"Murah saja Nona. Harga buku ini dua tael perak Nona," jawab bapak pedagang.
"Apa? Dua tael perak?" ujar Song Lianyu sedikit terkejut.
"Kenapa Nona sampai begitu?" tanya bapak pedagang pada gadis berusia enam belas tahun yang berdiri di hadapannya itu.
"Ah, tidak apa-apa, Pak. Aku jadi membelinya," jawab Song Lianyu sambil mengambil kantong uang yang diselipkan di pinggangnya. Dia kemudian menyerahkan dua tael perak pada bapak pedagang.
"Terima kasih, Nona."
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu aku permisi dulu."
Di dalam kamar asrama dengan semangat Song Lianyu meletakkan tas dan pakaiannya yang sudah kering di atas meja.
Lianyu duduk di meja belajarnya sambil membuka buku yang baru saja dibelinya itu. Dia membaca kalimat demi kalimat yang ada di sana.
Sebelum anda bisa menjadi seorang alkemis. Alkemis adalah orang yang bisa atau ahli dalam membuat pil atau ramuan. Yang dibutuhkan adalah tingkat kultivasi minimal berada di tingkat elite bagian enam. Setelah itu mempunyai bahan-bahan untuk pembuatan pil atau ramuan. Tungku untuk memasak juga hal yang dibutuhkan. Dan juga teknik yang benar, jika semua bahan dan tingkat kultivasi yang cukup saja, sedangkan tekniknya salah maka pil tak bisa dibuat. Beberapa hal yang disebutkan harus dilaksanakan dengan benar dan tepat barulah bisa membuat pil yang Anda inginkan.
"Aduh, duh, ternyata harus sudah berada di tingkat elite bagian enam." Song Lianyu mendesah kecewa.
"Aku masih jauh dari tingkat elite. Yang tingkat general saja belum sampai," ujar Song Lianyu memangku wajahnya.
"Namun aku tak akan menyerah! Karena aku sudah bertekad untuk membuat banyak pil untuk dijual aku pasti akan memenuhi syaratnya," ujar Song Lianyu tetap semangat. Dia berharap dengan nanti adanya toko miliknya sendiri, dia bisa menjamin kehidupannya nanti. Tak mungkin dia selamanya mau seperti ini terus. Dia juga ingin menjadi orang yang terpandang dan dihormati, tak seperti saat ini keluarga tak punya dan uang yang dimiliki sangat sedikit. Untung saja dia bisa tinggal di sekte Bunga Salju, kalau tidak mungkin dia akan tinggal di jalanan.
***
"Lianyu, kau benar-benar ingin pergi ke hutan?" tanya Han Shiyi. Saat mereka berdua berada di taman belakang.
Song Lianyu mengangguk dengan mantap. "Tentu saja, Shiyi. Kau mau ikut tidak? Kalau mau ayo kita pergi bersama, kita bisa menaikkan kultivasi kita," ujar Song Lianyu.