Jika ingin lebih kuat, jangan takut dengan bahaya
- Song Lianyu-
***
Song Lianyu mengalirkan kekuatan energi spiritualnya ke dalam pedang. Trash, pedang menjadi lebih kuat dan bercahaya merah muda dengan kelopak merah muda sebagai ciri khas. Lianyu melompat ke atas punggung rubah tersebut dan menusukkan pedang ke dalam tubuh rubah. Cairan merah yang menjijikkan mengotori pedang. Bersamaan dengan rubah yang menolong kesakitan. Song Lianyu segera melompat dari punggung rubah. Rubah berbulu abu-abu itu jatuh tersungkur di atas tanah dan akhirnya mati karena kehabisan darah.
Kini tersisa seekor rubah yang terakhir. Rubah tersebut sudah luka di beberapa bagian tubuhnya, tapi hewan itu masih tak menyerah untuk melawan.
"Kita serang dia secara bersamaan," ujar Song Lianyu pada Han Shiyi yang dalam posisi siaga.
Kekuatan energi spiritualnya keduanya melukai tubuh rubah abu-abu. Membuat hewan berkaki empat itu terpelanting menabrak pohon yang ada di belakang, sampai pohon tersebut jatuh roboh. Burung-burung yang sebelumnya hinggap di pohon itu seketika terbang menjauh karena kaget.
Rubah abu-abu terakhir bangkit dari posisi terjatuh, dia berlari menerjang Han Shiyi. Dua cakarnya dia angkat ingin mencakar wajah Shiyi. Winter lagi-lagi menggigit kaki kanan rubah tersebut, merasa tak nyaman rubah menggoyangkan kakinya ke kanan kiri membuat Winter terlempar.
"Winter!" jerit Song Lianyu pada kucing kecil yang jatuh di atas tanah. Kepala Winter berdarah terkena batu besar.
"Berani sekali kau rubah! Menyakiti kucing kesayanganku!" ucap Song Lianyu dengan marah.
Emosi Song Lianyu memuncak tanpa dia sadari tingkat kultivasinya meningkat menjadi warrior tahap sepuluh. Gadis itu berlari menerjang rubah, dia menusukkan pedang ke dalam area perut rubah sampai darah banyak mengalir.
Han Shiyi juga ikut membantu, dia menusukkan pedang ke kepala rubah.
Serangan yang bertubi-tubi dan dalam keadaan marah membuat rubah abu-abu tak punya kesempatan untuk mengelak. Hingga akhirnya rubah itu jatuh tergeletak di atas tanah bersama dua temannya yang lain.
Song Lianyu dan Han Shiyi segera menghampiri Winter yang jatuh tergeletak dalam posisi berdarah. Kepalanya terluka, kaki dan tubuhnya juga terluka. Bulu putih bersihnya dinodai oleh darah merah.
"Winter? Kau berdarah, " panggil Song Lianyu pada kucing putihnya, dia membawa Winter ke dalam pelukannya.
Winter yang setengah sadar, jujur kepalanya terasa pusing karena terbentur benda keras. Namun dia masih bisa mendengar suara majikannya yang memanggilnya dengan nada cemas. Winter berusaha untuk membuka matanya yang terasa berat, dia menatap sebentar Song Lianyu. Pandangan matanya tak terlalu jelas karena darah yang mengalir, kemudian Winter jatuh tak sadarkan diri lagi.
"Aku akan bawa kau ke tabib," ujar Song Lianyu. Dia cemas sekali. Bayangkan melihat kucing kesayangannya yang terluka parah.
"Shiyi, kau tahu di mana letak tempat berobat?" tanya Song Lianyu. Dia tak sadar jika tubuhnya juga terluka akibat pertarungan dengan para rubah.
"Aku tahu jalan kecil yang lebih dekat menuju ke sana," ujar Han Shiyi. Han Shiyi juga terluka, tapi dia lebih cemas dengan kucing kecil.
Tibalah mmerek tepat di depan empat pengobatan. Han Shiyi mendorong pintu yang tak dikunci. Kebetulan tempat pengobatan sedang sepi. Dengan cemas Song Lianyu memanggil tabib. Seorang tabib datang dengan tergopoh-gopoh dari dalam ruangan yang ada di belakang. "Tunggu sebentar! Aku segera datang!" jawab tabib.
"Tabib, tolong sembuhkan Winter. Dia tak sengaja dilukai rubah," jelas Song Lianyu.
"Baiklah, bawa dia ke dalam," ucap tabib.
Tabib membawa kedua gadis itu ke dalam. Han Shiyi dan Song Lianyu membawa Winter ke dalam ruang perawatan, lalu dengan hati-hati, dia meletakkan Winter ke ranjang kecil berseprai kuning cerah.
Tabib segera membersihkan luka Winter dengan kain basah. Pria itu memeriksa keadaan Winter, kemudian dengan cepat ke ruangan tempat menyimpan bahan-bahan obat-obatan mengambil obat sesuai takaran obat. Tabib laki-laki itu menumbuk dan menggiling obat, setelah selesai dia membalurnya ke tubuh Winter yang luka dan juga memperbannya.
"Tabib, bagaimana keadaan Winter?" tanya Song Lianyu begitu tabib selesai mengobati kucing kecil.
"Winter, dia sekarang sedang istirahat. Nona kau juga terluka," ujar tabib yang baru menyadari jika Nona yang membawa kucing juga terluka. Pakaian yang dipakai Song Lianyu terkena noda darah, debu, pasir, dan tanah.
Nona ini benar-benar menyayangi kucingnya. Bahkan dia sampai lupa jika dirinya sendiri sedang terluka, batin tabib. Hatinya merasa tersentuh.
Ternyata masih ada gadis yang mencintai kucing seperti menyayangi saudaranya sendiri, pikir tabib.
Tabib membersihkan luka Nona Song dengan teliti, memeriksa keadaannya. Pria itu mengambil bahan-bahan obat di dalam lemari yang ada banyak laci-lacinya, lalu menggiling dan menumbuknya. Tabib membalur luka Lianyu. Gadis itu meringis kesakitan saat tabib membalur lukanya. Terakhir tabib membalut lukanya dengan perban.
Berlanjut tabib membalur luka Han Shiyi dan membalutnya dengan perban. Luka yang diderita Han Shiyi lebih ringan dari yang diderita Song Lianyu.
"Lianyu, tenang saja, Winter pasti akan sembuh," ujar Han Shiyi saat Lianyu menatap Winter dengan sedih.
"Semoga saja, kasihan sekali Winter. Dengan tubuh kecilnya dia dihempaskan rubah itu," ucap Song Lianyu merasa kasihan.
Aku seharusnya tak membawa Winter ke hutan, jika saja aku tak membawanya kucing kesayangannya pasti tak akan terluka, batin Song Lianyu. Tes, air mata mengalir di sudut matanya.
"Jangan menangis, Lianyu! Winter pasti akan baik-baik saja!" ucap Han Shiyi, tangannya bergerak menghapus air mata Song Lianyu.
Lianyu, maafkan aku yang membuatmu khawatir, batin Winter.
Kucing kecil sudah sadar, tapi tubuhnya masih sakit dan matanya terasa berat. Kepalanya masih terasa pusing.
"Kedua Nona, lebih baik kalian berdua ganti pakaian kalian terlebih dahulu. Tak enak kalian dilihat orang dengan pakaian seperti ini," ucap seorang wanita dengan perhatian. Dia juga punya anak gadis yang seumuran dengan Song Lianyu dan juga Han Shiyi.
"Aku istri dari tabib. Aku sudah mempersiapkan pakaian untuk kalian berdua di sana," sambung wanita itu.
"Baiklah," ucap Song Lianyu jika pakaian yang dia kenalan sudah sobek di beberapa pakaian dan juga sangat kotor.
"Shiyi, tolong jaga Winter sebentar," ucapnya menatap Han Shiyi yang duduk.
"Tenang saja," jawab Han Shiyi.
Song Lianyu mengganti pakaiannya dengan hati-hati. Setelah itu Han Shiyi juga berganti pakaian.
"Nona-nona kalian habis darimana sampai terluka seperti ini?" tanya istri tabib ikut duduk bersama dengan mereka berdua.
"Kami ke hutan, Bibi," ucap Song Lianyu.
"Untuk berburu monster?" tebak wanita itu tepat sasaran.
Keduanya mengangguk secara bersamaan. "Ya, itu benar," jawab Han Shiyi.