Aku akhirnya bisa mencicil membayar utangku pada Shiyi juga, batin Song Lianyu merasa senang. Yang namanya utang harus tetap dibayar, dia tak mau tersangkut di utang. Apalagi menumpuk utang yang banyak di orang lain. Walaupun Shiyi tak pernah menagih soal uang yang dipinjamnya itu.
"Nona, mari ikut aku ke ruang yang ada di sana," ajak wanita yang lebih tua dari Song Lianyu.
"Baiklah," jawab Lianyu mengangguk mengiyakan.
Lianyu menatap ke sekitar, mereka melewati ruang-ruang pembuatan pakaian, ada yang sedang memberikan pewarna pada kain yang sudah ditenun. Ada pula dua orang pegawai yang sedang menjemur kain-kain beragam warna di jemuran. Ada banyak pegawai wanita yang sedang menenun benang menjadi kain. Cara memintal benangnya masih memakai cara yang tradisional, kaki bergerak dan tangan dengan telaten menyusun benang sesuai warna dan apa yang dikehendaki.
"Nona, sudah sampai," ujar wanita itu yang menyadarkan jika mereka telah sampai di ruangan yang dituju.
Keduanya tiba di depan ruangan bagian penyulaman, pembuatan pakaian. Di sini kainnya sudah siap untuk dijadikan pakaian. Semua kain sudah ditata berdasarkan warna tingkatannya. Terlihat ada satu orang wanita yang sedang memotong kain sesuai dengan ukuran yang telah ditandainya. Melihat ada dua orang tamu, dia menghentikan sejenak pekerjaannya itu.
"Xiao, aku membawa pegawai baru. Mulai sekarang dia akan bekerja sama denganmu," ujar wanita itu sambil memperkenalkan Song Lianyu.
Keduanya saling menyapa. Wanita yang diketahui bernama Xiao itu tersenyum, lalu mempersilakan Lianyu untuk duduk di tempat mesin jahit yang kosong.
"Nona Song, mulai sekarang jiejie Xiao yang akan mengajarimu apa saja yang harus dilakukan," ujarnya.
"Baiklah," jawab Lianyu mengangguk mengerti.
"Kalau begitu aku tinggal dulu, ya. Aku kembali ke sana," pamitnya, lalu meninggalkan Chu Xiao bersama dengan Song Lianyu.
"Perkenalkan namaku Chu Xiao, kau bisa panggil aku dengan sebutan jiejie Chu atau bisa juga jiejie Xiao supaya kita bisa lebih akrab," ujar Chu Xiao dengan sikap yang ramah.
Dia adalah orang yang baik, ujar Song Lianyu dalam. Itu adalah kesan pertama dia bertemu dengan Chu Xiao.
"Baiklah, jie Xiao. Namaku Song Lianyu, jiejie bisa panggil aku Lianyu," sapa gadis itu balik dengan ramah juga. Kan sudah dikatakannya bukan, jika orang baik padanya, dia juga akan bersikap baik, walaupun itu adalah orang yang baru kenal atau orang yang tak kenal sekali pun.
"Aku panggil kau dengan sebutan meimei bagaimana? Apakah setuju?" tanya Chu Xiao. Dia harus menanyakan pada pemiliknya terlebih dahulu.
"Tentu saja boleh jie," balas Song Lianyu setuju. Ekpresi wajahnya tampak cerah.
"Baiklah, kita mulai sesi latihannya. Latihan biasanya membutuhkan waktu selama dua atau tiga hari, tapi semua itu tergantung dengan kecepatan meimei dalam belajar." Song Lianyu mendengarkan penjelasan dengan baik seperti sikap murid pada sang guru.
Chu Xiao memberitahu kotak letak-letak kain yang siap digunakan untuk dibuat pakaian. Kemudian berlanjut mengenalkan nama alat-alat yang ada di dalam ruangan.
"Yang ini namanya mesin jahit. Mesin jahit ini bisa digunakan untuk membuat pola sulaman dan menjahit pakaian. Ini adalah bagian untuk mengisi benangnya kalau benangnya habis," jelas Chu Xiao.
Gadis yang bernama Chu Xiao mengambil selembar kertas kuning, lalu menunjukkannya pada Song Lianyu."Meimei, di sini semuanya adalah ukuran pakaian yang dipesan dan juga berapa jumlah yang dipinta, serta waktu pengambilan pakaian," jelas Chu Xiao.