Yuan Lan Zhi datang ke sekte Bunga Salju. Dia disambut oleh petugas yang menjaga di depan gerbang.
"Tuan Yuan," sapa petugas di sana dengan ramah. Dia tentu saja tahu siapa yang datang tersebut. Dia memberikan salam hormat untuk Tuan Yuan.
Tuan Yuan Lan Zhi mengangguk. Dia berjalan masuk ke dalam sekte Bunga Salju. Dia disambut oleh wakil kepala sekte Bunga Salju.
"Tuan Yuan, ada apa datang ke mari?" tanya Du Zhan Xhiao. Ekspresi wajahnya bingung dan juga heran. Karena kedatangan Tuan Yuan yang tergolong tiba-tiba.
"Di mana Tuan Lei?" tanya Tuan Yuan Lan Zhi.
"Kepala Sekte Lei saat ini sedang ada di Sekte Biru Langit. Di sana sedang ada acara lomba pertandingan," jawab Tuan Du Zhan Xhiao.
"Ada apa memangnya, Tuan Yuan? Ada apa hal yang buruk yang terjadi?" tanyanya heran.
"Ada hal yang harus aku bahas dengan Tuan Lei. Namun karena dia tak ada di sini, aku katakan saja sekarang." Tuan Yuan Lan Zhi mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Perisai sumur tua yang mengurung iblis kematian, kemaren rusak," ujar pria yang sudah memiliki empat orang anak itu dalam satu tarikan napas.
"Perisai itu rusak? Bagaimana mungkin? Bukankah harusnya baru akan rusak tiga tahun ke depan? Kenapa bisa rusak lebih awal?" tanya Du Zhan Xhiao dengan bertubi-tubi. Apa mungkin keluarga Yuan tak menjaganya dengan baik? tebaknya di dalam hati, namun tidak mengutarakannya secara langsung.
"Karena itulah aku ingin membahasnya dengan Tuan Lei," jawab Tuan Yuan.
"Lalu bagaimana dengan keadaan perisai pelindung itu sekarang?" tanya Tuan Du Zhan Xhiao. Jangan katakan jika perisai itu belum diperbaiki.
"Aku dan adikku sudah memperbaikinya. Aku tahu hal ini akan berpengaruh dengan kelangsungan kehidupan alam manusia. Keluarga Yuan kami menjaga sumur tua itu secara bergantian selama bertahun-tahun ini," sahut Tuan Yuan Lan Zhi menjelaskan. Dia tak ingin orang lain mengira ini adalah kesalahan dan ketidakmampuan keluarga Yuan untuk menjaga amanah tersebut.
"Baiklah, aku akan mengirim pesan pada Kepala Sekte supaya dia bisa kembali lebih awal," ucap wakil kepala sekte bunga salju.
"Tidak usah mengirim surat. Kita tunggu saja sampai acara pertandingan itu selesai. Aku rasa tidak apa-apa. Selama itu Tuan Du ikut aku menjaga sumur tua," ucap Tuan Yuan Lan Zhi. Mungkin saja kekuatan perisai pelindung itu memang harus diperbarui, pikirnya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu," jawab Tuan Du Zhan Xhiao dengan setuju.
***
Saat ini mereka Song Lianyu, Han Shiyi, Bai Quan, Yuwen Yue, dan Pangeran Yun Yi sedang makan bersama. Mereka sedang menyantap makan pagi di dalam ruangan khusus tamu. Tentu saja sebelum pertandingan peserta harus makan pagi terlebih dahulu, bagi yang mau makan, namun bagi yang tak terbiasa makan pagi bisa makan yang lain. Pelayanan yang diberikan oleh sekte Langit Biru sangat baik.
"Aku yakin sekali pasti Pangeran yang menang dari perwakilan sekte Biru Langit itu," ujar Han Shiyi dengan yakin.
"Dari Jian Qiang maksudmu, Shiyi?" ujar Song Lianyu ikut menyahut yang dijawab anggukan Shiyi.
Bai Quan tampak tak suka Han Shiyi yang sibuk memuji Pangeran Yun Yi. Dari sejak kemarin gadis itu sibuk membicarakan soal Yun Yi dan Yun Yi lagi. Apa tak ada hal lain yang bisa dikatakan selain itu?
"Kita lihat saja nanti. Jangan berkata begitu terlalu awal Shiyi. Jika ucapanmu didengar oleh murid-murid lain, jika kita kalah maka akan dipermalukan," sahut Bai Quan menatap Han Shiyi sekaligus menasehatinya. Dan juga mengatakan kecemburuannya secara tidak langsung.
Pangeran Yun Yi yang mengerti tatapan tidak suka Bai Quan pun mengerti. Dia tersenyum saja. "Iya, yang dikatakan Bai Quan benar," jawabnya setuju.
Yuwen Yue menyumpitkan potongan daging sapi ke dalam mangkuk Song Lianyu. "Terima kasih," ujar Song Lianyu.
Tak ingin kalah Pangeran Yun Yi pun menyumpitkan potongan sayuran ke dalam mangkuk Lianyu. "Lianyu, makanlah sayuran yang banyak biar sehat," ujarnya sembari tersenyum.
"Iya, terima kasih Yun Yi," jawab Song Lianyu.
Dasar tidak mau kalah, decak Yuwen Yue di dalam hati. Dia menatap tak suka Pangeran Yun Yi yang duduk di samping kanan Lianyu. Persetan dengan dia yang statusnya sebagai Pangeran Mahkota.
Dia mencari perhatian Lianyu-ku. Ah, menyebalkan sekali, rutuk Yuwen Yue dalam hati.
***
Sesuai dengan dugaan Pangeran Yun Yi yang menenangkan pertandingan antar sekte. Dia membuat kepala sekte merasa bangga. Sebenarnya ayah kaisarnya juga ingin menyaksikan pertandingan tersebut, tapi tidak bisa karena urusan negara yang sangat banyak yang harus segera dilaksanakan. Walau pun begitu ayah kaisar dan hampir semuanya merasa bangga dengan kemenangan Pangeran Yun Yi.
"Tak salah lagi! Pangeran Mahkota memang sangat cocok menjadi penerus Yang Mulia Kaisar," ujar salah seorang dengan bangga.
"Terima kasih atas dukungan semuanya, guru-guruku dan juga teman-temanku yang selalu mendukungku," ujar Pangeran Yun Yi dengan senyuman di wajah tampannya. Kulit badannya putih, wajah yang tampan seperti ayahnya, dan juga memiliki kemampuan yang tinggi. Benar-benar seorang pria idaman, itu pikir hampir semua gadis.
***
"Kan, sudah aku katakan pasti Pangeran Yun Yi yang menang," ujar Han Shiyi dengan heboh ketika selesai acara pertandingan.
"Ya, aku juga mengira begitu. Kemampuan Yun Yi memang sangat baik," jawab Song Lianyu dengan tersenyum.
"Bagaimana jika Ben Gong yang akan mentraktir kalian semua makan? Anggap saja sebagai perayaan atas kemenangan Ben Gong hari ini," tawar Pangeran Yun Yi.
Semuanya bersorak gembira. Semuanya mengangguk dengan senang. Kapan lagi bisa ditraktir makan oleh Putra Mahkota yang sangat special?
"Baiklah, karena semuanya telah setuju. Mari berangkat ke restoran!" balas Putra Mahkota, dia senang bisa bersama dengan teman-teman yang lain yang ramai.
Tidak lupa Pangeran Mahkota juga mengajak para guru Bunga Salju untuk acara makan bersama di restoran terdekat. Para guru pun mengangguk setuju.
Murid-murid duduk di meja masing-masing begitu juga dengan para guru. Pelayan tampak hilit mudik mencatat pesanan pelanggan yang sangat banyak. Pemilik restoran pun merasa senang, karena Pangeran Yun Yi memilih restorannya untuk makan. Ke depannya pasti restoran akan lebih ramai oleh pelanggan.
"Mari kita bersulang untuk Putra Mahkota, yang telah membuat nama sekte kita menjadi harum!" ucap Han Shiyi sambil mengangkat cangkir yang berisi arak.
"Maaf, aku tidak bisa minum arak. Bagaimana jika aku menggantinya dengan air teh?" tanya Song Lianyu pada teman-temannya. Dia memang tak kuat minum arak, dia mudah mabuk. Dan takutnya ketika mabuk melakukan hal-hal yang yang aneh.
"Baiklah, tidak apa-apa, Lianyu. Kau bisa menggantikannya dengan teh," jawab Putra Mahkota. Dia tahu tentang hal itu.
"Terima kasih Pangeran," ucap Song Lianyu dengan sopan. Walaupun mereka adalah teman, namun ketika di luar, gadis itu harus bersikap sopan dan memanggil dengan nama formal.
Mereka pun bersulang dan meminum cangkir masing-masing. Mereka tertawa senang dan saling bercanda. Memakan makanan yang dihidangkan sampai kenyang. Benar-benar keindahan dunia. Hampir semua mabuk karena arak, kecuali beberapa orang yang tidak minum arak termasuk Song Lianyu.
"Hari ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan," ucap Song Lianyu dengan senyuman di wajahnya. Dia melihat semua orang yang sudah mabuk dan kedua pipi memerah.
Mereka tidak tahu berapa lama mereka akan bisa tersenyum bahagia seperti hari ini, karena ke depannya masalah akan datang secara bergantian.
***
Pada suatu malam yang tidak ada manusia seorang pun yang berkeliaran. Tampak seorang pria yang berjubah sedang berjalan di tengah kegelapan. Tak ada lampu kuning yang dibawanya. Seolah-olah dia bisa berjalan dengan lancar tanpa terjatuh atau pun tersandung batu. Laki-laki berhenti di depan suatu kediaman yang sepi, hanya pengawal keluarga yang berdiri di depan ruangan dengan mata yang terpejam karena mengantuk.
"Siapa itu?" ucap salah seorang pengawal yang masih terjaga. Dia sempat mendengar suara langkah kaki seseorang.
"Kau melihat sesuatu di tengah malam begini?" tanya teman yang satunya, yang berjaga di sampingnya. Ayolah matanya sudah mengantuk dan teman kerjanya itu mengganggu tidurnya.
"Untuk apa berteriak jika tak ada yang aku lihat," ujarnya dengan sedikit sebal.
"Kau benar aku melihat sesuatu," jawabnya ketika dia juga melihat sosok bayangan yang melintas.
Bruk...
Bruk...
Semua pengawal jatuh tak sadarkan diri ketika sosok berjubah itu memukul mereka semua. Para pengawal jatuh di atas teras dengan tak beraturan.
"Kalian harus bersyukur aku saat ini tidak langsung menghabisi nyawa kalian," ucap sosok berjubah itu. Matanya seperti manusia pada umumnya.
Dia membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam di mana sumur tua itu berada. Dia berjalan mendekat dan perisai transparan menghalanginya langkahnya. Tidak ada yang special di dalam ruangan tersebut hanya ada sumur tua yang di sisi-sisinya ada empat rantai besi yang kuat.
"Kasihan Tuan Iblis, dia pasti sudah lama kesakitan," ucap Ye Jun Qing membayangkan keadaan Tuan Iblis yang dikurung. Iblis kematian sudah bertahun-tahun dikurung di dalam sumur tua dengan mantra kertas oleh semua kepala sekte saat itu.
"Sialan mereka melindunginya dengan perisai," ucapnya dengan wajah yang kesal dan marah.
Sosok berjubah yang memiliki nama Ye Jun Qing itu memusatkan pikirannya dan kemudian melemparkan kekuatan energi spiritual ke arah perisai tersebut. Kekuatan terpantul dan balik ke tubuhnya, Ye Jun Qing terjengkang ke belakang. Dia berusaha untuk bangkit lagi.
"Perisai kurang ajar ini benar-benar sangat menganggu," ujarnya kesal.
Akibat benturan kekuatan Ye Jun Qing dengan kekuatan perisai, terjadi getaran yang sampai ke ruangan pria yang sedang tidur itu, membuat dua orang pria dewasa itu terbangun dari tidur mereka. Posisi kamar mereka letaknya paling dekat dengan ruang sumur tua.
Ye Jun Qing mendengar langkah kaki yang terburu-buru.
"Ada mereka yang datang ke mari. Aku harus sembunyi dulu sebelum menemukan cara agar perisai bisa terbuka dengan sendirinya," ucapnya. Dia langsung pergi dari ruangan yang ada sumur tua dengan berubah menjadi asap hitam.
Kedua pria itu datang hampir secara bersamaan ke ruangan sumur tua. Hanfu lapisan terdalam berwarna putih menyelimuti tubuh kedua pria itu, mereka bahkan tak sempat memakai hanfu lapisan kedua dan lapisan pertama saking buru-burunya. Sepatu putih mirip boot menyelimuti kaki mereka.
Mereka langsung memeriksa keadaan perisai pelindung sumur tua tersebut dengan teliti memastikan perisai pelindung tidak terpengaruh.
"Siapa yang mencoba menghancurkan perisai?" batin Yuan Lan Zhi. Dia mengalihkan ke sekitar dan memeriksa lebih teliti.
"Tidak ada jejak apa pun, Ta Ge," lapor Yuan Cang.
"Itu tak mungkin, jika tak orang, tidak mungkin perisai ini sampai bergetar seolah habis bertabrakan dengan sesuatu," ucap Yuan Lan Zhi.
"Entahlah Ta Ge, aku tak tahu. Sudahlah Kak, mungkin itu hanya perasaan kakak saja. Kakak terlalu memikirkannya," sahut Yuan Cang, lalu menepuk bahu saudara tertuanya itu pelan.
"Baiklah," jawab Yuan Lan Zhi. Adik pertamanya benar, jika memang ada yang berniat merusaknya pasti perisainya sudah tidak utuh lagi. Lagipula siapa yang mau menghancurkannya? batinnya.