Song Lianyu merasakan energi kultivasinya meningkat. Dia menutup kedua matanya. Dan masuk ke dalam arx miliknya. Arx adalah bangunan kekuatan kultivasi. Dia berjalan masuk ke dalam dan melihat ke dalam bangunannya.
"Cahayanya bersinar sampai ke tingkat general bagian satu!" ujar Song Lianyu dengan gembira.
"Akhirnya, aku bisa naik ke tahap general juga!"
Song Lianyu kembali lagi ke alam sadar, di tempat yang sama.
"Bagaimana apa tingkat kultivasi bertambah?" tanya Han Shiyi dengan penasaran.
"Ya, tingkat kultivasiku meningkat menjadi general tahap satu," ucap Lianyu.
"Selamat, Lianyu," jawab Shiyi.
"Terima kasih. Aku tadi menyerap inti mutiara yang kultivasinya lima puluh tahun sepertinya milik rubah abu-abu."
"Aku juga mau coba." Han Shiyi mengambil inti mutiara yang lain dan mempraktekkannya juga. Kekuatannya juga meningkat satu bagian.
***
Keesokan harinya kelas berjalan seperti biasanya. Kali ini guru mengajarkan ilmu cara meringankan tubuh. Guru membawa semua murid di lapangan belakang yang luas. Di hadapan mereka ada aliran sungai yang mengalir dengan deras. Suara riak air pun ikut menjadi melody yang indah.
"Pelajaran kalian beberapa hari yang lalu dengan Yunxi, terbang menggunakan pedang. Kali ini kita terbang melayang tanpa menggunakan pedang."
"Apakah bisa guru?" tanya seorang murid perempuan dengan ragu.
"Jika kalian berusaha dengan sungguh-sungguh pasti bisa," jawab guru dengan bijaksana.
"Semuanya! Perhatikan guru dengan baik!" Guru berdiri di depan semua anak didiknya. Pria dewasa itu memfokuskan pikirannya. Dan tubuhnya mulai melayang di udara, guru melayang tanpa pedang.
Guru terbang melayang menginjak aliran sungai yang deras tanpa tercebur ke dalam sungai, seolah-olah tubuh guru sangat ringan seperti selembar kapas. Dia lalu kembali lagi ke tempat semula tanpa ada kesalahan. Dia terbang seperti seekor burung tanpa sayap. Murid-murid bertepuk tangan kagum.
"Hebat sekali!"
"Guru memang luar biasa!"
"Seolah-olah yang diinjak bukanlah sungai, tapi daratan!"
"Guru berlari di atas sungai tanpa tercebur!"
"Shiyi, teknik itu sangat luar biasa! Ini sangat berguna ketika tak ada pedang," ujar Song Lianyu pada Han Shiyi yang berdiri di sampingnya.
"Iya, betul sekali! Semoga saja kita bisa melakukannya," balas Han Shiyi.
"Ilmu meringankan tubuh ini terkenal dengan nama Qing Gong atau Gin Kang. Kalian bisa memiliki kemampuan ini jika rajin berlatih. Qing Gong ini terhubung dengan kultivasi kalian. "
"Bagaimana apa sudah mengerti?" Guru menatap satu per satu murid-muridnya.
Semua murid menjawab dengan kompak. "Baik, guru!"
"Kalian cobalah satu per satu!" ujar guru mempersilakan murid-muridnya untuk mencoba.
"Baik, guru!" Dimulai dari yang paling depan bagian paling kanan maju ke depan.
"Lianyu?" ucap Pangeran Yun Yi saat melihat Song Lianyu yang sedang berbicara dengan temannya. Dia berkata pelan. Pangeran berbaris di barisan ketiga.
Sebagian murid berhasil melakukannya. Dan sebagiannya lagi tercebur ke dalam sungai. Long Feiye tak mencobanya karena guru tahu jika dia tak bisa berkultivasi. Kini giliran Song Lianyu, Shiyi sebagai teman memberikan semangat.
Song Lianyu mencoba memusatkan pikiran, dia mulai berlari di atas sungai. Awalnya dia bisa melakukan dengan lancar, namun salah seorang murid yang tidak suka dengan Lianyu melemparkan batu ke arah kakinya hingga fokus Lianyu terpecah. Dan akhirnya gadis itu tercebur ke dalam sungai. Lianyu yang tak bisa berenang, tenggelam timbul di sungai, tangannya menggapai-gapai udara.
"Cepat tolong dia!"
"Dia bisa tenggelam!"
"Ini pasti ulahmu 'kan!" ujar Han Shiyi dengan nada marah pada Hua Qian Gu.
"Aku tidak melakukannya! Jangan sembarangan menuduh!" balas Hua Qian Gu tak terima.
Tanpa menunggu waktu yang lama, Pangeran Yun Yi melompat ke dalam sungai tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah. Long Feiye juga ingin membantu tapi sudah keduluan Yun Yi, Feiye mengurungkan niatnya itu.
Putra Mahkota segera membantu mengangkat dan menggendong Song Lianyu di dalam pelukannya. Dia meletakkan Lianyu di pinggir sungai. Kekhawatirannya pada Lianyu sudah tak bisa di gambarkan lagi. Terlihat jelas bahwa dia cemas.
"Lianyu? Sadarlah?'' Putra Mahkota terlihat sangat khawatir dengan Song Lianyu yang belum juga sadar. Dia menyentuh wajah Lianyu yang dingin. Pria itu tak peduli dengan pakaiannya yang basah. Dia hanya memikirkan Song Lianyu. Membayangkan bahwa gadis yang dicintainya itu mati tepat di hadapannya. Jika itu terjadi, sungguh dia akan hilang akal.
Dalam hati para gadis mengatakan betapa beruntungnya dia pangeran mahkota sampai rela menyebur ke dalam sungai untuk menyelamatkan Song Lianyu.
"Pangeran, anda lebih baik mengganti pakaian dulu," ujar Yuwen Huai namun diabaikan Yun Yi.
"Lianyu? Ayo bangun," ujar putra mahkota berulang kali.
Yun Yi menyalurkan energi spiritualnya pada Song Lianyu. Tak lama kemudian gadis itu sadar, dia memuntahkan banyak air sungai yang tak sengaja masuk.
"Syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Lianyu," ujar Yun Yi sambil memeluk gadis itu.
"Tuan Muda baik?" ujar Lianyu yang masih lemah. Dia melepaskan pelukan Yun Yi. Matanya terasa sakit akibat terkena air dan hidungnya juga terasa sakit karena air masuk.
Yun Yi memakaikan jubah miliknya yang dibawakan oleh Yuwen Huai pada Song Lianyu. Membuat murid-murid perempuan merasa pangeran mahkota sangat perhatian pada Lianyu.
"Aku akan bawa kau ke tempat perawatan." Yun Yi tiba-tiba menggendong Lianyu. Gadis itu dengan terpaksa mengalungkan tangannya ke leher pangeran mahkota.
"Tak usah biar aku jalan sendiri saja," tolak Lianyu, karena merasa malu dilihat oleh teman-teman seperguruan namun Yun Yi mengabaikannya.
"Tuan Muda, apa tak melihat yang lain melihat kita," ujar Song Lianyu menyadarkan Yun Yi.
Dikarenakan ada sedikit masalah guru pun berkata jika kelas akan dilanjutkan minggu depan.
Di ruang perawatan Yun Yi meletakkan Lianyu di atas ranjang kasur.
"Tolong periksa dia," pinta Yun Yi.
"Baik, Pangeran," jawab wanita itu.
"Bagaimana?" tanya Pangeran Mahkota setelah tabib memeriksa keadaan Song Lianyu.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Pangeran. Untung Pangeran cekatan membawa Nona Song ke daratan," ujar tabib.
"Aku akan membuatkan sup jahe panas agar badan Nona Song merasa hangat," sambungnya lagi.
"Baiklah, tabib," jawab Yun Yi.
Han Shiyi, Bai Quan, Yuwen Yue, dan Long Feiye berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Lianyu, kau tak apa-apa 'kan?" tanya Han Shiyi. Wajahnya khawatir.
Lianyu mencoba untuk tersenyum. "Aku tak apa-apa."
"Pangeran, terima kasih karena telah menolong temanku," ujar Han Shiyi membungkuk hormat pada Yun Yi.
"Tak perlu sungkan, sudah sewajarnya aku membantu Lianyu," jawab Yun Yi.
"Pangeran?" ulang Song Lianyu yang baru tahu jika Yun Yi adalah seorang pangeran.
"Iya, Lianyu. Dia adalah Yun Yi, Putra Mahkota. Yang aku katakan padamu kemarin itu," jelas Han Shiyi.
"Maaf jika aku bersikap tak sopan, Pangeran," ujar Song Lianyu meminta maaf.
"Tak perlu, kalian cukup panggil aku dengan panggilan Yun Yi saja," jawab Pangeran Mahkota.
"Tapi bukanlah itu melanggar aturan?" tanya Han Shiyi.
"Tak apa-apa. Jika hanya kita saja. Supaya lebih akrab," ujar Yun Yi menjelaskan. Dengan panggilan pangeran, membuat dia merasa ada jarak di antara mereka.
"Baiklah, Yun Yi," jawab Song Lianyu dan Han Shiyi hampir serempak.
"Pangeran, pakaian gantimu." Yuwen Huai berjalan masuk dan menyerahkan hanfu yang kering pada majikannya.
Pangeran Mahkota mengambil pakaian dan mengganti pakaian yang basah dengan pakaian yang kering di ruang ganti pakaian.