"Nona muda itu benar-benar membawa berkah untuk tokoku. Kehadirannya selama beberapa hari ini telah membawa banyak pelanggan yang datang berkunjung," ujar pemilik toko Xing, tempat Song Lianyu bekerja.
"Benar sekali, suamiku. Semenjak dia datang bekerja di sini pesanan yang kita dapat bertambah dan juga pelanggan mengatakan jika pakaian yang mereka pesan lebih cepat selesai daripada yang sebelumnya," jawab, istri pemilik toko Xing setuju.
"Darimana kau mendapatkan pegawai itu suamiku? Aku jadi penasaran, kau mendapatkan bibit yang unggul," tanya sang istri dengan menatap wajah suaminya itu.
"Sebenarnya nona muda itu yang datang ke mari untuk mencari pekerjaan, kebetulan di toko kita Xing kekurangan satu pegawai. Jadi, aku menerimanya tanpa memandang umurnya yang kecil," jelasnya.
"Kita beruntung bisa mendapatkannya," sahut istrinya.
***
Jika aku membawa banyak hal indah, kenapa kedua orang tuaku membuangku? batin Song Lianyu saat memberikan dua nampan pakaian kepada bagian pengantaran.
"Lianyu, kau kenapa melamun?" tanya yang lain.
"Oh, tidak apa-apa, kak. Hanya teringat kalau ada pesanan yang lain yang belum selesai," jawab Song Lianyu.
"Oh, soal itu, tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan," jawab gadis yang sama sembari menepuk bahu Lianyu pelan.
"Iya, kak. Aku kembali ke sana dulu ya," pamit Song Lianyu. Dia kembali berjalan menuju ke ruang pembuatan pakaian.
Dindingnya berwarna biru. Dengan beragam bahan-bahan dan alat-alat yang berpakaian dengan menjahit. Di dalam ruang ini juga ada tempat untuk istirahat jika kelelahan setelah pakaian pesanan telah selesai.
"Jie," panggil Song Lianyu dengan tiba-tiba pada Chu Xiao.
Gadis berumur dua puluh dua tahun itu menoleh menatap gadis kecil yang juga menatapnya. "Iya, ada apa, meimei?" tanyanya dengan pandangan bertanya.
"Menurut kakak, apa ada orang tua yang membuang anak kandungnya sendiri?" tanyanya.
"Kenapa bertanya begitu? Setahu jiejie, tak ada ada orang tua yang dengan sengaja membuang darah dagingnya sendiri," jawab Chu Xiao.
"Para orang tua sangat menyayangi putra dan putri mereka. Mereka menyayangi anak-anak lebih dari diri mereka sendiri. Hanya saja kadang orang tua tak bisa memberikan apa yang anak-anak mereka mau karena faktor keadaan seperti faktor tak punya uang atau keadaan yang tak mendukung," jelas jiejie Chu Xiao.
Apakah ayah dan ibuku juga punya alasan untuk membuangku di jalanan? Bahkan memberiku nama saja tidak, batin Song Lianyu sedih, tapi dengan baik dia menyembunyikankannya itu.
Bertahun-tahun yang lalu saat dia berumur sepuluh tahun Song Lianyu hidup di jalan. Sebelum itu dia dirawat oleh seorang nenek tua yang hidup di jalan sampai Lianyu berumur delapan tahun. Masih ingat dia dengan wajah nenek yang baik hati, dia yang memberinya nama dan kasih sayang sampai dia berumur delapan tahun. Sekaligus yang memberinya makan. Song Lianyu tahu bahwa membesarkannya tidaklah mudah. Walaupun dia tak tinggal di tempat yang bagus dan indah, namun dia masih bersyukur. Mereka tinggal di kuil yang sudah tak terpakai. Untuk pakaian pun memakai pakaian yang sederhana. Hingga akhirnya nenek Wu yang baik itu meninggalkannya seorang diri di malam yang sepi. Tak ada upacara yang mewah yang bisa diberikan oleh anak berumur delapan tahun. Oh, ya dia juga punya teman-teman yang senasib dengannya. Mereka yang masih anak-anak itu dengan dibantu seorang pria dewasa yang juga senasib sama membantu menguburkan nenek Wu dan memberikannya patok nama dari kayu.
"Jie, pesanan yang ini kapan ya mau diambil oleh pemiliknya? Soalnya di sini tak ada tanggal pengambilan," ujar Song Lianyu sambil melihat ke arah kertas pesanan. Ah, dia lebih baik tak memikirkan soal itu, lebih baik dia fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu. Jika pekerjaan cepat selesai maka mereka berdua bisa istirahat lebih cepat.
Jiejie Chu Xiao bangkit dari posisi duduknya, menghampiri Song Lianyu. "Oh, ini, biasanya dua hari ke depan dia baru mengambilnya," ujarnya. Dia mengenal pelanggan yang satu ini, dia adalah pelanggan yang tetap di toko Xing.
"Oh, baiklah, kak. Aku akan mengerjakannya sekarang biar cepat selesai," jawab Song Lianyu. Dia mengambil kain mengukur, memotongnya, lalu menjahitnya sampai selesai. Terakhir dia menyulamnya membentuk pola naga. Ya, pakaian ini adalah pesanan seorang tuan muda dari keluarga bangsawan.
"Jie, apa jiejie juga belajar kultivasi?" tanya Song Lianyu.
"Jiejie, juga belajar tapi tak berbakat. Jiejie hanya berada di tingkat dua warrior, karena hal itu jiejie tak belajar lagi ilmu kultivasi. Jiejie hanya fokus untuk bekerja mencari uang yang banyak untuk memenuhi segala kebutuhan," jawab jiejie Chu Xiao.
Ternyata masih beruntung aku yang bisa belajar di sekte bunga salju yang kualitasnya itu bagus, batin Song Lianyu.
Mungkin saja jika jiejie Chu Xiao belajar di sekte bunga salju yang bukunya banyak dan juga tingkat qi yang tebal dan banyak pasti tingkat kultivasi jiejie Chu akan meningkat lebih cepat, pikir gadis cantik itu. Dia suka makan kue osmanthus, dan juga udang digoreng yang dilumuri dengan madu.
Song Lianyu mencoba merasakan qi di sekitarnya. Dia bisa merasakan adanya qi di sini, tapi tak terlalu banyak. Bisa dibilang qi nya tipis. Jika seorang kultivator menyerap energi alam yang tipis, meningkatkan tingkat kultivasinya cukup sulit. Karena semakin tebal dan banyak energi alam yang diserap maka semakin cepat pula naik ke tingkat selanjutnya.
"Ah, akhirnya kita bisa istirahat juga," ujar Song Lianyu. Tangan dan kakinya lumayan pegal karena sudah beberapa pakaian yang dibuat.
Song Lianyu menuangkan dua cangkir air teh untuk dirinya sendiri dan satunya untuk jiejie Chu Xiao. Dia memutuskan untuk bernyanyi untuk menghibur diri.
Lagu bulleye
Raanjhan de yaar bulleya
Sunle pukaar bulleya
Tu hi toh yaar bulleya
Murshid mera, murshid mera
Tera mukaam kamle
Sarhad ke paar bulleya
Parvardigar bulleya
Haafiz tera, murshid mera
Main taan gul se lipti t-tli ki tarah muhajir hoon
Ek pal ko thehroon, pal mein udd jaaun
Ve main tan hoon pagdandi
Labhdi ae jo raah jannat ki
Tu mude jahan main saath mud jaaun
Tere kaarvan mein shamil hona chahun
Kamiya taraash ke main kaabil hona chahun
Ve ki karaan
Ve ki karaan
Raanjhan de yaar bulleya
Sun le pukaar bulleya
Tu hi toh yaar bulleya
Murshid mera, murshid mera
Tera mukaam kamle
Sarhad ke paar bulleya
Parvardigar bulleya
Haafiz tera, murshid mera
Raanjhana ve
Raanjhana ve
Jis din se aashna se do ajnabi huve hain
Tanhaiyon ke lamhe sab multavi huve hain
Kyun aaj main mohabbat
Phir ek baar karna chahun
Haan
Ye dil toh dhoondhta hai inkaar ke bahane
Lekin ye j-sm koi pabandiyan na maane
Milke tujhe, bagaawat khud se hi yaar karna chahun
Mujhme agan hai baaki aazma le
Le kar rahi hoon khud ko main tere hawale
Ve raanjhna
Ve raanjhna
Raanjhan de yaar bulleya
Sunle pukaar bulleya
Tu hi toh yaar bulleya
Murshid mera, murshid mera
Tera mukaam kamle
Sarhad ke paar bulleya
Parvardigar bulleya
Haafiz tera, murshid mera
Murshid mera, murshid mera
Kakak Chu Xiao juga merasa terhibur dengan nyayian Song Lianyu. Dia juga ikut bernyanyi. Sudah lama Chu Xiao tak bernyanyi.
"Suara yang indah, meimei," puji Chu Xiao.
"Terima kasih. Suara kakak juga bagus," jawab Song Lianyu.
"Oh, ya, kak, aku punya ide yang bagus," ujar gadis kecil.
"Katakan rencana apa?" tanya Xiao dengan raut wajah penasaran. Mungkin itu rencana yang menyenangkan.
"Bagaimana jika kita bernyanyi bersama di tengah kota, aku kemaren bernyanyi dan diberi banyak uang oleh warga di sana. Apa kakak setuju dengan itu?" tanya Song Lianyu.
Chu Xiao tampak sedang berpikir. "Boleh saja, tapi kakak jangan bernyanyi, kakak main alat musik saja," tawarnya.
"Boleh kak, tapi aku tak punya alat musik kak," jawab gadis cantik dengan rambutnya yang dikepang satu. Yang di ujungnya diikat pakai tali merah muda.
"Soal itu kita akan pinjam saja atau mungkin sewa saja dengan orang," balas Chu Xiao. Itu adalah ide yang bagus, semoga saja mereka nanti bisa mendapatkan uang yang banyak, batinnya dengan harapan penuh.