Kepala mereka memang masih sakit. Tanpa membantah mereka mengangguk. "Baiklah, pangeran," ujar mereka kompak.
Aneh mereka merasa tak memakan sesuatu yang memabukkan, tapi kenapa kepala mereka pusing.
Pangeran Mahkota Yun Yi di belakangnya ada Yuwen Huai. Mereka berjalan menuju ke ruangan pribadi kaisar Yun Li. Semua pelayan dan saudara-saudara yang berpapasan dengannya membungkuk hormat sambil memgucapkan salam penghormatan. Yang dijawab oleh Yun Yi, berdirilah. Di Kerajaan orang dengan status yang lebih rendah harus membungkuk hormat dan mengucapkan salam, ini adalah tradisi yang harus dilakukan jika tidak ingin dihukum.
Setiba di depan pintu ruang pribadi Kaisar (ayah kaisar), berdiri dua orang kasim dan juga banyak prajurit. Ya, tentu saja keselamatan raja sangatlah penting. Jika kaisar terluka akan menimbulkan banyak masalah nantinya.
"Salam saya, pangeran mahkota," ujar dua orang kasim secara bersamaan. Kedua pria berpakaian sama itu kompak membungkuk hormat. Begitu juga dengan para prajurit.
"Berdirilah!" jawab Yun Yi.
"Terima kasih, pangeran," sahut dua kasim. Dan juga para prajurit.
"Apakah ayah kaisar ada di dalam?" tanya putra mahkota melihat dua kasim.
"Ya, pangeran, kaisar ada di dalam. Saya akan memberitahu kaisar terlebih dahulu," ujar kasim yang tampak lebih tua dari kasim yang satunya.
"Baiklah," jawab pangeran Mahkota Yun Yi.
Kasim yang lebih tua mengetuk pintu, setelah ada sahutan dari dalam baru kasim berseragam ungu tua itu berjalan masuk ke dalam. Terlihat kaisar Yun Li sedang duduk di atas kursinya, dan tangannya sedang menggulung kertas.