Winter adalah seekor kucing budidaya. Dia terlahir dari telur berwarna putih. Kucing budidaya berbeda dengan kucing biasa. Kucing biasa dilahirkan dengan cara beranak, sedangkan kucing budidaya terlahir dari telur.
Kucing budidaya harus berkultivasi selama seratus tahun agar bisa menjadi seorang manusia. Bisa juga dia mencapai tahap kultivasi yang lebih cepat. Winter adalah kucing betina, yang dalam wujud manusia adalah seorang gadis. Winter saat ini tidak tidur, dia sedang berkultivasi agar bisa bertemu dengan gadis kecil yang baik hati yang telah merawat dan memberinya makan. Dia masih ingat pertama kali pertemuannya dengan gadis kecil yang cantik itu. Lianyu tanpa ragu membawanya padahal tubuhnya kotor karena berada di tempat sampah dan tumpukan barang-barang bekas. Lianyu memberikannya sepotong roti isi daging yang sangat lezat, kebetulan saat itu perutnya sangat kelaparan, bahkan dia sendiri bisa mendengar suara perutnya itu.
Ada banyak orang yang melihatnya sekilas dan tak ada satupun dari mereka yang mengasihaninya. Bahkan orang-orang itu berkata winter adalah kucing yang kotor dan tak boleh disentuh. Sejujurnya saat dia melihat ada seorang gadis kecil yang melihatnya dia berpikir gadis itu tak akan menolongnya, rupanya gadis itu sangatlah baik.
Sejak saat itu dia memutuskan untuk mengikuti gadis kecil itu. Wajahnya yang cantik cocok dengan hatinya.
Winter memfokuskan untuk menyerap energi spiritual yang ada dari alam. Kucing putih memejamkan matanya.
***
Di malam hari yang tenang dan damai, Long Feiye berada di atas kursi meja belajarnya. Di dekatnya ada semangkuk makanan ringan kue osmanthus pemberian dari pamannya.
Tiba-tiba cincin berbatu hijau menyala. Untung saja Bai Quan sudah tidur di atas ranjangnya karena kelelahan memancing ikan.
Long Feiye tertarik ke dalam ruang guru An. Terlihat laki-laki dewasa itu sedang menikmati teh hijaunya.
"Guru An," sapa Long Feiye dengan sedikit membungkuk.
"Duduklah di ranjang. Guru akan melanjutkan sesi pengobatanmu," ujar guru Fang An. Long Feiye berjalan, lalu memposisikan diri di atas ranjang.
Fang An menancapkan satu per satu jarum perak ke dalam kulit murid satu-satunya itu. "Apa yang kau makan hari ini Feiye?" tanya Fang An dengan tiba-tiba.
"Tak ada yang special guru," ujar Long Feiye dengan heran. Kenapa gurunya itu menanyakan apa yang dimakannya hari ini.
"Apa yang baru saja kau makan?" tanyanya lagi.
"Kue osmanthus guru An. Ada apa ya guru?" tanyanya dengan ekpresi heran.
"Setelah sesi pengobatanmu bawakan guru kue yang kau maksud itu," ujarnya.
"Baik, guru," jawab Long Feiye patuh. Walaupun dia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh gurunya itu. Apakah gurunya juga menyukai kue osmanthus? Apakah guru An sedang ingin makan kue? Atau mungkin. ada kenangan di balik kue osmanthus? Entahlah, Long Feiye tak tahu. Dia juga tak berani menebak daripada salah nantinya.
Sesi pengobatan Long Feiye telah selesai. Dia juga sudah membersihkan dirinya. Rasanya sama seperti yang kemaren, tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
Feiye mengambil semangkuk kue osmanthus lalu membawanya ke hadapan guru An.
Guru An mengambil satu kue osmanthus, dia mengambil jarum yang lain, kemudian menusukkannya ke dalam kue osmanthus.
"Tak salah lagi," ujarnya ambigu. Long Feiye tambah bingung dengan perkataan gurunya itu.
Akhirnya dia membuka suaranya. "Guru, sebenarnya ada apa?" tanya Feiye.
"Siapa yang memberikanmu kue ini?" Fang An menatap anak didiknya itu.
"Kue ini dari paman kedua ku, guru," jawab Long Feiye.
"Apakah dia sering memberimu makanan atau minuman?" tanya Fang An.
Long Feiye mengangguk. "Iya, guru, hanya paman kedua yang sayang padaku. Dia yang perhatian padaku. Dia selalu memberiku sekotak makanan tiap dua kali dalam seminggu," ujarnya dengan senyuman di wajahnya.
"Ke depannya Feiye tak boleh memakan apapun pemberian dari paman keduamu itu." Suara guru terdengar seperti perintah.
"Baiklah guru," jawab Long Feiye dengan patuh. Dalam hati dia bertanya apa yang salah dengan makanan yang diberikan paman kedua. Makanan yang dia berikan semuanya enak dan juga segar. Terkadang dia juga memberikan makanan itu pada teman-temannya.
Long Feiye diperbolehkan untuk kembali ke kamar asrama.
Di tempatnya guru Fang An, menusukkan satu per satu jarum ke dalam kue osmanthus. Oh, jangan pikir dia pengen makan kue osmanthus atau juga hal yang lain. Dia saat memeriksa denyut nadi anak didiknya, dia merasakan cairan racun di dalam aliran darahnya sedikit bertambah dari hari sebelumnya maka karena itulah dia bertanya.
"Dugaanku tak salah, di dalam kue osmanthus ini dicampurkan racun dalam jumlah yang sangat sedikit. Bahkan orang-orang tak akan menyadari jika di dalamnya ada racun."
Racun ini sifatnya menumpuk di dalam aliran darah, menghambat dantian dan kultivasi.
"Racun ini yang membuat anak didikku tak bisa berkultivasi selama ini," ujar Fang An.
"Anak itu pasti sangat kecewa mengetahui paman yang diduganya adalah orang baik, ternyata dialah penyebab dia tak bisa berkultivasi sehingga dianggap semua orang sebagai orang yang tak berguna." Fang An merasa kasihan pada muridnya itu, sudah bertahun-tahun racun ini berada di dalam tubuhnya. Dan orang-orang tak mengetahuinya.
"Tunggu sebentar lagi Feiye. Kau pasti akan bisa berkultivasi, yakinlah pada gurumu ini," ujar Fang An.