Song Lianyu mengangguk.
"Di sini tertulis pelanggan memesan pakaian yang terbuat dari kain sutra berwarna biru. Di sini juga ada ukuran panjang dan lebarnya. Oh, ya, meimei, sebelum pesanan ini dibuat, setiap pelanggan baru akan diukur tubuhnya dari mulai ukuran pinggang, paha, dad a, lebar bahu, panjang lengan, panjang bahu, dan juga ukuran tinggi badan." Chu Xiao mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kerjaan mengukur ukuran tubuh ini adalah tugas kita meimei. Mulai sekarang kita bisa gantian melakukannya, tentu saja setelah latihan terlebih dahulu," sambungnya.
"Oke, baiklah. Kali ini kita mendapatkan pelanggan seorang anak perempuan, sepertinya aku kenal dengan marga ini. Di sini tertulis anak ini meminta warna oranye. Meimei kau bisa membacanya terlebih dahulu berapa ukuran tubuhnya." Song Lianyu mengambil kertas yang disodorkan padanya, dia kemudian membacanya dengan telaten. Sebenarnya dia sudah mengerti soal ini, tapi tak apalah dia belajar lagi dari awal. Mungkin saja ada perbedaan antara tempat dia bekerja yang lama dengan tempat kerja yang baru. Lianyu juga tak ingin dianggap sok tahu, apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja di toko Xing.
"Pertama-tama kita ambil dulu kain sutranya, lalu setelah itu kita ukur memakai penggaris sesuai dengan ukuran yang tertera. Oh, ya, meimei jangan lupa tambahkan satu centimeter karena 'kan nanti pakaiannya akan dijahit. Kalau tidak kita tambahkan satu centimeter nanti ukurannya tidak pas, dan pastinya pelanggan akan kecewa."
"Kalau pelanggan kecewa, mereka ke depannya pasti tidak akan buat pakaian baru di sini," lanjutnya.
Song Lianyu mengangguk mengerti. Dia kemudian memperhatikan jiejie Chu Xiao yang sedang mengukur kain menggunakan benda panjang yang tipis yang terbuat dari kayu, di atasnya ada angka-angka yang berurutan. Gadis penyuka warna merah muda itu memperhatikan dengan baik.
"Cobalah meimei," ujar Chu Xiao, memberikan penggaris pada Song Lianyu dan juga kain sutra oranye. Kain sutra merupakan kain dengan kualitas yang sangat baik, bahannya lembut dan nyaman di kulit dan tidak panas ketika memakainya. Hanya orang-orang yang punya banyak uang yang bisa memiliki pakaian seperti ini. Dan Lianyu berharap bisa punya uang yang lebih untuk membuat pakaian seperti ini.
"Bagus sekali, meimei melakukannya dengan sangat baik," puji Chu Xiao dengan tulus.
Dan sesi pembuatan pakaian pun terus berlanjut sampai sore.
"Wah, meimei kau cepat sekali menyelesaikan bentuk sulamannya itu," puji Chu Xiao. Dia kagum pada anak gadis yang baru berumur enam belas tahun itu, yang kemampuan dalam membuat pakaian dari pemotongan sampai penyulaman sangat baik bahkan mengalahkan dirinya sendiri, yang nyatanya umurnya lebih tua dari Song Lianyu. Sangat jarang orang punya kemampuan seperti yang dimiliki meimei Lianyu.
"Tidak juga, jie," ujar Song Lianyu dengan senyuman di wajahnya. Sejak kecil memang Lianyu sudah bermain dengan yang namanya sulam-menyulam. Dan itu merupakan salah satu bakat yang dia miliki.
Dalam hati Chu Xiao bertanya, kenapa gadis muda secantik Song Lianyu, mau bekerja di tempat seperti ini? Kalau dilihat dari wajah dan bentuk tubuhnya, seharusnya dia adalah nona muda dari keluarga yang berkelas. Ah, dia ingin bertanya, tapi takut menyakiti hati gadis kecil itu. Untuk Chu Xiao sendiri, dia berasal dari keluarga yang miskin, dia bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Dia juga punya impian bisa mendapatkan pendidikan seperti anak gadis yang lain.
"Jie, apakah sudah lama bekerja di sini?" tanya Lianyu tiba-tiba.
"Terhitung sudah dua tahun lebih," ujar Chu Xiao.
"Itu sudah lama sekali, jie," balas Song Lianyu.
***