"Saya yakin nona pasti suatu saat pasti akan memiliki uang yang cukup untuk membeli pil tingkat sempurna." Wanita itu entah kenapa jadi teringat dengan adik perempuannya yang berada di rumah. Umurnya mungkin saja sama, batinnya.
"Nona berapa usiamu sekarang?" tanyanya dengan melihat Song Lianyu.
"Umurku enam belas tahun, kak. Kenapa memangnya? Apakah minum pil juga ada batasan umur?" tanyanya.
Wanita berambut merah kecoklatan itu sontak tertawa karena penuturan lucu gadis kecil itu. "Tidak, tentu saja tidak ada. Pil ini bisa dikonsumsi oleh siapa pun," jawabnya.
"Minumnya pun bisa memakai apa saja bisa pakai air putih, air teh, ataupun air sus u juga boleh. Pokoknya bebas sama nona sendiri, sukanya memakai apa," sambungnya.
Dia menyodorkan satu kotak kayu pada Lianyu. Lianyu membuka kotak kayu kecil itu, dia terkejut karena di dalam juga ada pil yang lain, padahal dia hanya membeli satu pil saja.
"Kak, kenapa di dalamnya ada empat tambahan pil yang lain padahal aku tidak membelinya," tutur Song Lianyu dengan jujur.
"Kau adalah gadis yang baik. Empat butir yang lain diberikan padamu karena kau baru pertama kali datang berkunjung ke toko bulan perak ini. Anggap saja sebagai hadiah pertemuan pertama," jelasnya.
"Apakah toko tidak akan rugi karena memberikan ini secara gratis?" tanya Lianyu dengan heran. Dia bukannya tak bersyukur diberi hadiah pertemuan oleh toko bulan perak, hanya saja dia bingung soal itu.