"Lalu kenapa kalau banyak?" Pangeran Yun Yi malah balik bertanya pada bawahannya itu.
Yuwen Huai menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tidak apa-apa, Pangeran," jawabnya.
"Oh, ya, Pangeran, hadiah yang pangeran minta padaku untuk dicarikan sudah ketemu," sambungnya mencari topik yang lain.
"Ini Pangeran," ujar Yuwen Huai sembari menyodorkan kotak berukuran kecil pada sang pangeran.
"Baiklah, bagus," jawab Pangeran. Dia membuka kotak tersebut, di dalamnya ada barang yang dia pinta sebelumnya.
***
Sementara itu di dalam kamar asrama yang lain terlihat Long Feiye sedang berada di alam jiwa. Bai Quan seperti biasa sedang berlatih memainkan tombak di halaman belakang dengan para gadis yang diam-diam mengamatinya tanpa lelah.
"Bagus, kau sudah menguasai teknik yang paling dasar dalam menggunakan pedang," ujar guru Fang An pada anak didiknya tersebut. Dia terlihat cukup senang dengan kemajuan Long Feiye dalam satu minggu terakhir ini.
"Sekarang aku akan mengajarimu teknik pedang yang lain. Dengarkan dan perhatikan guru dengan baik," perintah Guru Fang An. Fang An tak menyesal mengambil Long Feiye sebagai muridnya, yang pertama anak itu menurut dan patuh, kedua kemampuannya dalam belajar juga baik.
"Baik, guru," jawab Long Feiye mengangguk.
Guru Fang An mengambil pedang miliknya yang tersimpan di dalam sarung. Mereka saat ini berada di padang yang luas di dunia jiwa milik guru Fang An. Semilir angin merembus membawa kedamaian di hati. Beberapa bunga terlihat sedang mekar di sekitar mereka. Harum baunya juga menentramkan jiwa.
Pria dewasa itu dengan lihai memainkan pedang dengan gerakan yang lembut dan lancar. Gerakan pedangnya indah dan menarik. Dia memainkan pedang menggunakan satu tangan. Rambutnya yang sebagian memutih bergerak mengikuti langkah kakinya.
"Cobalah Feiye!" ucap Fang An yang telah selesai memberikan contoh. Dia kembali menyimpan pedangnya ke dalam sarung, pedang disangkutkan ke pinggangnya.
Feiye melakukan apa yang dipraktikkan oleh gurunya itu. Anak laki-laki keluarga Long mengambil pedang yang tersarung, lalu mulai melakukannya.
"Yang bagian ini harusnya ke kanan, bukan ke kiri, Feiye," komentar Fang An memperbaiki gerakan anak didiknya itu yang salah gerak.
Long Feiye memperbaiki gerakan yang salah dengan gerakan yang benar.
Selama seminggu ini Feiye jarang kumpul dengan teman-temannya, dia sibuk berlatih meningkatkan kekuatan energi spiritual dan juga berlatih pedang bersama gurunya. Teman-temannya belum tahu jika Feiye sudah bisa berkultivasi. Feiye akan memberi tahu kepada teman-temannya, jika tingkat kultivasinya sudah lumayan tinggi atau setara dengan teman sebayanya.
Selesai latihan guru Fang An memberikan dua butir pil pada muridnya. Pil itu adalah pil yang sangat berharga. Warnanya ungu dengan dua garis putih di badan pilnya.
Long Feiye duduk di atas ranjang setelah memakan dua pil secara sekaligus. Tiba-tiba rasa sakit melandanya, pil ungu mulai bereaksi di dalam tubuhnya. Keringat membanjiri tubuhnya.
"Sakit sekali." Long Feiye menahan rasa sakit, rasanya tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum yang menyakitkan. Rasa sakit itu berasal dari dalam tulang-tulangnya. Dia meringis kesakitan. Rasanya tulang-tulangnya di dalam tubuh ingin meledak.
"Tahan ini tak akan berlangsung lama," ujar guru Fang An.
Setelah lima belas lamanya, akhirnya rasa sakit itu berhenti. Keringat membanjiri tubuhnya.
"Dalam berlatih ilmu bela diri, tidak hanya kekuatan tingkat kultivasi yang ditingkatkan, namun tingkat kualitas tulang juga. Jika kualitas tulang rendah, sedangkan tingkat kultivasinya tinggi ada kemungkinan tulang tidak kuat untuk menahan kekuatan kultivasi. Dan hal itu juga dilakukan jika kekuatan kultivasi menipis, bisa digantikan dengan kekuatan fisik," jelas guru Fang An panjang lebar.
"Murid mengerti guru," jawab Long Feiye mengangguk.
Laki-laki berumur enam belas tahun itu merasakan ada yang berbeda pada tulangnya setelah memakan pil ungu. Dia menatap guru Fang An yang kini sedang tersenyum.
"Pil yang aku berikan itu adalah pil peningkatan kualitas tulang. Dia meningkatkan kualitas tulangmu sebanyak dua tingkat," jelas Fang An.
Long Feiye mencoba mengayunkan pedang ke kiri dan ke kanan menggunakan teknik gerakan pedang yang baru saja diajarkan oleh guru Fang An. Dia menegaskan pedangnya pada pohon berukuran kecil terdekat. Hanya beberapa kali tebasan pohon kecil hijau jatuh roboh. Dia merasakan kekuatan fisiknya bertambah. Dia mencoba memukul tanah ladang dan tanah terjadi sedikit getaran. Sebelum terjadi peningkatan Feiye memukul tanah ladang, tanah tidak bergetar.
Awalnya Long Feiye hanya memiliki kualitas tulang rubah umum yang biasa dan tidak berbakat. Berkat pil ungu dua garis, kualitas tulangnya meningkat menjadi tulang rubah bumi.
Kualitas tulang terdiri dari yang paling lemah yaitu tulang rubah, tulang serigala, tulang qilin, tulang phoenix, dan tulang naga.
Tulang Rubah terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu : tulang rubah umum, tulang rubah elite, dan tulang rubah bumi.
Tulang Serigala terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu : tulang Serigala biru, tulang Serigala hitam, dan tulang Serigala angin.
Tulang Qilin terbagi menjadi empat tingkatan yaitu : tulang Qilin bumi, tulang Qilin alam, tulang Qilin angin, dan tulang Qilin api.
Tulang Phoenix terbagi menjadi empat tingkatan yaitu : tulang Phoenix bumi, tulang Phoenix alam, tulang Phoenix angin, dan dan tulang Phoenix api.
Tulang Naga terdiri dari lima tingkatan yaitu : tulang Naga muda, tulang Naga besar, tulang Naga puncak, tulang Naga agung, dan tulang Naga dewa.