Zelline menatap dua makhluk yang ada dihadapannya bergantian. Ia tidak kekurangan uang, mommy and daddynya juga selalu memenuhi keinginannya. Tapi peluang dan pengalaman tentu saja tak datang dua kali.
"hmmm...gimana ya?"
"tenang aja kamu gak usah khawatir soal jam kerjanya bisa diatur kok, banyak juga kok model-model yang masih berstatus pelajar dan mereka masih bisa berprestasi disekolah" ujar Rafael
"oke...saya coba"
"good!" Rafael mengulurkan tangannya menjabat tangan Zelline dengan senyum yang merekah, dengan sedikit ragu Zelline membalas uluran tangan Rafael
Tak butuh waktu lama Rafael mengajak Zelline dan Andra kesebuah ruangan, lebih tepatnya studio foto karena disana terdapat beberapa tiang lampu untuk pencahayaan. Seorang perempuan muda dengan kaos berkerah berwarna biru dan celana jeans tujuh perdelapan dan sepatu kets berwarna navy menghampiri Rafael. Sepertinya perempuan tersebut sebelumnya telah diberitahu untuk mempersiapkan beberapa pakaian untuk Zelline karena perempuan tersebut membawa dua buah gaun, yang satu berwarna hijau emerald, lengan tali dengan panjang selutut diberi aksen pita pada pinggang sebelah kiri dan yang satu berwarna hitam berlengan pendek namun panjangnya sama selutut. Sebenarnya Zelline agak risih karena kedua gaun tersebut berbelahan d**a agak rendah namun demi keprofesionalitasnya Zelline mengesampingkannya.
Ternyata pemotretan kali ini demi mengiklankan perhiasan. Wajah Zelline yang memang pada dasarnya cantik hanya diberi make up yang tipis. Zelline dipakaikan kalung berlian bermata batu Safir berwarna merah maroon dengan cincin senada dan gelang batu yang indah. Awalnya Zelline mengenakan gaun berwarna hijau setelah beberapa dipotret Zelline berganti dengan gaun hitam dan perhiasannyapun diganti dengan anting berlian bermata putih, gelang dan cincinnya pun diganti dengan warna dan model yang senada.
Zelline tampak menikmati jalannya pemotretan, pose-posenya pun sesuai dengan kemauan sang fotografer. Setelah hampir satu jam akhirnya sesi pemotretanpun selesai. Rafael berdecak kagum kepada Zelline
"kau sudah seperti model yg pro" puji Rafael dan Andra tersenyum mendengarnya
"bagaimana kalau kalian foto berdua?" tanya Rafael sambil menunjuk kearah Zelline dan Andra
Zelline yang mendengar ucapan Rafael hanya bisa menganga tapi juga tak bisa menolak.
"ide yang bagus" ucap sang fotografer yang bernama Nino
"tema couple" tambah Nino lagi sembari tersenyum
"ya..bukannya ada sepasang perhiasan couple untuk difoto juga?" tanya Rafael
Nino dengan sigap menyuruh asistennya membawa perhiasan yang telah disiapkan oleh pemilik brand perhiasan tersebut sebelumnya kemudian memperlihatkannya pada Rafael, Andra dan Zelline. Sepasang cincin dengan ukiran bentuk love dan sepasang cincin yang untuk pria polos dan untuk wanitanya terdapat berlian berwarna putih ditengahnya, cincin tersebut tampak indah dan berkilau membuat Zelline terkagum.
Tak butuh waktu lama Rafael menyuruh beberapa karyawannya untuk bergerak cepat mempersiapkan background foto dan persiapan lainnya.
Wajah Zelline kembali di touch up, kali ini diberi hiasan make up yang terlihat sedikit glamour dan pakaian yang dikenakannya pun diganti dengan gaun putih brukat tanpa lengan dengan panjang sebetis. Zelline tampak tersenyum didepan cermin, memandang dirinya yang tampak terlihat sangat cantik bahunya yang sebahu dicepol disisakan sedikit disamping kiri dan kanannya kemudian dibuat agak sedikit curly membuat dirinya tambah terlihat menawan.
Sedangkan Andra kini sudah berganti pakaian dengan kemeja polos berwarna maroon lengan panjangnya digulung sedikit dan dua buah kancing atasnya dibiarkan terbuka.
"ok....ready to take a picture?" tanya Nino saat melihat keduanya sudah berganti pakaian
Andra lantas menghampiri Nino dan terlihat sedikit berbisik-bisik hingga membuat Zelline penasaran dan ikut menghampiri, namun saat sudah hampir mendekat keduanya malah terdiam.
"kau siap Zelline?" tanya Nino begitu melihat Zelline menghampirinya dan Zelline sedikit menganggukkan kepalanya
"ok ambil posisi ya! Ndra lo disebelah kiri Zelline sebelah kanan sebisa mungkin natural ya anggep kalian adalah sepasang kekasih" perintah Nino membuat Zelline merona merah mendengarnya sementara Andra hanya terdiam dan kemudian langsung mengambil posisinya kemudian asisten Nino yang bernama Mira membawakan sepasang cincin kemudian mengenakannya dijari manis Andra dan Zelline.
"pegangan ya sambil jarinya diperlihatkan kesini senyum ya...good like that" ucap Nino ketika melihat pose yang diinginkan.
"sekali lagi ya ganti pose Ndra lo dibelakang Zelline agak dipeluk ya tangannya masih nempel coba liat sini senyum ok tahan good...sekali lagi tahan senyum...ok...coba lagi ...ok good..."
"oh good kenapa deket gini posenya? Ni kenapa lagi d**a gue kek berdebar-debar...oh god semoga Andra gak denger" batin Zelline
"coba saling tatap ya...tangannya coba diatur ....ok...saling tatap tahan...good....sekali lagi...."
Akhirnya setelah setengah jam sesi pemotretan untuk cincin couple selesai. Tangan Zelline sempat dingin saat dipegang Andra tadi.
"huft...finally beres" gumam Zelline saat dirinya sudah berganti pakaian dengan seragam sekolahnya kembali.
"gimana Zell? Do you like it?" tanya Rafael ketika Zelline berada diruangannya diajak Andra
"yah...ternyata cukup menyenangkan" ujar Zelline sambil melirik kearah Andra yang dari tadi senyum-senyum sendiri
"hahahaa lo harus sering-sering kesini...ini buat lo" Rafael memberikan Zelline sebuah amplop coklat kecil setelah dibuka Zelline tampak sedikit terkejut melihat isinya yang ternyata beberapa lembar uang berwarna merah didalamnya.
"ini?"
" ya itu bayaran kamu, lumayan lah buat tambahan jajan hahaha" Rafael sedikit tertawa mengucapkannya
"terimakasih ya" ucap Rafael kembali
"saya juga terimakasih" ucap Zelline seraya mengangkat amplop coklat tadi.
Andra berdiri dari duduknya kemudian pamit kepada Rafael dan mengajak Zelline pulang
Namun ketika Zelline keluar dari ruangan tampak Andra yang justru malah terlihat sedikit berbisik kepada Rafael hingga membuat Zelline bingung.
"gimana?" tanya Andra begitu didalam mobilnya
Zelline menoleh
"bener kan lo tuh fotogenic jadi gak salah gue ajak lo kesini"
"hmm" jawab Zelline singkat
"laper?" tanya Andra kembali
"pulang aja"
"lo gak pengen traktir gue apa?lo kan abis dapet duit dari Rafael! Jangan lupa gue yang ajak lo kerja!" goda Andra seraya mengedipkan sebelah matanya kearah Zelline
Zelline yang melihat Andra tersenyum itu malah bergidik padahal dadanya terus bergemuruh dari tadi
"ka Andra mo makan apa?" Zelline bertanya kepada Andra dengan nada yang mengejek
Andra yang mendengar justru malah tertawa
"makan kamu" ucapnya jail membuat Zelline memberikan tinjunya kebahu Andra
"heiiii i'm kidding" ucap Andra masih dengan tawanya
"yaudah gue traktir bakso ja...tuh didepan ada tukang bakso" tunjuk Zelline melihat gerobak bakso keliling
"traktir gue yang bonafit dikit donk!"
"lah suka-suka gue donk!"
"dasar abege"
"biarin wee" Zelline menjulurkan lidahnya
Andra menghentikan mobilnya dipinggir tepat didekat gerobak bakso
"eh ini beneran lo mau makan bakso itu?" tunjuk Zelline kearah gerobak bakso
"kan lo tadi yang mo traktir gue itu"
"ya gue cuma becanda doank, sekelas lo gak mungkin kan makan dipinggir jalan kek gini?"
"maksud lo?" tanya Andra namun Zelline hanya diam
"oh...jangan-jangan lo yang gak biasa makan dipinggir jalan kek gini?" tanya Andra kembali
"ya..ya..gak juga si" jawab Zelline sedikit gagap
"sekali-kali lo harus coba makan dipinggir jalan kek gini" ucap Andra yang kemudian membuka seatbelt nya dan langsung turun dari mobil tanpa berkata lagi
Tak butuh waktu lama Andra mengetok kaca pintu Zelline kemudian menyerahkan semangkuk bakso saat Zelline membuka kaca tersebut, kemudian Andra masuk kedalam mobil sambil membawa kembali semangkuk bakso untuknya.
"dimakanlah"
Zelline melihat Andra yang tampak serius memakan baksonya yang masih cukup panas
"lo biasa makan dipinggir jalan kek gini ka?" tanya Zelline karena tak percaya dengan kelakuan Andra yang terlihat sedikit berbeda dimatanya
"kenapa?ini enak kok rasanya gak kalah sama yang ada diwarung-warung pinggir jalan"
"ya...tapi ini...gerobak loh ka"
"terus??Zell kita itu harus banyak bersyukur gak semua orang bisa makan enak dan menikmati makan ditempat yang bagus dan mewah"
"banyak orang yang harus bekerja keras agar bisa makan, lo liat" Andra menunjuk kearah bapak sipenjual bakso
"dia udah tua Zell tapi masih nyari uang buat keluarganya"
Zelline terdiam mendengar penuturan Andra yang entah kenapa membuat Zelline sedikit sesak mendengarnya.