Pangeran Yun Yi ikut duduk bersama rombongan Song Lianyu. Dia duduk tepat di samping Song Lianyu.
"Yun Yi? kau sudah selesai dengan latihanmu?" tanya Song Lianyu menoleh pada Pangeran Mahkota.
Yun Yi mengangguk sebagai jawaban. "Aku merasa akan ada hal yang buruk yang akan terjadi," ucapnya.
"Terkait dengan peristiwa semalam?" tanya Bai Quan, dia melihat Pangeran Yun Yi dengan pandangan bertanya.
"Iya, itu maksudku," jawab Yun Yi.
Yuwen Yue tertawa, menganggap kejadian itu hal yang sepele. "Kalian terlalu memikirkan kejadian semalam. Itu 'kan termasuk salah satu peristiwa alam. Selama ini badai, petir, guruh, awan hitam hampir selalu terjadi setiap tahun."
Song Lianyu merenungkan apa yang diucapkan Yuwen Yue. Dia pikir ada benarnya juga. Itu mungkin saja hanya salah satu peristiwa alam yang seperti dimaksud Yuwen Yue.
"Jika pun itu adalah peristiwa alam yang dikatakan Yuwen Yue, namun tak ada salahnya kita lebih waspada," ujar Song Lianyu dengan bijak. Dia tidak membenarkan apa yang dikatakan Yuwen Yue atau pun yang dikatakan oleh Pangeran Yun Yi , karena keduanya adalah teman.
Han Shiyi mengangguk setuju. "Iya, aku setuju. Kita lebih baik ke kamar asrama atau ke mana gitu, masing-masing untuk berlatih," ucapnya.
Semuanya mengangguk setuju. Mereka semua memutuskan untuk latihan bersama di halaman belakang.
Song Lianyu menutup matanya dan memusatkan pikirannya. Dengan posisi bersila. Kedua tangan diletakkan di atas paha. Selama setengah jam kemudian. Dia mengambil pedangnya dan mulai berlatih pedang sendirian, untuk memperhalus gerakannya. Ilmu meringankan tubuhnya sudah cukup berkembang. Dia sekarang bisa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Perkembangan yang lumayan bagus.
"Lianyu, hasil latihanmu cukup baik," ujar Pangeran Yun Yi memuji dengan senyuman di wajahnya.
"Terima kasih, Yun Yi," jawab Song Lianyu juga balas tersenyum.
"Pedang yang kau pegang itu, rasanya aku mengenalnya?" ujar Pangeran Yun Yi sambil menatap pedang yang ada di tangan Song Lianyu.
"Ini hadiah dari Putri Yun Qing," jawab Lianyu.
"Putri Yun Qing?" Ulang Yun Yi. Bukankah itu adiknya sendiri?
Song Lianyu mengangguk. "Iya. Dia adalah adikmu," jawabnya.
"Kenapa bisa?" tanya Yun Yi. Dia penasaran bagaimana bisa adik pertamanya yang sering di dalam istana bisa bertemu dengan Song Lianyu.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya," ujar Song Lianyu. Dia tersenyum karena mengingat kejadian dia yang jatuh di dalam kolam karena naik pedang yang tidak hati-hati.
"Yun Yi, aku dengar tingkat kultivasimu sangat tinggi," ujar Song Lianyu membahas topik yang lain.
"Ah, tidak juga. Masih banyak yang tingkat kultivasi nya lebih tinggi dariku," jawab Yun Yi merendah.
***
Song Lianyu dan Pangeran Yun Yi sering menghabiskan waktu bersama seperti saat ini keduanya sedang duduk berdua di halaman asrama. Lampu-lampu lentera menerangi halaman asrama membuat suasana semarak.
"Yun Yi, coba kau lihat ke atas," ujar Song Lianyu, tangannya menunjuk langit di atas.
"Itu bukankah itu? Lintang kemukus?" Pangeran Yun Yi berkata sambil mendongak menatap langit yang kini ada benda berbentuk lurus yang bercahaya di langit.
"Lintang kemukus? Apa itu punya arti yang special?" tanya Song Lianyu dengan ekpresi bertanya.
"Ahli bintang mengatakan bahwa lintang kemukus memiliki pertanda buruk seperti akan ada pagebluk, dan suatu bencana," jelas Pangeran Yun Yi. Dia pernah membacanya di buku tentang kejadian langit.
"Bencana apa? Bencana banjir? Kebakaran? Longsor?" tanya Song Lianyu.
Putra Mahkota Kerajaan Rou Shui menggeleng. "Entahlah, aku tak yakin. Yang jelas bencana yang entah apa itu akan datang cepat atau lambat. Aku hanya bisa berharap, bencana itu tak akan menyebabkan nyawa manusia melayang," ujarnya.
"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, Yun Yi. Kita kembali ke kamar asrama saja, Yun Yi. Sudah malam. Udaranya juga bertambah dingin," ucap Song Lianyu.
"Selamat malam, Lianyu," ujar Pangeran Yun Yi sebelum melangkah meninggalkan halaman asrama putri.
"Selamat malam juga, Yun Yi," jawab gadis itu.