Suasana hening terjadi beberapa saat setelah Pangeran Yun Yi mengutarakan keinginannya itu.
"Sekte Bunga Salju?" ulang Yang Mulia Kaisar memecahkan keheningan yang menguasai.
Pangeran Yun Yi mengangguk. "Iya, Ayah Kaisar," ujarnya.
"Apa guru-guru di istana tidak cukup untuk mengajarimu Yi'er?" tanya Yang Mulia Kaisar menatap putra pertamanya yang masih dalam posisi berlutut.
Pangeran Yun Yi menatap wajah ayah Kaisar yang juga menatapnya. Untung saja dia sudah menyiapkan jawabannya ketika dalam perjalanan menuju ruang ayah kaisar, sudah dapat dia perkirakan ayah kaisar tak akan langsung menyetujui keinginannya itu. "Bukan begitu ayah kaisar! Yi'er ingin belajar di sekte Bunga Salju karena Yi'er pikir jika belajar di dua tempat yang berbeda maka ilmu yang didapatkan akan lebih banyak."
Putra Mahkota mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Selain itu Yi'er juga bisa menambah pengalaman baru dan juga mendapatkan teman serta pastinya Yi'er tak bosan di sana karena di sana ada banyak murid dari keluarga yang lain," sambungnya kembali.
Serta aku tak perlu diikuti banyak prajurit, seperti tahanan, lanjut putra mahkota dalam hati. Jika mengatakan itu langsung di hadapan ayah kaisar, pasti ayah kaisar akan sangat marah. Bukannya mendapatkan izin nanti malah dihukum satu bulan tak boleh keluar paviliun.
Orang paling nomor satu di Kerajaan tampak sedang memikirkan alasan putra sulungnya itu.
Yi'er benar, dia di dalam istana hanya punya sedikit teman itupun para bawahan. Jika dia tak dimulai dari sekarang berhadapan dengan dunia luar secara lebih dalam, maka bagaimana dia akan nanti menghadapi rakyat Tianqi? batin Yang Mulia Raja Yun Li.
Namun itu berarti keselamatan Yi'er akan terancam? batin Yun Li bimbang. Tentu saja setiap orang tua selepas Yun Li sebagai Kaisar pasti mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya.
Pangeran Yun Yi menunggu dengan cemas dan jantung yang berdebar. Dia berharap agar ayah Kaisar mengizinkannya.
"Kau bantu Yi'er untuk berdiri dulu," ujarnya pada kasim yang berdiri di dekatnya. Kasim membantu putra mahkota untuk berdiri kembali.
Berselang beberapa saat kemudian teriakan kasim dari luar terdengar lagi. Ah, sepertinya kasim itu sangat suka menjerit. "Yang Mulia Permaisuri memasuki ruangan!" teriak kasim kuat.