Eps. 13
Mendengar penuturan Andra membuat Zelline sadar betapa beruntungnya dia meski dirinya tidak mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya tapi setidaknya dia tidak pernah kekurangan kasih sayang bahkan semua keinginannya selalu terpenuhi.
Zelline menatap pria tua penjual bakso tersebut. Batinnya mulai berkecamuk segala rasa kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan . Bagaimana seandainya memang benar bukan daddy Ramon atau daddy Adam ayah kandungnya tapi melainkan orang lain yang tak pernah ia kenal sebelumnya, seperti apa dia? bagaimana kehidupannya selama ini?apa pekerjaannya?kemana dia selama ini?kenapa?kenapa?dan kenapa?.
Tanpa sadar air matanya mengalir, Andra yang memperhatikan Zelline hanya terdiam memandangi wajahnya sesaat kemudian mengelus kepala Zelline pelan.
"maaf...apa ada kata-kata gue yang salah atau nyakitin lo?" tanya Andra
Zelline menegok saat tangan Andra mengelus kepalanya lalu buru-buru ia menghapus air mata yang mengalir dipipinya, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"thanks" ucap Zelline pelan namun masih bisa didengar Andra yang bingung mendengarnya
Andra menaikkan kedua alisnya saat mendengar ucapan terimakasih dari Zelline dan sedetik kemudian tampak terlihat bibir Zelline menyunggingkan sebuah senyuman.
"sorry sepertinya gue kebawa suasana...well...thanks...makasih telah membuat gue sadar...how lucky iam" ucap Zelline seraya tersenyum dan Andrapun ikut tersenyum.
"Zell..Zell..ternyata lo anak yang kuat...your daddy will proud of you" batin Andra, yang masih menatap Zelline dengan tersenyum.
******************************************************************
"kau sudah pulang Zell?bagaimana pemotretannya?" tanya Sarah begitu melihat Zelline masuk kedalam rumah
"hmm not bad" ucapnya Zelline seraya tersenyum
"apa kau menyukai pekerjaanmu sayang?" tanya Sarah lagi
"hmmm entahlah aku baru mencobanya...ya hasilnya lumayan, maksudku penghasilannya"
"oh ya?"
"ya aku langsung dibayar...kurasa mungkin aku tidak perlu minta uang jajan lagi nantinya" ujar Zelline merasa bangga
"really? Wow that's good... mommy akan bilang pada daddy's kalau begitu" goda Sarah seraya tersenyum nakal
"no..no.mom i'm just kidding....maksudku itu kan kalau aku terus menjadi model untuk saat ini aku belum terlalu tertarik"
"kau mulai menyukainya...sudahlah mengaku saja" goda Sarah lagi
"a..a..aku?" tunjuk Zelline kepada dirinya sendiri dengan tergagap
"mana mungkin aku menyukai orang yang sangat menyebalkan?" keluh Zelline salah sangka
"menyebalkan?apa maksudmu Zell?mommy tidak mengerti?" tanya Sarah bingung dengan ucaan Zelline
"oh god" batin Zelline menepuk jidatnya sendiri
Sepertinya Zelline telah salah mengerti dengan ucapan Sarah dan pernyataannya malah membuat dirinya salah tingkah. Sarah hanya mengernyitkan keningnya bingung.
"never mind mom just forget it" ucap Zelline seraya mengibaskan tangannya
"sepertinya kau lapar, sebaiknya kau segera makan tapi kau harus bersih-bersih terlebih dahulu"
"bersih-bersih? Ya ampun mom!" pekik Zelline
"what?" tanya Sarah heran melihat tingkah laku anaknya
"ah...ya...maaf sepertinya hari inii aku benar-benar lelah sehingga agak tulalit" ujar Zelline sambil memutar jari telunjuknya tepat disamping kepalanya kemudian langsung bergegas kekamarnya
"ada-ada saja" gumam Sarah seraya menggelengkan kepalanya.
••••••••••
"bodoh" rutuk Zelline pada dirinya sendiri
"ngapain musti inget Kak Andra terus coba? Oh God yang bener aja" gerutu Zelline seraya duduk diatas kasurnya kemudian merebahkan tubuhnya dan ingatannya kembali pada obrolannya dengan Andra tadi.
"dia yang selalu ada mungkin memang benar-benar sayang tapi ikatan seorang ayah dan anak tidak akan pernah bisa putus" kata-kata Andra saat makan bakso tadi sangat jelas ditelinga Zelline.
"apa maksudnya coba?" gerutu Zelline lagi tak lama kemudian Zelline tertidur pulas.
•••••••••
"bagaimana sekolahmu?" tanya Ramon saat melihat Zelline duduk dibangku taman sedang membaca majalah.
Zelline menoleh kemudian berdiri menghampiri Ramon dan memeluknya
"miss u so much dad" ucap Zelline yang disambut pelukan hangat oleh Ramon
"miss u too honey" ucap Ramon kemudian duduk dibangku taman yang tadi diduduki Zelline.
"bagaimana perjalanannya?do you bring something for me?" tanya Zelline yang ikut duduk disamping kursi Ramon
"hmmm sepertinya aku lupa sesuatu" goda Ramon
"what? Apa yang kau lupakan? Jangan bilang kau tidak membawakanku oleh-oleh?" rengek Zelline
"hahahah ingat kau sudah besar bersikaplah sedikit dewasa" nasehat Ramon yang berhasil membuat bibir Zelline maju mengerucut
"kau seperti anak kecil yang tidak dikasih permen" goda Ramon lagi dan kali ini membuat Zelline tambah kesal hingga ia membuang muka kearah yang berbeda dan meletakkan kedua tangannya diatas dadanya membuat Ramon terbahak-bahak.
"dad!!!" teriak Zelline jengkel ketika mendengar tawa Ramon
"heii...i'm just kidding" ujar Ramon masih sambil tertawa
"oleh-oleh untukmu sudah ku taruh dikamarmu" ucap Ramon lagi kali ini disambut senyuman oleh Zelline
"really? Oh thanks dad"
Ramon tersenyum mendengarnya
"ku dengar kau kerja sekarang?" tanya Ramon
"kerja?"
"ya kudengar dari mommy mu kau dapat tawaran sebagai model?"
"oh...itu...ya aku baru mencobanya baru sekali pemotretan hasilnya lumayan"
"begitukah?apa kau akan melakukannya lagi?ya maksud ku tak ada salahnya....kau jadi punya banyak pengalaman"
"ya kurasa juga begitu....awalnya aku kurang tertarik tapi kurasa kau benar dad aku akan punya banyak pengalaman nantinya...hmmm kalau ada tawaran lagi kurasa aku takkan menolaknya"
"that's good kau jadi punya kegiatan yang lebih bermanfaat"
Zelline tersenyum mendengarnya
"bagaimana kalau kita ajak Andra untuk makan malam?" tanya Ramon
"Andra?kau kenal dengannya Dad?" tanya Zelline bingung begitu Ramon menanyakan soal Andra pasalnya selama ini ia tidak pernah cerita
'ah mungkin dari mommy' gumam Zelline dalam hati
"Mommy mu yang cerita dan ya.. aku juga sudah dengar dari Ronald soal salah paham waktu itu dan ternyata Andra itu keponakannya Ronald.....benar kan?" tanya Ramon
"iya dan dia juga wali kelas ku sekarang" ucap Zelline pelan.
"well that's good"
"hah? Kau tidak tahu saja dia seperti apa dad" ujar Zelline
"memangnya seperti apa dia?"
"sangat menyebalkan"
"hahahah hati-hati kau bisa jatuh cinta nanti"
"NEVER!!" tegas Zelline
"hahahah..." Ramon kembali tertawa
Entah mengapa Zelline bisa sangat terbuka dengan Ramon berbeda bila dengan Adam. Mungkin karena ada beberapa sifat mereka yang sama atau karena memang Ramon yang paling sering mengajak Zelline bercerita.
***********
Adam baru saja pulang kerja, buatnya hari ini sangat melelahkan dirinya membayangkan berendam didalam bath up dengan air hangat pasti akan membuat dirinya kembali rileks. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Ramon yang berjalan kearah taman belakang entah mengapa kakinya justru terus mengikuti langkah kaki Ramon dengan pelan dan hati-hati tak ingin dirinya sampai diketahui Ramon.
"ah ternyata ia ingin menghampiri Zelline" batin Adam begitu melihat Ramon menghampiri Zelline yang sedang duduk dibangku. Entah mengapa ada rasa penasaran dalam hatinya ingin mendengarkan percakapan Ramon dan Zelline padahal selama ini dirinya akan terang-terangan menghampiri mereka berdua saat mereka sedang berbincang.
Entah kenapa untuk saat ini melihat Zelline yang sangat akrab dengan Ramon membuat d**a Adam terasa sesak, apalagi ketika melihat Zelline dan Ramon tertawa bersama layaknya seorang putri yang sedang berbagi cerita dengan ayah kandungnya.
"ya ku akui aku kalah darimu Ramon....kau memang paling bisa mengambil hati Zelline tapi kupastikan Sarah akan memilihku" batin Adam lagi