Sebulan kemudian berlalu dengan begitu cepat. Long Feiye menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar meningkatkan tingkat kultivasinya dan juga berlatih teknik pedang bersama sang guru. Song Lianyu juga melakukan hal yang sama yaitu belajar meningkatkan kultivasinya sampai bisa menjadi pembuat pil. Begitu juga teman-teman yang lain.
"Akhirnya tercapai juga tingkat kultivasiku," ujar Song Lianyu tersenyum puas. Dia baru saja selesai berlatih kultivasi. Dia tersenyum senang.
Song Lianyu baru saja mencapai tingkat kultivasi elite bagian enam. Dia selama ini berlatih dengan keras untuk bisa mencapai targetnya itu. Dia rela memotong waktu tidurnya agar cepat naik tingkat kultivasi. Dia selama satu bulan ini naik dua tingkat, yang merupakan pencapaian yang besar.
Dia menghapus keringat yang membasahi dahinya dengan sapu tangan merah muda. Sapu tangan itu terbuat dari sutra. Dengan bordir kupu-kupu yang indah. Song Lianyu sendiri yang membuat sapu tangan tersebut. Dia memanfaatkan kain sisa dari tempatnya bekerja.
"Aku harus membeli tungku, kuali, dan bahan-bahan yang lain yang aku butuhkan," ujar Song Lianyu. Dia sedang mencatat semua alat dan bahan-bahan yang dia butuhkan di dalam buku catatan khusus.
"Selamat pagi! Lianyu!" sapa Pangeran Yun Yi dengan senyuman yang khas di wajahnya. Kali ini laki-laki itu memakai hanfu berwarna kuning keemasan yang tampan cocok dengannya.
"Oh, selamat pagi, Yun Yi, " sapa Song Lianyu dengan ramah juga.
Pangeran Yun Yi ikut melihat apa yang ditulis oleh gadis itu. "Ini barang-barang untuk membuat pil?" Tanyanya menaikan alisnya.
"Iya, begitulah," jawab Song Lianyu. Song Lianyu menyimpan buku catatan di dalam tas cokelatnya. Dan menyimpan dompet uangnya di sana juga. Di sana lebih aman menurutnya.
"Aku temani," sahut Pangeran Yun Yi. Setiap kali bersama Song Lianyu, Yun Yi meminta agar Yuwen Huai (bawahannya itu tidak ikut).
"Baiklah, ayo." Sepasang manusia itu berjalan berdua keluar asrama setelah izin pada petugas penjaga pintu gerbang.
Mereka berjalan di tengah pasar. Banyak orang yang berlalu lalang di sana. Para pedagang saling berteriak menjajakan dagangan yang mereka jual, supaya laris manis.
"Bing tang hulu! Rasanya manis!" teriak pedagang.
"Belilah buah kering! Boleh mencicipi sebelum beli!" jerit pedagang yang lain.
"Figuran gula! Ayo belilah! Tak mahal-mahal!" teriak pedagang yang lain, yang tidak kalah saingan.
Song Lianyu berhenti pada pedagang figuran gula. Dia tampak tertarik dengan permen-permen manis yang dibentuk menjadi berbagai karakter. "Nona, ini adalah figuran gula. Nona, pasti akan menyukainya," ujarnya.
Song Lianyu mengambil salah satu figuran gula berbentuk kupu-kupu, dia mencicipi figuran gula. Rasanya manis dan enak. Warnanya kuning cerah dan tipis.
Pangeran Yun Yi tersenyum, membuka kantong dompetnya, dan mengambil satu tael perak kemudian memberikannya pada bapak pedagang. "Sisanya ambillah," ujarnya.
Pedagang itu tampak senang dan berterima kasih pada Pangeran Yun Yi. "Terima kasih, Tuan. Anda sangat baik. Langit pasti akan memberkahi Anda," ujarnya.
"Kenapa jadi Yun Yi, yang membayarnya?" tanya Song Lianyu dengan ekpresinya yang tampak lucu dan bingung.
"Tidak apa-apa, memang itu sewajarnya," ujar Pangeran Yun Yi dengan senyuman khasnya.
"Kalau begitu, terima kasih," jawab Song Lianyu tersenyum.
Senyuman itu mampu menggetarkan hati Pengeran Yun Yi. Dia sedang di mabuk cinta karena di matanya Song Lianyu berkali-kali lipat cantiknya.
Dia polos dan lucu, aku semakin menyukainya, batin pangeran Yun Yi.
Lagi dan lagi, gadis itu tersenyum sambil menikmati manisnya figuran gula. Seperti anak kecil, padahal sudah berlabel gadis, ada sisa makanan itu yang tertempel di bibirnya.
Sontak dengan gerakan refleks, pangeran Yun Yi mengelap bibir Song Lianyu dengan lembut membuat gadis itu diam membeku dengan mata membola sempuna.
Dia terkejut bukan main dengan tindakan sang pangeran. Melihat reaksi gadis itu, Pangeran Yun Yi langsung angkat bicara. "Maaf, aku hanya membersihkan noda di bibirmu."
Wajah Song Lianyu langsung merah merona, seperti kepiting rebus. Tentu saja dia malu karena pangeran Yun Yi bersuka rela melakukan hal itu. Seharusnya, dia bilang kalau ada noda di bibirnya.
"Oh, ya, katanya mau pergi membeli barang-barang kebutuhan," ujar Pangeran Yun Yi memecah kecanggungan karena insiden permen. Jujur saja, dia juga merasa malu bertindak sesuka hati. dan kenapa juga jantungnya terus saja menggila? Sial! Jika terus seperti ini, dia harus mengikat Song Lianyu dengan cepat.
"Oh, iya, aku hampir lupa." Song Lianyu menepuk dahinya pelan. Berusaha untuk melupakan kejadian yang baru saja terjadi itu. Walau nyatanya masih terngiang-ngiang.
Lianyu, kau harus melupakannya, pokoknya harus, batin Song Lianyu.
Mereka mampir sejenak di salah satu toko kedai bakpao. Aroma bakpao yang enak, membuat perut menjadi keroncongan.
"Bos, empat bakpao rasa ayam abon, cokelat, stroberi, dan kacang hijau," pesan Pangeran Yun Yi.
"Eh, Tuan Yan. Siap! Bakpao segera datang!" jawab pemilik kedai bakpao. Pemilik kedai ramah pada pelanggannya. Oleh karena itu dia punya banyak pelanggan.
Mereka berdua duduk berhadapan. Ada beberapa pengunjung yang lain sedang makan bersama pasangan mereka. Adapula yang makan sendirian.
"Yun Yi, kau sering makan di sini?" tanya Song Lianyu, karena dia bisa melihat jika Yun Yi dan pemilik kedai bakpao tampak saling mengenal.
"Aku beberapa kali makan di sini saat waktu senggang. Walau di pinggir jalan, namun rasanya tidak akan kalah enak dengan makanan yang ada di dalam restoran," jelas Pangeran Yun Yi.
Pangeran Yun Yi tidak merasa gengsi dan malu makan di tempat yang sederhana seperti ini. Padahal status dia sangatlah terhormat, dia adalah Putra Langit. Penerus Kaisar Yun Li, batin Song Lianyu di dalam hati.
Aku pikir awalnya semua orang yang berasal dari keluarga kerajaan, tak akan sudi makan di tempat yang sangat sederhana dan di pinggir jalan begini. Ternyata dugaan aku salah, masih ada Pangeran Yun Yi yang mau dan tidak merasa keberatan makan di pinggir jalan, pikir Song Lianyu.
"Kedua pelanggan, ini empat bakpao pesanan. Silakan dinikmati," ucap pemilik kedai sambil meletakkan dua mangkuk berisi bakpao yang masih panas. Asap putih mengepul keluar melayang di udara. Tidak lupa menyiapkan empat sumpit di atas dua mangkuk.
Keduanya makan bakpao milik masing-masing di dalam keheningan.