"Masih ada yang lebih mahal lagi, Winter. Pil sempurna, harganya dua puluh lima tael emas," ujar Song Lianyu.
Itu sudah bisa membeli banyak makanan, batin Winter.
"Baiklah, aku akan coba memakannya. Semoga saja tingkat kultivasiku lebih meningkat," ujar Song Lianyu.
***
Gadis itu memasukkan pil hijau ke dalam mulut, lalu mengunyahnya perlahan. Indra pengecapnya merasakan seperti dia sedang makan buah apel. Ternyata pil peningkat kekuatan kultivasi memiliki rasa buah.
Dia lalu memposisikan diri duduk bersila di atas kasur. Dia bisa merasakan tingkat kultivasinya itu sedikit meningkat. Song Lianyu berkonsentrasi untuk menyerap energi dari alam. Dalam waktu enam jam dia sudah naik ke tingkat warrior bagian delapan.
Song Lianyu membuka kedua kelopak matanya. "Woah, tak sia-sia aku membeli pil seharga satu tael emas. Dalam waktu enam jam aku bisa naik ke tingkat delapan!" ujar gadis cantik itu dengan senang.
Song Lianyu berjalan menuju ke halaman belakang asramanya yang diikuti oleh Winter. Lianyu meletakkan pedang kayu di atas tanah. Satu tangan dalam posisi terbuka dan tangan yang lain membentuk mantra. Dia memposisikan lagi tangannya seperti mau menembak ke atas pedangnya. Berhasil pedang kayu bisa melayang sedikit, Lianyu melompat ke atas pedang kayu. Dia belum bisa seimbang dan hampir saja jatuh sampai dia bisa berdiri dengan tegak. Pedang kayu melayang lebih tinggi membawa Song Lianyu terbang.
"Woah, aku akhirnya bisa terbang juga!" ucap Song Lianyu dengan raut wajah yang senang dan gembira.
Semakin lama pedang kayu terbang semakin tinggi.
"Ini kenapa bisa terbang setinggi ini?" tanya Song Lianyu.
Pedang kayu terbang semakin jauh dari sekte Bunga Salju.
Dia ini sebenarnya mau membawaku ke mana? batin Song Lianyu kebingungan.
Song Lianyu melihat ke sekitar yang pemandangannya sangat indah. Ada pohon, ada air terjun, dan juga kawanan burung yang terbang melintas. Dia juga bisa melihat rumah-rumah penduduk yang ada di bawah sana. Embusan angin menerbangkan rambut hitam panjangnya.
Tiba-tiba Song Lianyu kehilangan keseimbangan dan dia meluncur bebas. Dia terjatuh pedang kayu. Song Lianyu menjerit ketakutan.
Hingga akhirnya dia jatuh terjebur ke dalam kolam yang luas. Air kolam terciprat. Pakaian yang dia kenakan otomatis basah begitu juga dengan rambutnya.
"Haduh, pantatku, sakit," ujar Song Lianyu mengaduh kesakitan sambil mengelus pantatnya.
Di sekeliling kolam ada pembatas yang terbuat dari kayu kualitas terbaik dan juga ada ukiran.
Song Lianyu bangkit dari posisi sebelumnya dia berjalan keluar dari dalam kolam. Air dingin kolam membuatnya merasa mandi dua kali. Bedanya kali ini tak sengaja tercebur.
Dia melihat ke sekelilingnya. "Astaga, aku sedang di mana ini?" ujarnya kebingungan.