Song Lianyu mengangguk. "Tentu saja masih ingat."
"Aku masih ingat pertama kali kota bertemu. Aku melihat Lianyu menari sambil nyanyi di pinggir jalan," ucap Yun Yi. Mengenang peristiwa itu.
"Itu..." ujarnya lalu tersenyum malu. Jujur Song Lianyu merasa malu karena tak sadar jika dia saat itu menari di pinggir jalan.
"Yun Yi, tolong jangan bahas itu lagi, ya? Kejadian itu sangat memalukan," ucapnya lagi.
Yun Yi berhenti tertawa. "Baiklah, baiklah, aku tak membahasnya lagi," ujarnya.
Song Lianyu pun hendak turun dari ranjang. "Aku sudah sembuh," ujarnya.
"Baguslah. Bisa ikut aku sebentar?" tanya Pangeran Yun Yi.
"Boleh, Yun Yi kita mau kemana?" tanya Song Lianyu karena Yun Yi tidak memberi tahu.
"Sudah sampai. Lianyu, ambillah ini," ucap Yun Yi sembari menyodorkan kotak kayu.
"Ini apa?" tanya Song Lianyu menatap wajah tampan yang berdiri di hadapannya.
"Bukanlah Lianyu," jawab Yun Yi.
"Baiklah," ucap Song Lianyu menurut. Dia membuka kotak kayu tersebut. Dia terkejut saat melihat isi dalamnya.
"Ini 'kan token identitas murid milikku," ucap Song Lianyu dengan girang.
"Aku pikir sudah hilang. Ternyata Yun Yi yang menyimpannya," sambungnya.
"Eh, di dalamnya juga ada tusuk rambut?" Song Lianyu mengambil sebuah tusuk emas yang tampak mewah dan elegan. Dengan bentuk tiga bunga yang indah.
"Bagaimana suka tidak?" tanya Pangeran Yun Yi.
"Ini tusuk rambut buat aku? Apa tidak salah?" tanya Song Lianyu. Mungkin saja Pangeran salah letak barang miliknya.
"Tentu tidak, Lianyu. Hadiah ini memang untukmu. Aku bantu pasangkan ya," ujar Yun Yi.
Pangeran Yun Yi memasangkan tusuk rambut ke rambut Lianyu. Jantung Lianyu merasa berdebar saat dekat dengan Yun Yi.
"Kau terlihat cantik memakainya," puji Yun Yi.