Mungkin bagi orang biasa mendengar suara sekeras itu akan menyakiti telinga, tapi tidak dengan di dalam Kerajaan. Semua orang sudah terbiasa dengan suara jeritan lantang itu.
"Yuwen Huai, kau tunggulah di luar. Biarlah aku sendiri yang akan masuk ke dalam menemui ayah kaisar," ujar Putra Mahkota pada Yuwen Huai.
"Baiklah, pangeran," jawab Yuwen Huai mengangguk mengiakan.
Di pakaian Pangeran Mahkota tepatnya di pinggangnya tersampir token berwarna kuning keemasan dengan nama Yun Yi.
Yun Yi membungkuk seraya memberikan salam penghormatan. "Semoga Ayah Kaisar panjang umur seribu tahun!" ujarnya.
"Berdirilah!" Pangeran Yun Yi berdiri kembali sambil mengucapkan ucapan terima kasih.
"Katakan Yi'er ada apa menemui ayah kaisar?" tanya Yang Mulia Kaisar pada putra pertamanya itu dengan pandangan bertanya. Terakhir kali putra tertuanya itu menghadapnya karena meminta prajurit yang menjaganya ditiadakan, namun permintaan itu ditolak karena alasan keselamatan Pangeran Yun Yi harus benar-benar dijaga. Apalagi dia adalah penerus Yang Mulia Kaisar. Sebenarnya semua pangeran dan putri juga diberikan sejumlah prajurit penjaga, hanya saja jumlahnya yang paling banyak adalah pangeran mahkota.
Pangeran Mahkota segera berlutut di atas lantai karpet merah. Begitu juga dengan posisi tangannya yang disatukan di depan dad a. "Yi'er, ingin sekolah di sekte Bunga Salju, Ayah Kaisar. Mohon Ayah Kaisar, mengabulkan keinginan mengabulkannya," mohon Yun Yi.