Dua hari kemudian murid-murid dan para guru telah kembali dari sekte Biru Langit. Semuanya berlangsung seperti biasanya, para murid latihan dan belajar dengan guru yang mengawasinya.
Di malam hari Song Lianyu masih terjaga, dia sedang melatih teknik pedang yang dipelajarinya dari Pangeran Yun Yi. Gadis berambut hitam itu berada di halaman belakang. Tiba-tiba angin malam berhembus dengan kencang, membuat rambutnya melayang-layang. Song Lianyu menghentikan latihannya tersebut, dia mendongak ke arah langit. Tiba-tiba dahinya mengernyit dengan heran.
"Entah, kenapa aku merasa ada yang sedikit berbeda malam ini. Awan di atas kelihatannya lebih tebal dan juga hitam. Kenapa mereka tampak menyeramkan," ucap Song Lianyu.
Tiba-tiba guruh dan petir menyambar-nyambar. Seolah-olah sedang menggambarkan kemarahan langit.
Song Lianyu berlari ketakutan, berlari masuk ke dalam kamar asramanya. Dia langsung mengunci pintu kamar asrama.
"Tidak lucu jika aku mati tersambar oleh petir," ucapnya sambil menetralkan detak jantungnya yang menggila.
"Anggap saja alam sedang marah, aku lebih baik tidur saja," jawabnya lagi. Dia langsung ke arah ranjang dan berusaha untuk tidur.
Song Lianyu tak bisa tidur dengan nyenyak. Dia masih mendengar suara petir dan guruh yang tampak menakutkan.
***
Sementara itu di tempat lain terlihat seorang laki-laki sedang berada di posisi bersila. Dia masuk ke dalam alam jiwa.
Setelah memberikan salam penghormatan pada guru Fang An dia langsung bertanya. "Guru, kenapa di luar malam ini tampak berbeda?" tanyanya. Dia heran karena selama ini langit tidak sehitam itu.
Guru Fang An tersenyum saja. "Yang datang, akan tetap datang, cepat atau lambat," ujarnya membuat Long Feiye bertanya-tanya.
"Maksud guru apa?" tanya Feiye yang tak mengerti. Siapa memangnya yang akan datang? Apa dia adalah tamu khusus?
"Kau tak perlu tahu, yang penting kau harus meningkatkan kekuatan kultivasimu untuk mencapai yang kau inginkan," jawab guru Fang An. Feiye hendak bertanya lagi, tapi Fang An segera meminta agar Long Feiye segera tidur.
"Baiklah, guru," jawab Long Feiye.
***
Di dalam ruangan yang suram dan tampak menyeramkan. Tepatnya di dalam sebuah tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. Di atas gunung. Batu-batuan menjadi perhiasan di sekeliling ruangan tersebut.
Seorang pria berjubah hitam sedang memandang ke arah langit yang dipenuhi awan-awan hitam. Petir dan guruh saling bersahut-sahutan. Jubah hitam yang dipakainya tampak melayang-layang ditiup angin yang berembus kencang.
Ye Jun Qing tersenyum, namun senyumannya tampak mengerikan. Jika manusia yang lemah melihatnya pasti akan merasa ketakutan. Tatapan mata yang penuh dengan dendam dan juga kebencian begitu jelas di matanya.
"Sebentar lagi, kau akan bisa bangkit kembali!" ucapnya wajahnya tampak senang dan bahagia.
***
"Shiyi, apa kau mendengar suara petir dan guruh semalam sangat mengerikan?" tanya Song Lianyu membuka obrolan setelah pelajaran sejarah berakhir.
"Tidak, maklum aku semalam tidur terlalu nyenyak sampai tak tahu keadaan di luar," jawabnya dengan tersenyum.
"Dasar, Shiyi," ucap Bai Quan mengetuk dahi Han Shiyi.
"Aduh, jangan diketuk juga. Jangan salahkan aku juga, aku ngantuk habis makan kekenyangan," jawabnya sambil mengusap dahinya pelan.
"Makanya kalau makan itu jangan terlalu kenyang. Kalau kebakaran atau ada orang jahat kau tidak akan tahu," nasihat Bai Quan.
Song Lianyu tersenyum saja melihat kejadian antara Bai Quan dan juga Han Shiyi. "Awas nanti kalian jodoh," ucapnya.
"Tak sudi aku dengan dia. Tukang marah-marah tiap hari," ucap Han Shiyi mencebikkan bibitnya, tampak lucu.
Sampai Song Lianyu tertawa.