan Pak Andra dulu ya" ucap Zelline seraya bangun dari duduknya sambil menepuk pundak Tiara
================
"oh...itu.....udahlah Zell lupain aja gue males ingetnya"
"lo lagi ada masalah ya?"
"hmmm" Tiara menarik nafasnya panjang
"pada akhirnya ortu gue pisah Zell"
"hah?" Zelline tampak kaget mendengar ucapan Tiara sahabatnya
"sorry....lo sabar ya" Zelline berusaha menguatkan Tiara
"that's ok Zell...dari awal juga gue udah nebak kok...dan gue rasa ini yang terbaik" ucap Tiara lirih
Zelline yang tak tega melihat Tiara meneteskan air mata memeluknya erat
"lo kuat Tir...pasti kuat"
"thanks ya Zell"
Ditengah isak tangis Tiara dalam pelukan Zelline, Zelline teringat akan masalahnya 'setidaknya lo tahu siapa ayah kandung lo Tir sementara gue...' batin Zelline
×*******************×
Zelline menghela nafas kasar berkali-kali sesekali kakinya menendang-nendang kerikil yang ada didekatnya.
'jam 14.12.......hufftt demi apa coba gue masih nunggu disini' gerutu Zelline saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya pasalnya sudah hampir dua jam dirinya berdiri didepan pagar sekolah namun yang ditunggu juga belum menampakkan batang hidungnya.
"sorry lama"
Zelline menoleh saat mendengar suara Andra yang kini sedang berdiri dibelakangnya.
"hampir lumutan saking lamanya menunggu anda" kesal Zelline namun Andra hanya tersenyum
"let's go!" ajak Andra menarik tangan Zelline kearah mobil yang terparkir didepan gerbang sekolah
"mo kemana?" tanya Zelline heran karena Andra hanya menyuruhnya menunggu tanpa memberitahu alasanya
"pemotretan" jawab Andra singkat
"kok dadakan si?"
"Rafael baru ngabarin semalem...pemotretan outdoor jadi kita langsung kelokasi sekarang" jelas Andra
sementara Zelline hanya mengangguk pelan.
Zelline mendadak gelisah pasalnya ternyata lokasi yang dituju lumayan jauh dan mereka berhenti tepat di sebuah pantai.
"ini? " tanya Zelline seraya menunjuk kearah pantai
"ya...disini... kenapa? lo takut tenggelam? tsunami? " goda Andra
"apaan si lo! gue kan cuma mastiin aja.. kita pemotretan disini?"
"kalo bukan disini ngapain juga gue bawa lo kesini kek gak ada kerjaan aja!"
mendengar ucapan Andra barusan membuat Zelline terkejut bukan hal yang pertama memang karena biasanya mereka selalu adu mulut tapi setelah kebersamaan yang mereka lalui akhir-akhir ini mendengar Andra berucap demikian membuat Zelline kaget
"ikhh apa sih? kan gue cuma nanya sinis banget jawabnya" balas Zelline lebih sinis sambil memutar bola matanya sementara Andra hanya diam tak membalas ucapan Zelline.
Pemotretan berjalan lancar meski Andra lebih banyak diam bahkan sesekali terlihat tidak konsentrasi hingga Rafael harus berkali-kali menegurnya.
'kenapa si dia aneh banget' gerutu Zelline didepan cermin saat diruang ganti yang disediakan
brakk
Zelline kaget mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar, seorang wanita berambut panjang dengan dress diatas lutut menghampiri Zelline dan berdiri tepat didepan Zelline dengan tangan kanan dipinggang menatap sinis kearah Zelline
"ada hubungan apa lo sama Andra?" tanya siwanita dengan nada tinggi sementara Zelline yang tak mengerti maksud dari pertanyaan siwanita berdiri dan mengangkat kedua bahunya
"jawab!! lo pacarnya Andra? hah? " tanya siwanita lagi masih dengan nada sinis dan tatapan tajam melihat Zelline dari atas sampai bawah
Belum sempat Zelline menjawab dengan langkah yang terburu-buru Andra masuk kedalam ruangan dan menarik tangan kiri siwanita. Andra menarik wanita tersebut keluar ruangan, samar-samar Zelline mendengar percakapan keduanya tampak mereka sedang bertengkar.
Zelline yang tak ingin ikut campur hanya kembali membereskan barang-barangnya dan bersiap-siap untuk pulang. Namun saat hendak keluar ruangan tiba-tiba Rafael masuk
"maaf.. maaf... lo udah selesai beres-beres? " tanya Rafael
"ah... iya....udah selesai kan?"
"yup....thanks ya btw ini" Rafael memberikan amplop coklat kepada Zelline dan Zelline tersenyum menerima amplop tersebut
"thanks ya ka" ucap Zelline
"ah.. iya satu lagi Andra gak bisa anter lo pulang jadi biar gue aja yang anter ya"
"hah? oh... gak usah kak aku bisa nyetir sendiri kok it's okey" tolak Zelline
"udah biar gue yang anter mana kunci mobil lo? kalo gue gak anter lo Andra bisa ngamuk sama gue" terang Rafael seraya berlalu setelah mengambil kunci mobil yang memang dari tadi sudah dipegang Zelline.
"Andra? " ragu-ragu Zelline bertanya karena dirinya tak ingin dibilang terlalu ikut campur
Rafael menoleh saat Zelline menanyakan Andra
"Andra? gak usah khawatir dia ada urusan jadi dia gak bisa anter lo gak apa-apa kan? " tanya Rafael seraya tersenyum kearah Zelline saat mereka keluar dari parkiran
"yang tadi? ya... aku bukannya mau ikut campur si tapi.... itu...? " belum juga Zelline menyelesaikan ucapannya Rafael sudah memotongnya
"Andra itu banyak yang naksir ya jadi maklumin aja lama-lama juga lo bakal terbiasa kok! " jelas Rafael
"banyak yang naksir? jadi yang tadi itu beneran ceweknya? " tanya Zelline penasaran
"hahaha lo cemburu? " goda Rafael sontak membuat pipi Zelline merona
"ng... ng.. nggak lah....apaan si" Zelline menatap kearah luar jendela mencoba menutupi pipinya yang merona dan hatinya yang bergemuruh ada rasa sesak meski terlihat jelas tadi Andra dan wanita tersebut bertengkar tapi Andra justru malah pergi dengan wanita tersebut bukan mengantar Zelline pulang seperti biasanya.
Hufftt
Zelline menari nafas panjang
'apa karena wanita tadi dirinya terlihat berbeda dan tak konsentrasi?' batin Zelline