"Salam saya, Yang Mulia Kaisar," ujar kasim sambil membungkuk hormat. Kasim memakai topi hitam.
Kaisar meletakkan kembali gulungan kertas di atas meja kerjanya. Di atas meja kerja ada banyak gulungan kertas dan juga tumpukan dokumen. Menjadi Kaisar itu sanggup pusing kepala.
"Berdirilah kasim," sahut Yang Mulia Kaisar. Kaisar Yun Li adalah orang nomor satu di Kerajaan. Seorang pria dewasa yang memakai pakaian kebesaran kuning keemasan dengan lambang dua ekor naga di hanfunya. Aura keagungan terpancar dari tubuhnya dan juga aura wibawa.
Janda Kaisar(Ibu kandung Kaisar Yun Li) sebelumnya disebut ibu suri. Pangeran Yun Li memanggil ibu suri dengan sebutan nenek kerajaan atau bisa juga dengan sebutan ibu suri juga.
"Ada apa kasim?" tanya Kaisar Yun Li. Pandangan matanya tertuju pada kasim tua yang berdiri tak jauh darinya. Jangan lupakan hiasan rambut yang juga berwarna kuning keemasan cocok sekali dengan pakaian yang pria itu pakai. Walaupun Kaisar sudah tua, dia masih kelihatan gagah perkasa.
"Yang Mulia Kaisar, Pangeran Mahkota ingin bertemu Yang Mulia," lapor kasim dengan sopan. Berani tak sopan pada yang mulia Kaisar? Siap-siap saja kepala terlepas dari tempatnya.
"Persilakan putra mahkota masuk!" ujar yang mulia Kaisar.
"Baik, Yang Mulia Kaisar," jawab kasim, lalu berjalan mundur. Dia memberitahu pada pangeran Yun Yi jika dia diperbolehkan untuk masuk.
"Pangeran Mahkota memasuki ruangan!" teriak kasim yang lebih muda dengan suara yang lantang. Jadi, tugas kasim itu selain memberitahu informasi pada Kaisar juga berteriak seperti pengeras suara.