Sore harinya, Pangeran Mahkota Yun Yi tiba di sekte Bunga Salju. Kepala sekte dan guru-guru yang lain menyambut kedatangannya. Murid-murid juga merasa penasaran sampai-sampai guru-guru mereka rela menyambut secara khusus.
"Pangeran, sangat tampan," puji seorang gadis dengan tatapan kagum.
"Iya, benar, dia lebih tampan dari yang dikatakan orang-orang," sahut yang lainnya.
Mereka semua berbaris rapi menyambut kedatangan Pangeran Mahkota.
"Selamat datang, Pangeran!" ucap para guru, kepala sekte dan juga para murid seraya membungkuk hormat.
Seorang laki-laki muda berhenti di hadapan semuanya, lalu dengan gerakan khas keluarga kerajaan. "Semuanya berdirilah!" ujarnya.
"Terima kasih, Pangeran!" jawab semuanya kompak.
Setelah penyambutan yang cukup meriah dan Yun Yi bicara dengan perwakilan guru, dia dibawa ke ruang asrama laki-laki yang telah disiapkan sebelumnya. Para murid diminta untuk kembali pada kegiatannya masing-masing dan diminta jangan mengganggu pangeran mahkota. Namun ada saja yang tidak patuh, beberapa orang gadis dari kelas bangsawan mengajak berkenalan dengan Pangeran Yun Yi. Putra Mahkota pun menjawabnya dengan seadanya.
Yuwen Huai--bawahan putra mahkota--merapikan barang-barang yang majikannya bawa.
"Pangeran, kamar yang disiapkan kepala sekte hampir mirip dengan kamar pangeran yang ada di istana. Walau ukurannya lebih kecil, tapi nyaman untuk ditinggali," komentar Yuwen Huai mengamati ke sekelilingnya dengan cermat dan teliti.
"Pelayanan kepala sekte cukup baik menyambut kedatanganku," jawab Pangeran Mahkota, dia sambil meminum air teh yang dituangkan pelayannya.
Berselang beberapa saat kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu. Yuwen Huai berjalan membuka pintu kamar asrama. Kamar asrama Pangeran Mahkota terletak sedikit jauh dari kamar asrama yang lain dan juga kamarnya termasuk kamar yang khusus karena terpisah dari kamar yang lain. Tentu saja kamar Pangeran harus beda dari kamar murid-murid yang lain.
"Tuan, ini adalah seragam sekolah Pangeran," ucap seorang wanita sembari menyodorkan empat setel seragam sekolah kepada Yuwen Huai.
"Baiklah," jawab Yuwen Huai.
"Tuan, di gulungan surat ini ada mata pelajaran dan juga seragam yang harus dipakai setiap harinya," jawab wanita yang bagian pengurusan seragam.
"Dan ini adalah buku-buku pelajarannya," ucapnya sambil mengangkat tas kayu menunjukkannya.
"Nona, kau taruh saja di sana, aku akan mengangkatnya," ujar Yuwen Huai.
"Baiklah, kalau begitu hamba pamit dulu."
"Pangeran, banyak sekali seragamnya," komentar Yuwen Huai.