"Terima kasih, Yun Yi atas hadiahnya," ucap Song Lianyu berterima kasih. Dia tak pernah sebelumnya ada yang memberikan hadiah semewah ini padanya.
"Aku yang tak sengaja menemukannya di jalan saat pertama kali bertemu," jelas Yun Yi.
Kemudian mereka mengobrol selama beberapa jam kemudian. Song Lianyu orangnya mudah akrab dengan orang lain.
***
Semua murid sedang berkumpul di lapangan. Mereka berkumpul dalam rangka menyaksikan pertandingan antara Putra Mahkota Yun Yi dengan Lei Yuzheng. Lei Yuzheng adalah murid tingkat dua(yang memiliki kekuatan kultivasi yang hebat). Kedua pria itu sama-sama hebat dan kuat. Mereka sedang bertanding merebutkan kemenangan dalam rangka sebagai perwakilan dari sekte Bunga Salju untuk acara lomba antar sekte nanti.
Pangeran Yun Yi dan Lei Yuzheng saling berhadapan dengan jarak satu meter setengah.
Guru menyaksikan pertandingan tersebut. Para guru berbaris di panggung yang lebih tinggi dari murid-murid. Begitu juga kepala sekte Bunga Salju. Guru yang bertugas sebagai pembawa acara memberikan instruksi dan peraturan terlebih dahulu sebelum pertandingan dimulai.
"Selamat untuk kedua peserta yang telah masuk ke babak final dari banyak murid. Saya akan memberi tahu peraturan di pertandingan ini kedua peserta tidak boleh sampai membuat teman seperguruan sampai kehilangan nyawa. Dan juga telah tidak boleh memakai teknik yang terlarang. Sudah itu saja," jelas pria tersebut, kemudian kembali ke tempat duduknya semula.
Kedua peserta itu memberikan salam penghormatan terlebih dahulu sebelum bertanding.
Pangeran Yun Yi mengambil pedang yang tersampir di pinggangnya begitu juga dengan Lei Yuzheng.
Keduanya mulai bertarung. Trang trang trang, bunyi pedang saling beradu.
Lei Yuzheng hendak menegaskan pedangnya ke arah kaki Pangeran Yun Yi. Dengan cepat dia melompat sehingga pedang tersebut hanya bisa menyapu angin. Rambut panjangnya bergerak sesuai dengan langkah kakinya.
Pertandingan tersebut berlangsung dengan sangat seru sekaligus menegangkan.
"Kira-kira siapa yang akan menang?" tanya Han Shiyi masih terus fokus menatap pertandingan di hadapannya.
"Entahlah, aku tak tahu. Yun Yi dengan Lei Yuzheng sama-sama kuat dan hebat," jawab Song Lianyu yang juga fokus menatap jalannya pertandingan tersebut.
Hingga akhirnya Pangeran Yun Yi keluar sebagai pemenang. Murid-murid heboh berteriak menyebutkan nama Pangeran.
Lei Yuzheng walaupun terlihat kecewa, namun dia tetap memberikan ucapan selamat kepada Pangeran Yun Yi.
Song Lianyu memberikan ucapan selamat pada Yun Yi. Yun Yi menerimanya dengan senang hati.
***
Tak lama setelah pertandingan antara Pangeran Yun Yi dan Lei Yuzheng telah selesai, Long Feiye memutuskan untuk kembali ke kamar asramanya. Dia memutuskan untuk latihan kembali di alam gioknya.
"Kenapa? Merasa kecewa karena tidak ikut dalam pertandingan?" ujar Guru Fang An yang membaca raut wajah muridnya itu yang muram.
Long Feiye menatap sang guru yang juga menatapnya, lalu dia menggeleng. "Tidak, guru. Aku hanya ingin secepatnya bisa lebih kuat agar bisa menunjukkannya di depan teman-temanku," ujarnya dengan jujur. Dia ingin teman-temannya tidak merendahkan dia lagi.
Tingkat kultivasinya saat ini berada di tingkat warrior bagian enam. Semua itu berkat bakat, kemampuan, dan juga pil yang diberikan oleh sang guru. Dalam waktu satu bulan, kultivasinya bisa meningkat dengan pesat. Dari tingkat warrior satu bagian satu sampai ke tingkat warrior enam. Jika orang lain membutuhkan paling tidak waktu satu bulan atau bahkan lebih untuk naik ke tahap selanjutnya.
Namun Long Feiye merasa kurang karena tingkat kultivasinya masih rendah di bawah orang lain. Apalagi dirinya yang terlambat bisa berkultivasi.
Guru Fang An tersenyum saja. "Sabar, semuanya membutuhkan proses tidak seperti memasak makanan yang hanya butuh satu hari untuk membuat masakan," nasihat gurunya.
"Murid mengerti guru," jawab Long Feiye mengangguk.
Setelah itu Long Feiye memutuskan untuk berlatih meningkatkan energi kultivasi dan juga berlatih mengasah ilmu pedangnya.
***
Hari yang ditunggu telah tiba. Semua murid perwakilan dari berbagai sekte telah berkumpul. Para guru dan kepala sekte duduk di kursi yang telah disediakan bersama para guru dan kepala sekte yang lain. Mereka duduk berdekatan. Dan untuk para murid duduk di tempat yang juga telah disediakan secara khusus. Yang ikut di acara perlombaan ini semuanya bisa ikut, baik sekte besar, maupun sekte kecil.
Song Lianyu melihat ke sekitar, setiap murid-murid sekte memiliki seragam yang khas dan mereka semua juga membawa token mereka.
"Woah, banyak juga ya murid-murid sekte yang lain," ucap Song Lianyu.
"Iya, tentu saja. Yang muridnya paling sedikit itu adalah sekte kupu-kupu," balas Han Shiyi yang duduk tepat di samping Song Lianyu.
"Oh, sekte kupu-kupu. Namanya unik, ya," sahut Song Lianyu.
"Dan yang di sana itu, seragam merah dan putih itu, dari sekte Merah-Putih," ujar Han Shiyi sambil menunjuk murid-murid yang ada di seberang mereka.
Berselang beberapa saat kemudian pemimpin acara datang dan berjalan ke atas panggung.
"Selamat pagi semuanya! Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua sekte. Baiklah, tak usah lama-lama kita langsung saja panggil perwakilan peserta pertama yang berasal dari sekte Pelangi dan perwakilan peserta yang berasal dari Gunung Chu."
Kedua perwakilan yang berasal dari kedua sekte berjalan naik ke atas panggung. Keduanya laki-laki dengan memakai seragam yang khas.