Tibalah mereka berdua di dalam hutan yang tak jauh dari sekte Bunga Salju. Terlihat ada beberapa murid yang lain yang ada di sana. Beberapa ada yang terlihat sedang memetik tanaman obat.
"Ayo, kita ke arah yang lain, Shiyi," ajak Song Lianyu.
Dua gadis itu berjalan ke arah yang lain. Di depan mereka ada seekor monster kelinci, warna matanya merah semerah darah dan bulunya berwarna putih seputih salju.
"Itu monster tingkat rendah, ayo kita serang bersama," ujar Song Lianyu. Dia langsung mengeluarkan energi spiritualnya ke arah kelinci mata merah itu, namun kelinci itu melompat menghindari serangan Song Lianyu.
"Ah, dia pergi!" ujar Song Lianyu. Dia berlari mengejar kelinci berkaki empat. Han Shiyi juga ikut berlari mengejar kelinci itu.
Kemudian kelinci itu stop melompat, dia menatap dua orang gadis yang berdiri dengan jarak satu meter.
Song Lianyu memfokuskan pikirannya dan energi spiritualnya membentuk sebuah kubah berwarna merah muda dengan kelopak bunga persik ikut menghiasinya.
Kelinci mata merah terlihat mengais-ngais dinding kubah. Dia seperti ingin keluar dari sana. Hewan itu mencari-cari celah untuk keluar, namun tak menemukannya.
Song Lianyu menyalurkan energi spiritualnya ke dalam kubah untuk membunuh monster kelinci itu. Monster kelinci mata merah merupakan salah satu monster dengan tingkat rendah. Hewan yang ada di depan mereka ini kelinci muda yang baru berumur sepuluh tahun.
"Maafkan aku kelinci! Tapi ini terpaksa harus aku lakukan," ujar Song Lianyu dia sebenarnya merasa bersalah membunuh monster kelinci yang tak bersalah, namun dia harus melakukannya.
Dalam waktu sekejap monster kelinci sudah mati. Dan kekuatan energi spiritual kelinci itu itu berubah menjadi berbentuk bulat warna merah yang berada di tangan Song Lianyu.
"Kita berhasil mengalahkan kelinci merah!" ujar Han Shiyi dengan senang.
Ini pengalaman pertamanya menemani Song Lianyu memburu monster hewan.
Winter mengeong, dia juga ikut senang tuannya mendapatkan mutiara spiritual.
Memang monster hewan harus dimusnahkan, batin Winter.
"Kita cari hewan yang lain juga supaya kita bisa meningkatkan tingkat energi spiritual kita lebih cepat," ajak Song Lianyu. Dia menyimpan mutiara merah ke dalam tas yang lain.
Kali ini di hadapan mereka ada tiga ekor rubah yang tampaknya berusia lima puluh tahun. Tiga ekor rubah berbulu abu-abu itu menatap dua anak gadis itu dengan sangar dan ganas. Tiga ekor rubah itu mengejar mereka berdua.
"Kita malah dikejar oleh mereka!" ujar Han Shiyi di sela-sela berlari mereka.
"Aku tak tahu kalau mereka akan mengejar kita," jawab Song Lianyu menoleh sekilas ke arah belakang.
Tiba-tiba Song Lianyu menghentikan lari. "Tidak bisa terus begini! Daripada lari terus, lebih baik kita serang mereka saja," ujar Song Lianyu.
Song Lianyu dan Han Shiyi menyerang para rubah.
Lianyu menarik pedang yang tersangkut di pinggangnya, lalu menyerang rubah berukuran satu meter. Dia meringis ketika seekor rubah menggigit pergelangan tangan kanannya sampai darahnya mengalir keluar. Pakaian yang dia pakai pun robek di beberapa bagian, dua ekor rubah menariknya dan menyeretnya. Rambut dalam keadaan berantakan. Rubah mencakar tangan kirinya, darah merah menyembur keluar.
"Lianyu!" pekik Han Shiyi. Dia melompat melukai kaki bagian depan yang melukai Song Lianyu.
Rubah meraung kesakitan. Song Lianyu menggunakan kesempatan ini untuk menusukkan pedang ke leher rubah yang melukainya itu.
Tak tinggal diam Winter melompat turun dari dalam tas, kucing itu menggigit dengan sekuat tenaga kaki rubah yang ingin melukai majikannya.
Tak akan kubiarkan kau rubah busuk melukai Lianyu-ku, batin Winter. Walau kecil, tapi gigitannya cukup membuat rubah kesakitan. Mulut Winter dipenuhi dengan darah rubah yang digigitnya.