"Haduh, jadi benda itu jatuh di mana sih? Tak mungkin aku minta dibikinkan lagi? Bagaimana kalau sekte akan meminta uang ganti rugi karena kecerobohan aku? Uang yang aku punya juga sedikit," ujar Song Lianyu. Dia menyalahkan dirinya yang ceroboh.
Tunggu sebentar, apa kotak pilku juga hilang? batin gadis itu yang ingat dengan kotak kayu yang berisi pil mahal.
Bayangkan dengan satu tael emas, Song Lianyu bisa makan daging sapi dalam tiga minggu saking mahalnya harganya itu.
"Oh, syukurlah, kau tidak ikut hilang-hilangan juga," ucap Song Lianyu pada kotak kayu. Dia menyimpannya di dalam lemari.
"Apa mungkin token aku jatuh ketika aku sedang menyanyi di sepanjang jalan tadi ya?" tebaknya lagi. Ah, tidak salah lagi, pasti jatuh di sana.
"Aku akan ke sana sekarang," ujar Song Lianyu.
"Tapi apa mungkin token aku masih ada di sana, bagaimana jika nanti ada orang yang mengambil dan menjualnya? Apalagi bahan token itu yang terbuat dari giok."
"Lalu aku harus bagaimana ya?" Song Lianyu memasang ekpresi berpikir.
"Aah!!! Kenapa aku bodoh sekali!" teriak Song Lianyu sampai membuat Si Winter terbangun dan terkejut.
Lianyu kenapa ya? Apa ada orang yang jahat yang mengganggunya? batin kucing putih itu. Kedua matanya melihat ke kiri dan kanan. Namun tak menemukan orang jahat.
Si Winter berjalan dengan kaki-kakinya yang kecil. Dia berjalan menghampiri sang majikan sambil mengeong. Song Lianyu menoleh menatap hewan peliharaannya itu yang juga tengah menatapnya. "Oh, maafkan aku Winter. Aku frustasi karena token ku hilang," ujar Song Lianyu membawa Winter ke pelukannya.