Kedua pemuda yang memberikan masing-masing satu tael emas dan dua tael emas. Satunya pangeran negara Tianqi dan satunya tuan muda dari keluarga Yan. Mereka saat ini mampir di salah satu rumah makan. Oh, mereka juga sedang menyamar, maksudnya tidak menunjukkan identitas asli mereka. Yun Yi seperti seorang tuan muda keluarga bangsawan.
"Pangeran, apakah kau tertarik pada gadis kecil itu?" tanya Yan Xun pada pangeran yang berdiri di sebelahnya.
"Aku? Kenapa? Apakah Tuan Muda Yan juga tertarik?" Pangeran Yun Yi malah balik bertanya menatap lawan bicaranya itu.
Yan Xun tersenyum saja sebagai jawaban. "Sepertinya begitu, Pangeran," jawab pria yang berstatus sebagai pewaris keluarga Yan. Dari keluarga cabang pertama. Di keluarga Yan ada tiga kepala keluarga, mereka sebenarnya adalah tiga putra dari Yan. Yan memiliki tiga orang istri. Sehingga sekarang menjadi tiga cabang keluarga. Kalau posisi kedudukannya yang paling tinggi tentu keluarga cabang satu, yang diikuti keluarga cabang kedua, dan terakhir keluarga cabang ketiga yang paling rendah.
Kedua teman sejak masih muda itu sedang berjalan-jalan di tengah kota untuk bermain. Tak disangka mereka berdua mendapatkan hiburan yang begitu menyenangkan, seorang gadis kecil yang cantik dengan tanpa beban dan juga dengan riang bernyanyi di sepanjang jalan. Tanpa sadar bahwa gadis kecil itu telah menarik perhatian banyak orang. Orang-orang itu sampai mengikuti langkah kakinya.
Sebenarnya ketika Yan Xun dan Yun Yi mendengar suara itu, mereka pikir ada seorang gadis yang sedang bernyanyi. Rupanya seorang gadis kecil yang diketahui bernama Lianyu yang bernyanyi. Gerakannya yang lucu dan memikat membuat semua orang merasa terhibur. Namun sayang sekali dia hanya memainkan dua lagu saja.
Yun Yi masih ingat wajah polos gadis kecil itu saat banyak orang yang memberikan pundi-pundi uang. Gadis kecil itu menatap bingung karena banyak orang mengerubunginya.
Yun Yi mengambil sebuah token berwarna biru dengan lambang khas sekte bunga salju dari dalam pakaian hanfunya. Ukiran bunga salju di sisi kanan dan kirinya, serta terukir nama gadis kecil itu Song Lianyu.
"Dia adalah murid sekte Bunga Salju," ujar Yun Yi sambil menatap token biru tersebut.
"Jangan bilang jika pangeran...? Ingin mendaftar di sana?" tebak Tuan Muda Yan dengan suara yang kecil. Tak ingin yang lain ikut mendengarnya. Dia adalah cucu pertama di keluarga Yan. Keluarga Yan merupakan salah satu keluarga yang terpandang di negara Tianqi.
"Dua pelanggan, ini makanan yang dipesan," ujar seorang pelayan yang membawa nampan berisi dua mangkuk ayam dan juga nasi. Beserta teko dan cangkirnya. Pakaian yang dipakai oleh pelayan itu merupakan pakaian yang seragam. Semua pelayan memakai pakaian yang sama. Dan juga ada ciri khas yang lainnya, untuk perempuan memakai jepit rambut yang seragam.
Pelayan itu meletakkan dua mangkuk di hadapan kedua laki-laki muda yang sama-sama tampan. Rambut mereka tertata dengan rapi. Dia juga meletakkan teko beserta cangkirnya juga di atas meja tepatnya di bagian tengah.
Aroma masakan menguar di udara membuat keduanya bisa mencium aroma yang nikmat.
"Kedua tamu, silakan dinikmati makanannya," pamit si laki-laki pelayan itu, kemudian membungkuk lalu pergi meninggalkan keduanya. Dia kembali ke dapur untuk mengantarkan pesanan tamu yang lain.
Keadaan rumah makan ini cukup ramai oleh pengunjung, ada yang membawa keluarga mereka, ada pula yang makan sendirian, ada pula yang bersama teman maupun pasangan. Mereka makan sambil bicara terkadang canda dan tawa juga ikut terdengar.
Pangeran Yun Yi sedang memotong daging ayam menjadi lebih kecil. Kemudian menyumpitkannya ke dalam mulut. Dia mengunyahnya pelan. "Masakan yang enak, tak kalah dengan masakan di is-maksudku di rumah," ujarnya.
"Tentu saja, rumah makan ini merupakan salah satu tempat yang sering aku kunjungi karena masakannnya yang enak dan nikmat. Dan juga harganya yang terjangkau," sahut Tuan Muda Yan Xun.
Pangeran Yun Yi sebenarnya lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam istana untuk belajar ilmu pedang, bela diri, kultivasi, dan juga belajar menjadi raja yang baik nantinya. Dia adalah putra pertama raja Yun Li. Dia memiliki dua orang adik perempuan sekandung dan banyak saudara laki-laki dan saudara perempuan tak seibu yang artinya berasal dari selir-selir raja. Sebagai pangeran mahkota dia merasa hidupnya itu seperti hidup di sarang emas. Sarangnya sangat berharga dan mahal, tapi dia merasa tak bebas. Hidup seperti kedua kaki dan kedua tangannya diikat rantai. Ada banyak orang yang mengawasinya. Ayah kaisar terlalu ketat padanya.
Setiap kali dia berjalan di dalam istana ada tiga puluh prajurit yang berjalan di belakangnya, itu benar-benar menyebalkan, pikir Pangeran Yun Yi.
Mungkin banyak orang yang menginginkan posisi pangeran mahkota yang sangat dihormati oleh rakyat dan keluarga bangsawan, namun jika boleh jujur dia ingin terlahir sebagai putra dari orang biasa saja, dia tak ingin banyak larangan.
Dia jadi teringat dengan gadis kecil yang sepertinya berasal dari keluarga biasa, dia iri dengannya.
Hidup gadis kecil itu pasti sangat menyenangkan dan bebas, batin Pangeran Yun Yi.
"Apa yang kau lamunkan?" tegur Tuan Muda Yan Xun.
"Tak apa," jawab Pangeran Yun Yi.
Mungkin dengan aku menjadi murid di sekte Bunga Salju, ayah kaisar tak terlalu ketat padaku dengan mengirimkan banyak prajurit kerajaan, pikir Pangeran Yun Yi.
Selain itu juga ayah kaisar pasti percaya dengan sekte bunga salju, pikirnya lagi. Seutas senyuman harapan muncul di bibirnya.
Aku juga bisa bertemu dengan gadis kecil itu, tambahnya dalam hati.
Pangeran Yun Yi bisa keluar istana untuk jalan-jalan ini bukan karena diberi izin oleh ayah kaisar, dia menyelinap kabur dari paviliunnya setelah menyalakan dupa yang dicampurkan dengan serbuk tidur sehingga semua prajurit dan juga pelayan jatuh tertidur.
"Kita harus pergi sekarang, sebelum mereka semua menyadarinya," ujarnya dengan pelan.
Setelah membayar semua pesanan, mereka berdua pergi menuju ke istana. Tuan Muda Yun Xun pamit untuk pulang. Pangeran Yun Yi dengan lihai bersembunyi di balik pilar-pilar saat prajurit yang berpatroli lewat. Sehingga akhirnya dia berhasil masuk ke dalam paviliunnya sebelum semua prajurit dan semua pelayan bangun. Jika ketahuan dia pergi tanpa izin, maka ayah kaisar pasti akan memberinya hukuman tidak boleh keluar kediaman selama satu minggu. Dan itu pasti sangat menyebalkan. Satu lagi yang membuat Pangeran Yun Yi enggan untuk keluar dengan banyak prajurit, karena itu membuat warga terutama para gadis bangsawan menjadi heboh dengan kedatangannya itu.
"Pangeran, syukurlah anda telah kembali," ujar Yuwen Huai(bawahan pangeran Yun Yi).