"Tidak. Ini adalah kartu untuk nona. Nona isi nama nona," ujar wanita pelayan berambut merah kecoklatan itu sembari memberi sebuah kartu berhentuk segi empat yang terbuat dari kertas dengan logo bulan perak.
Song Lianyu menerima kartu itu dan mengisinya dengan nama aslinya.
"Nona, setiap kali nona ke toko bulan perak ini, nona akan mendapatkan satu stempel, jika semua stempel telah penuh, nona akan mendapatkan dua pil secara gratis," jelasnya.
Banyak sekali bonus di toko bulan perak ini. Tak heran jika pelanggannya banyak, batin Song Lianyu menyimpulkan.
"Kak, pil yang warnanya merah ini fungsinya untuk apa?" tanya Song Lianyu. Dia baru pertama kali ini melihat pil-pil, maklum saja jika dia tak tahu. Saat dia tinggal di kota Ban Hua dia tak pernah ke toko pil atau toko yang berkaitan dengan kultivasi. Karena gadis itu tak punya waktu untuk ke sana, dia sibuk bekerja dan juga membuat sulaman untuk menambah uangnya yang sangat sedikit. Di malam harinya dia belajar kultivasi.
"Oh, iya, kakak lupa memberitahu mu nama pil ini, pil ini berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tubuh kita misalnya nih saat kita sedang terluka akibat bertarung melawan musuh, kita bisa langsung memakan pil ini. Pil ini keefektifannya sebanyak lima puluh persen. Jadi, jika memakan dua butir pil keefektifannya mencapai seratus persen," jelasnya yang di dengarkan dengan baik oleh Lianyu.
"Artinya pil ini sangat berharga ya, kak," ujarnya.
Untung saja ada uang pemberian dua orang tuan muda yang baik hati itu. Dia baik sekali, mana tampan dan juga banyak uang. Pasti hidupnya bahagia tidak seperti aku ini, yang harus kerja keras dulu baru bisa hidup enak, batin Song Lianyu mengasihani nya nasibnya itu.
Jangankan dikelilingi kekayaan, nama ayah dan ibunya pun dia tak tahu, apalagi kedua wajah orang tuanya yang telah membuatnya hadir di dunia ini, dia sama sekali tak tahu. Apakah wajah sang ayah jelek atau setampan pemuda tadi? Atau mungkin sang ibu yang cantik seperti tuan putri atau mungkin seperti seorang nona muda?
Song Lianyu mengambil kantong uang yang tersampir di pinggangnya. Dia membuka kantong sembari mengambil satu tael emas lalu memberikannya pada kakak pelayan. "Kak, ini uangnya," ujarnya.
Song Lianyu menyimpan kotak kayu ke dalam pakaian hanfunya itu.
"Kak, aku permisi. Lain kali aku akan datang kemari lagi!" pamit Song Lianyu. Saat dia melangkah keluar dari pintu toko bulan perak, dia melihat sekilas ada dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan berjalan masuk ke dalam toko.
Pakaiannya benar-benar bagus, pasti nona dan tuan muda dari keluarga bangsawan, batin Song Lianyu.
Bahkan gadis itu bisa mendengar suara uang yang ada di dalam kantong uang yang dilemparkan rendah oleh laki-laki yang masih muda itu. Suara uang memang punya suara yang khas, batin Lianyu.
Song Lianyu mempercepat langkahnya menuju ke tempat kerjanya yaitu toko Xing. Dia bisa melihat saat berjalan lewat ada beberapa wanita dan juga pria yang sedang diukur badannya.
"Tampaknya hari ini banyak pelanggan yang datang," ujar Song Lianyu pelan.
Dia segera menuju ke ruangan bagian pembuatan pakaian. Di dalam dia melihat kakak Chu Xiao yang sedang mengukur kain hijau.
"Selamat siang, jie. Maaf aku sedikit terlambat," ujarnya dengan raut wajah bersalah.
"Oh, selamat siang juga, meimei. Tak apa, ayo bantu jiejie mengukurnya," sahut Chu Xiao tidak marah. Karena dia sudah tahu jika Song Lianyu masih sekolah di sekte bunga salju dan dia juga bilang jika dia ingin beli pil.
Song Lianyu segera bergerak membantu jiejie Chu Xiao.
"Meimei, kau sudah mendapatkan barang yang kau inginkan itu?" tanya Chu Xiao perhatian. Mereka sambil mengobrol sembari mengukur kain.
"Sudah," jawab Song Lianyu singkat.
"Tolong ambilkan kain yang warna ungu di kotak sana," pinta Chu Xiao. Song Lianyu segera berjalan mengambil sepotong kain ungu yang dimaksud jiejie.
"Hitunglah ukurannya. Dan ini kertas pesanannya. Oh, ya hari ini kita mendapatkan banyak pelanggan yang baru. Kurasa semua ini berkat meimei," tambahnya.
"Jiejie, bisa aja," sahut Song Lianyu dengan senyuman di wajahnya.
"Mereka mengatakan jika mereka mendapat kabar dari keluarga mereka kalau pakaian yang mereka pesan sangatlah indah dan menawan. Oleh karena itu keluarga yang lain ikut tertarik untuk membuat pakaian di sini," jawab Chu Xiao. Dia ikut senang dengan keberadaan gadis kecil yang imut dan manis itu di sini. Selain sebagai teman ngobrol juga sebagai teman kerja. Bicara dengan Song Lianyu enak dan juga nyaman.
Dia gadis yang rendah hati. Aku yakin pasti banyak laki-laki yang menyukainya, batin Chu Xiao dengan yakin.
"Aku sangat senang mendengarnya jie, mereka menyukai pakaian buatan kita," balas Song Lianyu dengan wajah yang berbinar-binar cerah. Salah satu hal yang indah ketika orang lain menyukai pakaian buatan kita. Itu seperti ribuan bunga-bunga yang mekar secara bersamaan. Begitu juga dengan sebaliknya jika orang tak menyukai pakaian buatan kita, itu membuat kita sedih.
"Cepat sekali meimei selesai mengukur pakaiannya," puji Chu Xiao. Pasalnya dia belum selesai mengukur kainnya, sedangkan Chu Xiao sudah selesai mengukur kainnya. Sekarang gadis kecil yang belum berumur tujuh belas tahun itu, duduk di mesin jahit, dia sedang menjahit pakaian.